Rabu, 07 Oktober 2026
10:18 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan
Kerajaan Lore

Kerajaan Lore

Bagikan:
Kerajaan Lore
1903
Bendera Lore
Bendera
Wilayah zelfbestuur di Sulawesi Tengah, termasuk Lore, 1941.
Wilayah zelfbestuur di Sulawesi Tengah, termasuk Lore, 1941.
Ibu kotaTidak diketahui
Bahasa umumBada, Besoa, Napu, dan Sedoa
Agama Kepercayaan tradisional dan Kekristenan
PemerintahanKerajaan
Raja (Magau) 
• 1903–tidak diketahui
Ngkai S. Kabo
Sejarah 
• Pemerintahan Hindia Belanda berhasil memadamkan pemberontakan masyarakat To Lore, lembah-lembah di wilayah tersebut disatukan di bawah pimpinan seorang raja[1]
1903
Didahului olehDigantikan oleh
krjKerajaan
Bada
krjKerajaan
Besoa
krjKerajaan
Napu
Kabupaten Poso

Kerajaan Lore adalah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Awalanya para penguasa di kerajaan ini menganut kepercayaan tradisional, tetapi kemudian secara bertahap beralih ke Kekristenan pada abad ke-19 hingga abad ke-20, di mana masuknya pemerintahan Hindia Belanda dan misionaris Eropa memainkan peran yang penting di wilayah tersebut.[2]

Sejarah

Sebelum berdirinya Kerajaan Lore di wilayah Kabupaten Poso saat ini, dipercayai telah berdiri terlebih dulu Kerajaan Raba. Nama Raba diartikan sebagai 'tanah yang turun ke bawah' atau secara harfiah dapat diartikan sebagai 'wilayah yang membentuk suatu lembah yang terdapat di wilayah Pekurehua'. Menurut cerita rakyat, pusat kerajaan Raba berada di Lamba. Raja pertama dari Kerajaan Raba bernama Raba dengan istrinya yang bernama Waba.

Kerajaan Raba berganti nama menjadi Kerajaan Pekurehua, hingga kemudian menjadi Kerajaan Lore. Pasca Raja Raba yang berkedudukan di Lamba, tidak diketahui bagaimana struktur kerajaan tersebut pada saat itu. Namun, menurut masyarakat Lore, pada akhir abad ke-19, terdapat beberapa bangsawan berpengaruh yang tersebar di beberapa desa, diantaranya Ngkai Abu (Umana Aso) di desa Habingka, Ngkai Sumpi di desa Watutau, dan Ngkai Rabeta (Umana Tosende). Cerita mengenai Raja Lore dimulai ketika putra Ngkai Abu yang bernama Pantula menikah dengan putri Ngkai Rabeta yang bernama Poindo, kemudian dari pasangan tersebut melahirkan lima orang anak, yakni:

  • Tado (Umana Lolo), ditawan Belanda dan diasingkan ke Manado (laki-laki)
  • Inana Ngela (perempuan)
  • Inana Do'u (perempuan)
  • Polite (perempuan)
  • Makada, gugur dalam Perang Peore pada Juli 1907 (laki-laki)

Ketika Umana Lolo ditawan Belanda dan belum diketahui keberadaannya pada saat itu, dan ketika Makada, putra terakhir meninggal dalam Perang Peore, maka hanya terdapat tiga anak perempuan, salah satunya adalah Polite yang kemudian dikenal sebagai ibu dari Ngkai S. Kabo yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Raja Lore.[3]

Tempat berdirinya Kerajaan Lore berada di daratan dengan ketinggian antara 700–1.700 mdpl, wilayahnya terbagi menjadi Lembah Napu, Lembah Behoa, dan Lembah Bada. Ketiga wilayah tersebut dikenal dengan nama kolektif sebagai "Tanah Lore". Di wilayah tersebut banyak terdapat situs megalit yang merupakan peninggalan purbakala bernilai sejarah. Penduduk wilayah tersebut dikenal dengan sebutan To Lore 'orang Lore', terkadang disebut juga sebagai Pekurehua di wilayah utara (Teluk Palu). Dari ketiga wilayah tersebut, terdapat empat kelompok etnis yang berbeda secara linguistik, diantaranya suku Tawailia di Sedoa (Lore Utara), suku Napu di Lembah Napu (Lore Utara), suku Behoa (Lore Tengah), dan suku Bada (Lore Selatan).

Setelah beberapa abad lamanya Tanah Lore berada di bawah pemerintahan Kerajaan Sigi yang berpusat di wilayah Teluk Palu. Namun sejak masa masuknya pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1903, untuk mempersatukan ketiga wilayah lembah yang sudah memiliki pemerintahan masing-masing tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengangkat seorang raja di bawah pengaruh Belanda.[1] Pada saat itu, ketiga wilayah lembah mulai memisahkan diri dengan membentuk Kerajaan Lore yang berpusat di Wanga, dipimpin oleh raja pertamanya, Ngkai S. Kabo, beserta istrinya yang bernama Mpolite. Sejak itu, secara adminstrasif, wilayah Kerajaan Lore dimasukkan dalam Onderafdeling Poso.[4]

Daftar penguasa

250px-Don_R.G._Kabo_-_Raja_Lore.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Don Radius Gerald Kabo, 2017.

Berikut ini adalah daftar penguasa Kerajaan Lore yang bergelar sebagai Raja atau Magau.

  • Ngkai S. Kabo (1903–tidak diketahui; diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Raja Lore)[1]
  • Don Radius Gerald Kabo (tidak diketahui)

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 Masyhuda, Masyhuddin; Nainggolan, Nurhayati; Mahmud, Zohra; Laintagoa, Daeng Patiro (1982). Leiriasa, R.Z.; Soenjata, M.; Palada, Idham (ed.). Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Tengah (PDF). Jakarta, Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  2. ↑ Pradewi A., Agung L., &, Kurniawan D. A. (2019). "Peran Zending Dalam Pendidikan Di Surakarta Tahun 1910-1942 dan Relevansinya Dengan Materi Sejarah Pendidikan". Jurnal Candi. 10 (2): 154–172. ISSN 2086-2717.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  3. ↑ Kruyt, Albertus Christiaan (2008). Keluar dari Agama Suku Masuk ke Agama Kristen. ISBN 9796873370. Diakses tanggal 9 Desember 2016.{{cite book}}: |website= diabaikan
  4. ↑ A.B., Jamrin (3 Juli 2023). Rifay (ed.). "Sepenggal Kisah Negeri Seribu Megalit". media.alkhairaat.id. Al-Khairaat. Diakses tanggal 19 Februari 2025.
Gorontalo
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Balinggi · Banawa · Banggai · Bungku · Buol · Dolo · Kulawi · Lore · Mori · Moutong · Palu · Pamona · Parigi · Poso · Raba · Sigi · Tawaeli · Tojo · Toli-Toli · Una-Una
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Alitta · Bangkala · Berru · Binamu · Bone · Bontoa · Bulo-Bulo · Gantarang · Gowa · Lamatti · Lau · Luwu · Marusu · Nepo · Putabangun · Raya · Sidenreng · Simbang · Soppeng · Soppeng Riaja · Suppa · Tallo · Tanete · Tanralili · Tondong · Turikale · Wajo
Sulawesi Tenggara
Bungku · Buton · Mekongga · Konawe · Muna
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan