Minggu, 18 Oktober 2026
08:48 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Martuasame

Julukan

Bagikan:

Martuasame merupakan julukan atau gelar lain si Raja Naipospos. Dalam silsilah Batak, Naipospos adalah nenek moyang pemersatu marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun Lumbanbatu, Marbun Banjarnahor, dan Marbun Lumbangaol.[1]

Asal mula nama Martuasame

Secara etimologi, Martuasame berasal dari dua kata dalam bahasa Batak, yakni: martua yang artinya bahagia dan same yang artinya bibit padi. Menurut legenda, di awal kehidupan keluarga si Raja Naipospos dengan istri pertamanya boru Pasaribu sulit mendapatkan keturunan. Suatu waktu, ketika masa bercocok tanam adik istri pertama datang turut membantu. Dilatarbelakangi belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun terdorong berhubungan dengan adik istri pertamanya tersebut. Oleh karena telah mengambil dua istri kakak-beradik boru Pasaribu saat masa kegiatan marsame (bercocok tanam bibit padi) sehingga beroleh kebahagiaan berkat keturunan yang dinanti selama ini maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.[2]

Dalam perjalanan sejarah, sepeninggal si Raja Naipospos, keturunannya melakukan ritual penghormatan untuk arwah sang nenek moyang. Pada zaman dahulu, ada tradisi dalam masyarakat Batak bahwa bagi seorang tokoh yang dianggap penting dan menjadi pemersatu akan dipestakan dengan berbagai ritual setelah meninggal dunia. Raja Naipospos sebagai tokoh penting pemersatu keturunan Naipospos, setelah meninggal dunia dipestakan (dihorjahon) sebanyak tujuh kali. Pesta meriah (horja) tujuh kali ini menjadi ungkapan penghormatan tertinggi kepada leluhur Naipospos untuk menjadikannya sebagai sombaon, tingkatan roh tertinggi nenek moyang yang patut disembah dan dipuja. Hal ini jelas terekam hingga kini menjadi nama sebuah tempat keramat Sombaon Same di Sipoholon, dekat pemandian air panas (aek rangat) Riaria atau Sibau. Sang nenek moyang yaitu si Raja Naipospos yang memiliki julukan Martuasame diyakini telah menjadi sesembahan (sombaon) yakni Sombaon Same.[3]

Silsilah Naipospos

Artikel utama: Naipospos

Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putra dari 2 (dua) orang istri sama-sama boru Pasaribu. Istri pertama lebih dahulu melahirkan putra yakni Donda Hopol (Sibagariang), lalu istri kedua melahirkan putra yakni Marbun, selanjutnya tiga putra lagi lahir dari istri pertama yakni Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), dan Jamita Mangaraja (Situmeang) sebagai putra yang terakhir terlahir.[4]

Tradisi di kebanyakan daerah di Tanah Batak, selalu mengurutkan keturunan dari istri pertama lalu istri kedua dalam penulisan silsilah (tarombo) apabila seseorang memiliki keturunan dari beberapa istri. Berikut ini bagan silsilah keturunan Raja Naipospos sesuai dengan penuturan para tetua dan tokoh adat marga-marga keturunan Naipospos yang bermukim di daerah Dolok Imun, Hutaraja, dan Sipoholon sebagai sentral Naipospos.[5]

Raja
Naipospos

Sibagariang
Hutauruk
Simanungkalit
Situmeang
Marbun
Lumban Batu
Banjar Nahor
Lumban Gaol

Nama asli Toga Sipoholon

Artikel utama: Toga Sipoholon

Menurut versi lain silsilah Naipospos menyebutkan bahwa si Raja Naipospos memiliki 2 (dua) putra yang dilahirkan oleh 2 (dua) istri. Istri kedua boru Pasaribu lebih dahulu melahirkan putra yang dinamai Marbun, kemudian istri pertama boru Pasaribu melahirkan putra yang dinamai Martuasame yang selanjutnya disebut Toga Sipoholon. Marbun kemudian memiliki 3 (tiga) orang putra, yakni: Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol. Sedangkan Sipoholon memiliki 4 (empat) orang putra, yakni: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang.[6]

Dalam beberapa literatur yang beredar menyebutkan bahwa Martuasame adalah nama lain Toga Sipoholon.[7]

Para tetua dan tokoh adat Naipospos secara khusus yang bermukim di Sipoholon, Tapanuli Utara, tidak setuju akan tulisan tersebut. Tidak pernahnya keturunan Naipospos memakai marga Sipoholon maupun marga Martuasame menjadi salah satu alasan utama para tetua menolak nama Martuasame (Toga Sipoholon) dituliskan sebagai putra si Raja Naipospos. Bagi para tetua Naipospos menganggap Sipoholon hanyalah sebagai nama daerah dan bukan nama nenek moyang sedangkan Martuasame adalah julukan untuk Raja Naipospos.

Penyebutan Martuasame sebagai Toga Sipoholon ini menjadi kisah yang cukup banyak menuai perdebatan di kalangan marga-marga Naipospos hingga kini.[8]

Referensi

page1-250px-Tarombo_dohot_Turiturian_ni_si_Raja_Naipospos.pdf.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Referensi Tarombo Naipospos
  1. ↑ "Tarombo dohot Turiturian ni si Raja Naipospos" (PDF). buku tulisan Haran Sibagariang pada tahun 1953, mantan Kepala Negeri Hutaraja (dalam bahasa Batak).{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ↑ "Martuasame adalah julukan (goar tulut) Naipospos". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang.
  3. ↑ "Sombaon Same". HUTAURUK BONA, tulisan Leopold Parulian Sibagariang.
  4. ↑ "Si Raja Naipospos". BUKU SAKU MARGA BATAK, tulisan Doangsa P. L. Situmeang tahun 2009.
  5. ↑ "Kisah Raja Naipospos dan Keturunannya". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang.
  6. ↑ "SILSILAH NAIPOSPOS : Pomparan ni Raja Lumban Gaol". lumbangaol.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-10-19.
  7. ↑ Hutagalung, W. M. (1991). PUSTAHA BATAK, Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak. Tulus Jaya.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ "Toga Sipoholon bukanlah putera Naipospos". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan