Sabtu, 17 Oktober 2026
21:43 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Mae La

Mae La

Kamp pengungsi di Thailand

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Maret 2016)
250px-Mae_La_refugee_camp2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kamp Pengungsian Mae La
Kamp Pengungsian in Tak Province, ThailandTemplat:SHORTDESC:Kamp Pengungsian in Tak Province, Thailand
Mae La
Country Thailand
ProvinsiTak Province
AmphoeKecamatan Tha Song Yang
Luas
 • Total2,4 km2 (9 sq mi)
Populasi46.133
Zona waktuUTC+7 (UTC+7)

Mae La merupakan sebuah kamp pengungsian di Thailand. Didirikan pada tahun 1984 di Kecamatan Tha Song Yang, Provinsi Tak di daerah Dawna dan saat ini memiliki 50.000 pengungsi, dengan pendatang setiap minggu dari Myanmar. Mae La adalah kamp pengungsi terbesar yang berasal dari Myanmar di Thailand.[1] Lebih dari 90% etnis adalah etnis Karen.[2]

Kamp awalnya didirikan setelah jatuhnya basis Perserikatan Nasional Karen di desa Mae La di perbatasan pada tahun 1984 dengan populasi 1.100. Tak lama setelah itu, karena masalah keamanan, Kamp dipindahkan ke tempat yang mana Zona C saat ini terletak. Setelah kejatuhan Manerplaw pada Januari 1995, sejumlah kamp diserang dalam serangan lintas-perbatasan dan pemerintah Thailand mulai mengkonsolidasikan kamp-kamp untuk meningkatkan keamanan dan Mae La ditunjuk sebagai kamp konsolidasi utama di kawasan tersebut.[2]

Pada tahun 1995, Mae La meningkat dengan besar dari 6.969 ke 13.195 pengungsi karena penutupan lima kamp di utara, yaitu Mae Ta Waw, Mae Salit, Mae Plu Jadi, Kler Kho dan Kamaw Lay Kho - dan bergerak dari Huay Heng kemudian di bulan Oktober pada tahun yang sama. Selama tahun berikutnya, kamp dua kali lipat bertambah hingga 26.629 pengungsi. Pada tahun 1997, beberapa orang telah dipindahkan ke kamp Mae La setelah penutupan Kamp Huai tulang dan bertambah lagi pada tahun 1998 ketika Kamp Shoklo ditutup.[2]

Mae La dianggap sebagai pusat penelitian bagi para pengungsi, sehingga populasi saat ini termasuk beberapa ribu siswa yang datang untuk belajar di kamp (beberapa dari kamp-kamp lain tapi kebanyakan dari Myanmar). Mereka terdaftar sebagai hanya penduduk sementara. Kamp diserang pada tahun 1997 oleh pasukan DKBA dengan dukungan dari unit Tentara Myanmar. Tidak ada serangan sejak saat itu, tetapi mortir datang di A5 pada Maret tahun 1998. Setiap musim kemarau, daerah ini cukup tegang dengan berkaitan keamanan kamp dan ancaman serangan bersenjata serta adanya upaya untuk membakar kamp pengungsian.[2]

Wilayah Karen berada berlawanan dengan Kamp Mae La yang sangat pedesaan tanpa permukiman yang besar atau infrastruktur. Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) mempertahankan Brigade Markas ke-7 didekatnya, dan ada beberapa pos-pos Tentara Myanmar dan Tentara Demokrat Buddha Karen di kawasan tersebut (DKBA adalah faksi dari KNLA yang memisahkan diri dan bergabung dengan Tentara Myanmar Pada tahun 1994).[2]

Referensi

  1. ↑ "TBBC, Camps - Populations". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-08-09. Diakses tanggal 2016-01-16.
  2. 1 2 3 4 5 UNHCR Thailand and Japan’s Pilot Resettlement Program Diarsipkan 2012-03-28 di Wayback Machine 16 Januari 2016
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan