Rabu, 28 Oktober 2026
06:16 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Mambruk selatan

Mambruk selatan

spesies burung pengicau

Bagikan:
Mambruk Selatan
250px-Vogelpark_Olching_11.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Goura scheepmakeri
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
G. scheepmakeri
Nama binomial
Goura scheepmakeri
Finsch, 1876
250px-Scheepmaker%27s_Crowned_Pigeon.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah penyebaran Mambruk Mahkota Selatan
Artikel takson sembarang

Mambruk selatan (Goura scheepmakeri) adalah sejenis Mambruk (Dara Mahkota) atau merpati darat besar yang menghuni dataran rendah bagian selatan Pulau Papua. Burung ini memiliki bulu berwarna biru-keabu-abuan dengan jambul rumit seperti renda biru, iris mata berwarna merah, dan bulu dada berwarna merah marun gelap. Baik jantan maupun betina memiliki penampilan yang sama. Burung ini berukuran rata-rata panjang 70 cm (28 in) dan berat 2,250 grams (5 lbs).[2]

Terdapat dua subspesies dari Mambruk selatan, dibedakan berdasarkan warna bulu bahu dan perut. Goura scheepmakeri sclateri di wilayah barat daya pulau Papua dengan bahu merah marun dan perut biru-abu-abu, dan ras Goura scheepmakeri scheepmakeri di pulau Papua tenggara dengan bahu biru-abu-abu dan bagian bawah merah marun. Burung ini juga terlihat mirip dengan kerabatnya Mambruk victoria, dan Mambruk ubiaat.

250px-GouraScheepmakeriFinsch.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi karyaOtto Finsch (1875)

Spesies ini pertama kali ditemukan dunia ilmiah oleh Otto Finsch yang menemukan dua burung hidup dari pedagang satwa langka C. Scheepmaker di kebun binatang Amsterdam Zoo dan dinamakan berdasarkan dia.[3]

Karena burung ini jinak dan sering kali diburu untuk daging dan bulunya yang indah, burung ini dikategorikan ke dalam rentan dalam daftar spesies terancam IUCN Red List. Burung ini dimasukan dalam daftar Appendix II CITES.

250px-Mambruk_selatan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Referensi

  1. ↑ "Goura scheepmakeri". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2013.2. International Union for Conservation of Nature. 2012. Diakses tanggal 26 November 2013. {{cite web}}: |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |last-author-amp=; Parameter tidak dikenal |authors= diabaikanPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "A Guide to the Pigeons and Doves of the World" by David Gibbs, Eustace Barnes & John Cox. Yale University Press (2001), ISBN 0-300-07886-2.
  3. ↑ Finsch, Otto (1875). "On a new species of crown-pigeon". Proceedings of the Zoological Society of London: 631–633.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan