Rabu, 30 September 2026
17:47 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Bom kotor

Bom kotor

jenis senjata radiologis

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Bom bergaram.
Terorisme
250px-1965-01_1964%E5%B9%B4_%E9%A6%96%E6%AC%A1%E5%8E%9F%E5%AD%90%E5%BC%B9%E7%88%86%E7%82%B83.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bom kotor atau perangkat dispersi radiologis adalah senjata radiologis yang menggabungkan bahan radioaktif dengan bahan pada konvensional. Tujuan dari senjata ini adalah untuk mencemari area di sekitar bahan penyebar atau ledakan konvensional dengan bahan radioaktif, yang berfungsi terutama sebagai perangkat penyangkalan area terhadap warga sipil.

Bom kotor atau perangkat dispersi radiologis adalah senjata radiologis yang menggabungkan bahan radioaktif dengan bahan peledak konvensional. Tujuan dari senjata ini adalah untuk mencemari area di sekitar bahan penyebar/ledakan konvensional dengan bahan radioaktif, yang berfungsi terutama sebagai perangkat penyangkalan area terhadap warga sipil.[1][2][3] Senjata ini tidak boleh disamakan dengan ledakan nuklir, seperti bom fisi, yang menghasilkan efek ledakan yang jauh lebih besar daripada yang dapat dicapai dengan menggunakan bahan peledak konvensional. Tidak seperti awan radiasi dari bom fisi pada umumnya, radiasi bom kotor hanya dapat tersebar dalam jarak beberapa ratus meter atau beberapa mil dari ledakan.[4]

Bom kotor tidak pernah digunakan, hanya diuji coba. Bom ini dirancang untuk menyebarkan bahan radioaktif di area tertentu. Bom ini bekerja melalui efek kontaminasi radioaktif terhadap lingkungan dan efek kesehatan terkait keracunan radiasi pada populasi yang terkena dampak. Penahanan dan dekontaminasi korban, serta dekontaminasi daerah yang terkena dampak membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar, membuat daerah tersebut sebagian tidak dapat digunakan dan menyebabkan kerusakan ekonomi. Bom kotor dapat digunakan untuk menciptakan kepanikan massal sebagai senjata teror.

Pengobatan

Hingga2023[update], penelitian sedang dilakukan untuk menemukan obat dekontaminasi radioaktif untuk menghilangkan unsur radioaktif dari tubuh. Salah satu kandidat obat yang sedang diteliti adalah HOPO 14-1.[5]

Lihat pula

Referensi

Rujukan

  1. ↑ "Dirty Bomb". Diarsipkan dari asli tanggal 20 Oktober 2011. Diakses tanggal 5 Februari 2024.
  2. ↑ "Yahoo Screen - Watch videos online". Yahoo Screen. 23 Maret 2015. Diakses tanggal 5 Februari 2024.[pranala nonaktif permanen]
  3. ↑ "BBC NEWS - Science/Nature - Chernobyl's 'nuclear nightmares'". 13 Juli 2006. Diakses tanggal 5 Februari 2024.
  4. ↑ "Backgrounder on Dirty Bombs". NRC.gov. 23 Februari 2022.
  5. ↑ "First-in-human trial of oral drug to remove radioactive contamination begins". National Institutes of Health (NIH) (dalam bahasa Inggris). 15 Mei 2023. Diakses tanggal 5 Februari 2024.

Karya yang dikutip

  • Belyaninov, K. (1994), "Nuclear nonsense, black-market bombs, and fissile flim-flam", Bulletin of the Atomic Scientists, vol. 50, no. 2, hlm. 44–50, Bibcode:1994BuAtS..50b..44B, doi:10.1080/00963402.1994.11456506.
  • Burgess, M. (2003) "Pascal's New Wager: The Dirty Bomb Threat Heightens", Center for Defense Information.
  • Dingle, J. (2005), "DIRTY BOMBS: real threat?", Security, vol. 42, no. 4, hlm. 48.
  • Edwards, R. (2004), "Only a matter of time?", New Scientist, vol. 182, no. 2450, hlm. 8–9.
  • Adam Curtis's The Power of Nightmares, Part III – Video/Transcript at informationclearinghouse.info.
  • Ferguson, C.D., Kazi, T. and Perera J. (2003) Commercial Radioactive Sources: Surveying the Security Risks, Monterey Institute of International Studies, Center for Nonproliferation Studies, Occasional Paper #11, ISBN1-885350-06-6, Webpage with PDF file of paper.
  • Frost, R. M. (2005), Nuclear Terrorism After 9/11, Routledge for The International Institute for Strategic Studies, ISBN 0-415-39992-0.
  • Hoffman, B. (2006), Inside Terrorism, Columbia University Press, N.Y., ISBN 0-231-12698-0.
  • Hosenball, M., Hirsch, M. and Moreau, R. (2002) "War on Terror: Nabbing a "Dirty Bomb" Suspect", Newsweek (Int. ed.), ID: X7835733: 28–33.
  • Johnson, Jr., R.H. (2003), "Facing the Terror of Nuclear Terrorism", Occupational Health & Safety, vol. 72, no. 5, hlm. 44–50, PMID 12754858.
  • King, G. (2004), Dirty Bomb: Weapon of Mass Disruption, Chamberlain Bros., Penguin Group, ISBN 1-59609-000-6.
  • Liolios, T.E. (2008) The effects of using Cesium-137 teletherapy sources as a radiological weapon (dirty bomb), Hellenic Arms Control Center, Occasional Paper May 2008, .
  • Mullen, E., Van Tuyle, G. and York, R. (2002) "Potential radiological dispersal device threats and related technology", Transactions of the American Nuclear Society, 87: 309.
  • Petroff, D.M. (2003), "Responding to 'dirty bombs'", Occupational Health and Safety, vol. 72, no. 9, hlm. 82–87, PMID 14528823.
  • Reshetin, V.P. (2005), "Estimation of radioactivity levels associated with a 90Sr dirty bomb event", Atmospheric Environment, vol. 39, no. 25, hlm. 4471–4477, Bibcode:2005AtmEn..39.4471R, doi:10.1016/j.atmosenv.2005.03.047.
  • Ring, J.P. (2004), "Radiation Risks and Dirty Bombs", The Radiation Safety Journal, Health Physics, vol. 86, no. suppl. 1, hlm. S42–S47, doi:10.1097/00004032-200402001-00013, PMID 14744070, S2CID 41910831.
  • Sohier, A. and Hardeman, F. (2006) "Radiological Dispersion Devices: are we prepared?", Journal of Environmental Radioactivity, 85: 171–181.
  • Van Tuylen, G.J. and Mullen, E. (2003) "Large radiological source applications: RDD implications and proposed alternative technologies", Global 2003: Atoms for Prosperity: Updating Eisenhouwer's Global Vision for Nuclear Energy, LA-UR-03-6281: 622–631, ISBN0-89448-677-2.
  • Vantine, H.C. and Crites, T.R. (2002) "Relevance of nuclear weapons cleanup experience to dirty bomb response", Transactions of the American Nuclear Society, 87: 322–323.
  • Weiss, P. (2005), "Ghost town busters", Science News, vol. 168, no. 18, hlm. 282–284, doi:10.2307/4016859, JSTOR 4016859
  • Zimmerman, P.D. and Loeb, C. (2004) "Dirty Bombs: The Threat Revisited", Defense Horizons, 38: 1-11.
  • Zimmerman, P.D. (2006), "The Smoky Bomb Threat", The New York Times, vol. 156, no. 53798, hlm. 33.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan