Jumat, 02 Oktober 2026
23:37 WIB
TERKINI
Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri

Sardi

penata musik asal Indonesia

Bagikan:
Sardi
LahirDesember 1910
Meninggal21 Oktober 1953(1953-10-21) (umur 42)
Jakarta, Indonesia
Pasangan menikahHadidjah
AnakIdris Sardi
Keluarga

Mas Sardi (Desember 1910 – 21 Oktober 1953) adalah komponis dan musisi Indonesia yang dikenal sebagai pengarah musik profesional pertama di negara ini. Ia bersama istrinya, Hadidjah, adalah orang tua musisi pemenang Piala Citra, Idris Sardi.[1]

Biografi

Sardi lahir di Yogyakarta, Hindia Belanda, bulan Desember 1910. Ia bersekolah di sebuah Lagere School dan belajar biola bersama ayahnya, ketua Norma Orchestra di keraton Sultan Hamengkubuwono VII. Sardi kemudian dikirim untuk belajar bersama orang lain, dua di antaranya adalah Gernando dan Jonocy. Jonocy adalah ketua orkestra yang sering pentas di balai masyarakat setempat. Sardi bermain untuk Jonocy, lalu keluar untuk keliling Jawa Tengah bersama Kunstkring. Ia kadang memimpin orkestra tersebut di keraton Sultan jika ayahnya sedang berhalangan.[2][1]

Pada tahun 1936, Sardi pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan grup Faroka yang anggotanya meliputi Roekiah dan suaminya, Kartolo. Ia pindah ke Sweet Java Opera tahun 1937.[2] Tahun 1939, ia menikahi Hadidjah dan dikaruniai seorang putra, Idris.[3] Pada tahun itu juga ia diminta The Teng Chun dari Java Industrial Film untuk menjadi pengarah musik di perusahaannya. Sardi menerima tawaran tersebut dan menjadi pengarah musik profesional pertama di Hindia Belanda.[2] Sementara itu, Hadidjah bekerja sebagai aktris.[3]

Sebagai pengarah musik, Sardi mengawali kariernya di film Alang-Alang (1939).[2] Hadidjah membintangi film ini bersama Mohamad Mochtar untuk menyaingi pasangan super Roekiah dan Rd Mochtar yang bekerja di Tan's Film.[4] Alang-Alang sukses besar di Hindia Belanda dan Malaya Britania. Sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran menyebut kesuksesannya sebagai salah satu penyebab bangkitnya industri film dalam negeri pada tahun 1940.[5] Selama dua tahun berikutnya, Sardi menggubah musik untuk beberapa film JIF, termasuk Rentjong Atjeh, Srigala Item, dan Matula.[2]

Jepang menduduki Hindia Belanda pada bulan Maret 1942 dan membubarkan semua studio film kecuali satu. Java Industrial Film ikut dibubarkan.[6] Sepanjang tiga tahun masa pendudukan ini, Sardi bekerja di radio Jepang. Tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada akhir tahun itu, pemerintah kolonial Belanda datang kembali dan menduduki ibu kota Jakarta. Sardi menolak bekerja untuk Belanda dan memutuskan bermain sambil mengumpulkan tip di restoran, bar, dan acara pernikahan.[2]

Setelah pemerintah Republik merebut kembali ibu kota, Sardi bekerja lagi di radio di bawah kepemimpinan Sjaiful Bachri. Ia meninggal dunia di Jakarta tanggal 21 Oktober 1953 pada usia 42 tahun, meninggalkan istri dan putranya.[2] Hadidjah masih terlibat di beberapa film sebelum meninggal dunia tahun 2013,[7] sedangkan Idris memenangkan Piala Citra atas musik film gubahannya.[8][1]

Filmografi

Sardi menjadi pengarah musik di tujuh film:

Referensi

  1. 1 2 3 "Mas Sardi". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2026-02-02.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 Biran 1979, hlm. 322.
  3. 1 2 Apa Siapa 1999, hlm. 206.
  4. ↑ Biran 2009, hlm. 181.
  5. ↑ Biran 2009, hlm. 181–82.
  6. ↑ Biran 2009, hlm. 319, 322.
  7. ↑ Filmindonesia.or.id, Filmografi.
  8. ↑ Biran 1979, hlm. 223.

Sumber

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan