Minggu, 01 November 2026
18:03 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Kerajaan Bintauna

Bagikan:
Kerajaan Bintauna
1675–1950
Ibu kotaPimpi
Bahasa umumMelayu, Bintauna, Mongondow, Gorontalo
Agama Kepercayaan lokal, Islam (dominan sejak abad ke-18)
PemerintahanMonarki
Raja (Dotu) 
• 1675–1720
Paduka Morete'o
• 1783–?
Patilima Datunsolang
• Abad ke-20
Muhammad Datunsolang
• s.d. 1950
Mohamad Toraju Datunsolang
Era SejarahEra kolonial
• Pendirian
1675
• Integrasi penuh ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
1950
Didahului olehDigantikan oleh
krjKerajaan
Suwawa
Sulawesi Utara
Sekarang bagian dari Indonesia

Kerajaan Bintauna (atau dalam sebutan lokal kuno disebut Vintauna) adalah salah satu monarki tradisional bercorak Islam yang pernah berdiri di wilayah pesisir utara Sulawesi, Indonesia.[1] Pusat pemerintahan eks-kerajaan ini sekarang secara geopolitik menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.[2]

Asal-usul etimologi nama Bintauna secara legendaris berasal dari frasa bahasa setempat "bintang ona-ona" yang merujuk pada tuntunan sebuah bintang penunjuk arah ketika sekelompok masyarakat membuka pemukiman baru di hulu Sungai Huntuk.[3] Kerajaan ini dipimpin oleh trah keturunan marga Datunsolang (berasal dari nama raja mereka, Dotu Solagu atau Patilima Datunsolang) hingga berakhirnya kekuasaan monarki pada tahun 1950.[1]

Sejarah

Pendirian

Sebelum berdiri mandiri sebagai sebuah kerajaan berdaulat, wilayah Bintauna berada di bawah naungan pengaruh administrasi kekuasaan federasi Limo Lo Pohala'a, khususnya di bawah administrasi Marsaoleh-schap (wilayah setingkat kadipaten bawahan) dari Kerajaan Suwawa (Bone).[4] Pada tahun 1675, kelompok masyarakat lokal memisahkan diri dan mengangkat Paduka Morete'o sebagai raja pertama yang memimpin entitas baru ini hingga tahun 1720 di wilayah Ra'a Minanga.[5]

Dalam dinamika hubungannya dengan kerajaan besar tetangga, Kerajaan Bintauna kerap terlibat sengketa batas wilayah dengan Kerajaan Bolaang Mongondow.[6] Pada tahun 1795, melalui proses diplomasi ketat yang dimediasi oleh pihak VOC, penguasa Bintauna sepakat menyerahkan hak klaim tambang emas di wilayah Gambuta dan wilayah hilir Sungai Sangkub kepada pihak Bolaang Mongondow demi menghindari eskalasi perang terbuka.[6]

Pengaruh kolonial dan keruntuhan

Sejak pertengahan abad ke-18, struktur politik Bintauna menjalin hubungan perkawinan serta persekutuan erat dengan Kesultanan Ternate.[7] Ketika Raja Patilima Datunsolang dilantik menjadi penguasa Bintauna pada tahun 1783 di Ternate, pihak kesultanan menghadiahkan seperangkat alat musik tradisional kulintango yang kelak menjadi simbol adat paling sakral bagi keluarga besar istana.[7]

Pusat kedudukan istana (disebut komalig) tercatat mengalami beberapa kali perpindahan demi kelancaran jalur logistik dagang pantai, berturut-turut dari Panayo, Ra'a Minanga, Bintauna Pante, hingga terakhir di Pimpi sejak tahun 1914.[3] Pada masa kolonialisme lanjut pemerintah Hindia Belanda, Bintauna dikelompokkan ke dalam pembagian administratif Onderafdeeling Bolaang Mongondow dengan status tanah swapraja (landschap) mandiri berukuran kecil bersama Kaidipang dan Bolaang Itang.[8]

Eksistensi kerajaan ini resmi berakhir menyusul pembubaran sistem monarki lokal secara serentak di wilayah Sulawesi Utara pada tahun 1950, tepat setelah raja kesembilan mereka, Mohamad Toraju Datunsolang, meletakkan takhta kekuasaannya demi berintegrasi penuh ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.[5][4] Struktur fisik bangunan utama Istana Komalig Pimpi sendiri kemudian rata dengan tanah setelah dibakar habis selama meletusnya pergolakan militer PRRI/Permesta pada akhir dekade 1950-an.[3]

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 "Sejarah Kerajaan Bintauna dan Susunan Nama Raja". Waktu News. 2020-10-27. Diakses tanggal 2026-09-12.
  2. ↑ "Sejarah Pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara". JDIH Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. 2025-05-23. Diakses tanggal 2026-09-12.
  3. 1 2 3 "Awal Mula Berdirinya Nama Kerajaan Bintauna". Waktu News. 2020-11-16. Diakses tanggal 2026-09-12.
  4. 1 2 "Sejarah dan Budaya Kecamatan Bintauna". Scribd. 2021-12-15. Diakses tanggal 2026-09-12.
  5. 1 2 Prasetyadi, Kristian Oka (2021-12-22). "Menelisik Jejak Raja-raja Bintauna di Bolaang Mongondow Utara". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-09-12.
  6. 1 2 "Catatan Historis Hari Jadi Bolaang Uki Ke-175: Konflik Lahan Sangkub dan Gambuta". Bolmong News. 2024-10-24. Diakses tanggal 2026-09-12.
  7. 1 2 Prasetyadi, Kristian Oka (2021-12-11). "Menabuh Kulintango, Menyelamatkan Bintauna". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-09-12.
  8. ↑ "Islamic Politics And Nationalism In North Sulawesi (1920-1945)". Academia.edu. 2023-03-15. Diakses tanggal 2026-09-12.

Daftar pustaka

  • Dunnebier, W. (1949). Over de Vorsten van Bolaang Mongondow. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
  • Riedel, J.G.F. (1870). Het Landschap Bintauna. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan