Selasa, 22 September 2026
02:30 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Lim Chong Eu

Lim Chong Eu

Lim Chong Eu
250px-Gerakan_celebrate_after_1969_election.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lim Chong Eu (bagian kiri, sedang menggendong) bersama dengan Syed Hussein Alatas (digendong) saat kemenangan Parti Gerakan Rakyat Malaysia dalam pemilihan umum Malaysia 1969.
Ketua Menteri Penangke-2
Masa jabatan
1969–1990
PendahuluTan Sri Wong Pow Nee
PenggantiTan Sri Dr Koh Tsu Koon
Presiden Ikatan Tionghoa Malaysia ke-2
Masa jabatan
Maret 1958 –Juli 1959
PendahuluTun Tan Cheng Lock
PenggantiDr. Cheah Toon Lok (sementara)
Presiden Parti Gerakan Rakyat Malaysia ke-2
Masa jabatan
1969–1980
PendahuluProfesor Syed Hussein Alatas
PenggantiTun Dr Lim Keng Yaik
Informasi pribadi
Lahir28 Mei 1919
Meninggal24 November 2010(2010-11-24) (umur 91)
Partai politikGerakan (1962-1990)
ITM (1949-1962)
PekerjaanDokter medis
Politisi

Tun Dato' Seri Dr. Lim Chong Eu (;28 Mei 1919 – 24 November 2010)[1] adalah seorang politisi Malaysia yang menjabat sebagai Ketua Menteri Penang kedua selama 21 tahun. Beliau juga merupakan salah satu pengasas Parti Gerakan Rakyat Malaysia (GERAKAN) bersama dengan V. Veerapan, Syed Hussain Alatas, Dr. Tan Chee Khoon, Dr. J.B.A. Peter, dan Profesor Wang Gungwu.

Beliau dikenal karena kebijakan yang lebih pro-Cina dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin lain pada waktu itu. Lim Chong Eu berusaha untuk meningkatkan kedudukan bahasa Cina dalam sistem pendidikan dan dalam kehidupan resmi. Salah satu usulan kontroversial yang dia kemukakan adalah untuk menjadikan bahasa Cina sebagai salah satu bahasa resmi negara, bersaing dengan bahasa Melayu, yang merupakan bahasa kebangsaan Malaysia. Namun, usulan ini mendapat tentangan hebat dari Tunku Abdul Rahman dan banyak pemimpin Melayu yang khawatir itu akan mengancam perpaduan nasional serta dominasi bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Pada masa itu, Malaysia sedang dalam proses membangun identitas nasional yang berbasis pada konsep "satu bangsa, satu bahasa", dengan bahasa Melayu sebagai elemen penting dalam perpaduan antar suku.[2][3][4]

Kontroversi

Dasar Pro-Cina

Beliau dikenal karena kebijakan yang lebih pro-Cina dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin lain pada waktu itu. Salah satu isu yang menarik perhatian adalah pendiriannya mengenai bahasa Cina.

Lim Chong Eu berusaha untuk meningkatkan kedudukan bahasa Cina dalam sistem pendidikan dan dalam kehidupan resmi. Salah satu usulan kontroversial yang dia kemukakan adalah untuk menjadikan bahasa Cina sebagai salah satu bahasa resmi negara, bersaing dengan bahasa Melayu, yang merupakan bahasa kebangsaan Malaysia. Beliau percaya bahwa masyarakat Cina di Malaysia berhak mendapat pengakuan yang lebih dalam aspek bahasa dan budaya mereka, yang mencakup penggunaan bahasa Cina dalam sistem pendidikan dan di tingkat pemerintahan.

Namun, usulan ini mendapat tentangan hebat dari Tunku Abdul Rahman dan banyak pemimpin Melayu yang khawatir hal ini akan mengancam perpaduan nasional serta dominasi bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Pada waktu itu, Malaysia sedang dalam proses membangun identitas nasional yang berbasis pada konsep "satu bangsa, satu bahasa", dengan bahasa Melayu sebagai elemen penting dalam perpaduan antar suku.

Selain itu, Lim juga memperjuangkan hak-hak komunitas Cina dalam bidang ekonomi dan politik, dan beliau sering dianggap sebagai pembela bagi kesejahteraan dan kepentingan masyarakat Cina di Malaysia. Ini berbeda dengan pendekatan lebih sederhana yang diambil oleh UMNO dan pemimpin-pemimpin Melayu lainnya.

Ketegangan ini menyebabkan krisis internal dalam MCA, yang akhirnya menyaksikan Lim Chong Eu meninggalkan parti tersebut dan melanjutkan perjuangannya melalui GERAKAN. Di bawah kepimpinannya, GERAKAN menjadi suara penting bagi komunitas Cina yang menginginkan pengakuan lebih besar dalam aspek politik dan budaya di Malaysia.

Perjuangan Lim Chong Eu dalam memperjuangkan hak-hak komunitas Cina dan usulannya untuk mengakui bahasa Cina sebagai bahasa resmi kedua

Dasar Ekonomi dan Favoritisme

Selama memimpin Pulau Pinang, Lim Chong Eu dipuji atas usahanya mengubah negeri ini menjadi pusat industri, terutama dengan menarik investasi asing. Namun, kebijakan-kebijakannya juga dikritik oleh sebagian pihak yang menduga beliau lebih memihak kepada kelompok atau bisnis tertentu dalam komunitas Cina, terutama yang memiliki hubungan erat dengan partinya, Gerakan. Tuduhan favoritisme dan kronisme sering dilontarkan kepada pemerintahannya, terutama oleh mereka yang merasa bahwa beberapa proyek atau kontrak diberikan kepada bisnis yang memiliki hubungan politik.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan