Kamis, 29 Oktober 2026
04:09 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Laporan Spaak

Bagikan:

Laporan Spaak atau Laporan Brussel tentang Pasar Bersama Umum adalah laporan yang disusun oleh Komite Spaak pada tahun 1956. Komite Antarpemerintah, yang dipimpin oleh Paul-Henri Spaak, menyerahkan laporan definitifnya pada tanggal 21 April 1956 kepada pemerintah dari enam negara anggota Komunitas Batu Bara dan Baja Eropa.

Laporan ini menjadi batu penjuru bagi Konferensi Antarpemerintah tentang Pasar Bersama dan Euratom di Val Duchesse pada tahun 1956 dan berujung pada penandatanganan Perjanjian Roma pada tanggal 25 Maret 1957, yang mendirikan Komunitas Ekonomi Eropa dan Komunitas Energi Atom Eropa.[1]

Dokumen ini dinamai sesuai nama ketua komite penyusunnya, Paul-Henri Spaak, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Belgia. Dokumen ini juga sering disebut sebagai Laporan Brussel (Brussels Report) karena seluruh rangkaian kerja komite teknis penyusunnya bermarkas dan berlangsung di Brussel, Belgia.

Latar belakang dan pembentukan komite

Penyusunan Laporan Spaak bermula dari keputusan Konferensi Messina pada Juni 1955. Setelah kegagalan pembentukan Komunitas Pertahanan Eropa (European Defence Community), enam negara anggota Komunitas Batubara dan Baja Eropa (European Coal and Steel Community / ECSC) Prancis, Jerman Barat, Italia, Belgia, Belanda, dan Luksemburg sepakat mengalihkan fokus integrasi ke bidang ekonomi. Konferensi Messina menugaskan Komite Antarpemerintah yang dipimpin oleh Paul-Henri Spaak untuk melakukan studi mendalam mengenai kemungkinan integrasi pasar umum dan sektor energi atom.[2]

Komite Spaak bekerja secara intensif di Brussel dari Juli 1955 hingga April 1956, melibatkan berbagai ahli teknis di bidang ekonomi, hukum, perdagangan, dan energi dari enam negara anggota.

Isi utama dan rekomendasi laporan

Laporan Spaak terbagi menjadi tiga bagian utama yang menjadi fondasi bagi arsitektur institusional Eropa modern. Pertama, Pasar Umum Bersama (Common Market) laporan ini merekomendasikan penghapusan bertahap atas tarif bea masuk, kuota impor, dan hambatan perdagangan antarnegara anggota dalam kurun waktu transisi 12 hingga 15 tahun. Dokumen ini juga mengusulkan pembentukan Tarif Luar Negeri Bersama (Common External Tariff), kebebasan bergerak bagi tenaga kerja, modal, dan jasa, serta formulasi Kebijakan Pertanian Bersama (Common Agricultural Policy / CAP).[3] Kedua, Kerja Sama Energi Atom (Euratom) laporan ini mengusulkan pembentukan badan terpisah untuk mengoordinasikan penelitian, keamanan, dan pasokan bahan bakar nuklir guna menjamin kemandirian energi dan mendorong pembangunan industri non-militer di Eropa Barat. Ketiga, Kelembagaan Supranasional hal ini bertujuan untuk mengelola pasar bersama, laporan ini menyarankan struktur kelembagaan yang terdiri dari komisi eksekutif independen, Dewan Menteri, Majelis Parlemen, dan Mahkamah Keadilan.

Dampak

Laporan Spaak disetujui secara resmi oleh para menteri luar negeri enam negara pada Konferensi Venesia bulan Mei 1956. Dokumen ini dijadikan dasar negosiasi langsung bagi Konferensi Intergovernmental tentang Pasar Bersama dan Euratom di Val Duchesse, Brussel. Negosiasi tersebut berujung pada penandatanganan Perjanjian Roma (Treaty of Rome)[4] pada 25 Maret 1957, yang secara resmi mendirikan Komunitas Ekonomi Eropa dan Euratom pada 1 Januari 1958.[5]

Para sejarawan menganggap Laporan Spaak sebagai salah satu dokumen paling berpengaruh dalam sejarah pasca-Perang Dunia II karena berhasil mengubah cita-cita integrasi Eropa yang abstrak menjadi cetak biru hukum dan ekonomi yang praktis dan realistis.[6]

Ringkasan

Laporan Spaak menyimpulkan bahwa integrasi ekonomi Eropa sektor demi sektor akan sulit dilakukan. Sebaliknya, integrasi ekonomi secara horizontal melalui penghapusan hambatan perdagangan secara bertahap dinilai sebagai jalan yang harus ditempuh. Tujuan tersebut hendak dicapai dengan membentuk sebuah serikat pabean.[7]

Mengenai integrasi sektor energi, terdapat sikap yang berbeda antara energi nuklir dan sumber energi hidrokarbon (minyak, batu bara). Integrasi sektor energi nuklir Eropa sangat diinginkan karena besarnya biaya yang dibutuhkan, yang melampaui kapasitas keuangan masing-masing negara. Integrasi pengembangan energi nuklir di tingkat supranasional berarti pembagian biaya yang lebih efisien untuk pengembangan energi nuklir tersebut. Sebaliknya, integrasi sumber energi hidrokarbon di tingkat supranasional kurang memungkinkan untuk dilakukan, karena sumber-sumber energi ini sebagian besar dikelola oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Sementara itu, integrasi listrik dan gas bahan bakar dinilai tidak relevan, karena keduanya hanya didistribusikan di tingkat nasional.

Referensi

  1. ↑ "Rapport des chefs de délégation aux ministres des Affaires étrangères (Bruxelles, 21 avril 1956)". CVCE.EU by UNI.LU (dalam bahasa Prancis). CVCE.EU by UNI.LU. 2017-04-13. Diakses tanggal 2026-10-08.
  2. ↑ Moravcsik, Andrew (1998). The Choice for Europe: Social Purpose and State Power from Messina to Maastricht (dalam bahasa Inggris). Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-8509-1.
  3. ↑ Pryce, Roy (2026-07-01). The Dynamics of European Union (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-040-96655-6.
  4. ↑ "Rome - Preparation". www.unizar.es. Diakses tanggal 2026-10-08.
  5. ↑ "The work of the Spaak Committee - Historical events in the European integration process (1945–2009) - CVCE Website". www.cvce.eu. Diakses tanggal 2026-10-08.
  6. ↑ "The Spaak Report (21 April 1956) - From the Messina Conference to the Rome Treaties (EEC and EAEC) - CVCE Website". www.cvce.eu. Diakses tanggal 2026-10-08.
  7. ↑ Spaak, Paul-Henri (1956). "Intergovernmental Committee on European Integration. The Brussels Report on the General Common Market (abridged, English translation of document commonly called the Spaak Report) [June 1956]". aei.pitt.edu. Diakses tanggal 2026-10-08.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan