Kerajaan Bintauna | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1675–1950 | |||||||||
| Ibu kota | Pimpi | ||||||||
| Bahasa umum | Melayu, Bintauna, Mongondow, Gorontalo | ||||||||
| Agama | Kepercayaan lokal, Islam (dominan sejak abad ke-18) | ||||||||
| Pemerintahan | Monarki | ||||||||
| Raja (Dotu) | |||||||||
• 1675–1720 | Paduka Morete'o | ||||||||
• 1783–? | Patilima Datunsolang | ||||||||
• Abad ke-20 | Muhammad Datunsolang | ||||||||
• s.d. 1950 | Mohamad Toraju Datunsolang | ||||||||
| Era Sejarah | Era kolonial | ||||||||
• Pendirian | 1675 | ||||||||
• Integrasi penuh ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia | 1950 | ||||||||
| |||||||||
| Sekarang bagian dari | |||||||||
Kerajaan Bintauna (atau dalam sebutan lokal kuno disebut Vintauna) adalah salah satu monarki tradisional bercorak Islam yang pernah berdiri di wilayah pesisir utara Sulawesi, Indonesia.[1] Pusat pemerintahan eks-kerajaan ini sekarang secara geopolitik menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.[2]
Asal-usul etimologi nama Bintauna secara legendaris berasal dari frasa bahasa setempat "bintang ona-ona" yang merujuk pada tuntunan sebuah bintang penunjuk arah ketika sekelompok masyarakat membuka pemukiman baru di hulu Sungai Huntuk.[3] Kerajaan ini dipimpin oleh trah keturunan marga Datunsolang (berasal dari nama raja mereka, Dotu Solagu atau Patilima Datunsolang) hingga berakhirnya kekuasaan monarki pada tahun 1950.[1]
Sejarah
Pendirian
Sebelum berdiri mandiri sebagai sebuah kerajaan berdaulat, wilayah Bintauna berada di bawah naungan pengaruh administrasi kekuasaan federasi Limo Lo Pohala'a, khususnya di bawah administrasi Marsaoleh-schap (wilayah setingkat kadipaten bawahan) dari Kerajaan Suwawa (Bone).[4] Pada tahun 1675, kelompok masyarakat lokal memisahkan diri dan mengangkat Paduka Morete'o sebagai raja pertama yang memimpin entitas baru ini hingga tahun 1720 di wilayah Ra'a Minanga.[5]
Dalam dinamika hubungannya dengan kerajaan besar tetangga, Kerajaan Bintauna kerap terlibat sengketa batas wilayah dengan Kerajaan Bolaang Mongondow.[6] Pada tahun 1795, melalui proses diplomasi ketat yang dimediasi oleh pihak VOC, penguasa Bintauna sepakat menyerahkan hak klaim tambang emas di wilayah Gambuta dan wilayah hilir Sungai Sangkub kepada pihak Bolaang Mongondow demi menghindari eskalasi perang terbuka.[6]
Pengaruh kolonial dan keruntuhan
Sejak pertengahan abad ke-18, struktur politik Bintauna menjalin hubungan perkawinan serta persekutuan erat dengan Kesultanan Ternate.[7] Ketika Raja Patilima Datunsolang dilantik menjadi penguasa Bintauna pada tahun 1783 di Ternate, pihak kesultanan menghadiahkan seperangkat alat musik tradisional kulintango yang kelak menjadi simbol adat paling sakral bagi keluarga besar istana.[7]
Pusat kedudukan istana (disebut komalig) tercatat mengalami beberapa kali perpindahan demi kelancaran jalur logistik dagang pantai, berturut-turut dari Panayo, Ra'a Minanga, Bintauna Pante, hingga terakhir di Pimpi sejak tahun 1914.[3] Pada masa kolonialisme lanjut pemerintah Hindia Belanda, Bintauna dikelompokkan ke dalam pembagian administratif Onderafdeeling Bolaang Mongondow dengan status tanah swapraja (landschap) mandiri berukuran kecil bersama Kaidipang dan Bolaang Itang.[8]
Eksistensi kerajaan ini resmi berakhir menyusul pembubaran sistem monarki lokal secara serentak di wilayah Sulawesi Utara pada tahun 1950, tepat setelah raja kesembilan mereka, Mohamad Toraju Datunsolang, meletakkan takhta kekuasaannya demi berintegrasi penuh ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.[5][4] Struktur fisik bangunan utama Istana Komalig Pimpi sendiri kemudian rata dengan tanah setelah dibakar habis selama meletusnya pergolakan militer PRRI/Permesta pada akhir dekade 1950-an.[3]
Lihat juga
Referensi
- 1 2 "Sejarah Kerajaan Bintauna dan Susunan Nama Raja". Waktu News. 2020-10-27. Diakses tanggal 2026-09-12.
- ↑ "Sejarah Pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara". JDIH Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. 2025-05-23. Diakses tanggal 2026-09-12.
- 1 2 3 "Awal Mula Berdirinya Nama Kerajaan Bintauna". Waktu News. 2020-11-16. Diakses tanggal 2026-09-12.
- 1 2 "Sejarah dan Budaya Kecamatan Bintauna". Scribd. 2021-12-15. Diakses tanggal 2026-09-12.
- 1 2 Prasetyadi, Kristian Oka (2021-12-22). "Menelisik Jejak Raja-raja Bintauna di Bolaang Mongondow Utara". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-09-12.
- 1 2 "Catatan Historis Hari Jadi Bolaang Uki Ke-175: Konflik Lahan Sangkub dan Gambuta". Bolmong News. 2024-10-24. Diakses tanggal 2026-09-12.
- 1 2 Prasetyadi, Kristian Oka (2021-12-11). "Menabuh Kulintango, Menyelamatkan Bintauna". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-09-12.
- ↑ "Islamic Politics And Nationalism In North Sulawesi (1920-1945)". Academia.edu. 2023-03-15. Diakses tanggal 2026-09-12.
Daftar pustaka
- Dunnebier, W. (1949). Over de Vorsten van Bolaang Mongondow. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
- Riedel, J.G.F. (1870). Het Landschap Bintauna. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.