Jumat, 25 September 2026
23:31 WIB
TERKINI
Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia

Lak

Lak merupakan kerajinan tangan khas Palembang yang merupakan akulturasi dari Tiongkok. Lak didapat dari liur serangga yang dikenal sebagai kutu lak dan dapat dijadikan sebagai bahan cat. Kriya ini mulai dikenal pada masa Dinasti Ming [1368-1643 SM]. Pada mulanya lak dipakai menulis di bambu yang selanjutnya berkembang pada masa Dinasti Chou [1027-256 SM] dipakai untuk menghias piring dan alat makan lainnya. Lak masuk ke Palembang pada awal Kerajaan Palembang[1]

Desain Ukiran

Desain ukiran Lak terpengaruh oleh kebudayaan Bangsa Cina. Ini didasarkan oleh hasil penelusuran mengenai pembuatan ukiran dan hiasan rumah limas dan perabotan lak di Palembang dan wilayah di sekitarnya.Hanya saja, tidak diketahui dengan jelas dari mana asal suku tersebut. Kala itu, warna emas diperoleh dari hasil percampuran bubuk emas murni yang menyebabkannya tidak pudar dalam waktu yang lama.[2]

Fungsi

Lak masih diproduksi di Palembang hingga saat ini. Bentuk dan fungsinya beragam, mulai dari dari lemari, perlengkapan mebel, perlengkapan makan, mangkuk, dulang, vas bunga, guci, hingga berbagai cendera mata.[3]

Proses Pembuatan

Kayu utuh dibentuk sesuai jenis benda yang akan dibuat. Kayu lalu diampelas hingga halus. Permukaan kayu yang halus diolesi dengan kalk, dikeringkan tanpa terkena sinar matahari secara langsung dan diampelas halus lagi. Setelah itu, dicat merah lalu diampelas kembali dan diberi hiasan berbahan tinta Cina. Setelah kering barulah dilapisi dengan lak dengan sekali kuas untuk menghindari perbedaan tekstur dan dikeringkan kembali di bawah cahaya matahari. Setelah kering, kembali diampelas. Awalnya motif hias yang dipakai untuk lak hanya tumbuh-tumbuhan karena haramnya penggambaran makhluk berdarah di Palembang kala itu. Penambahan hiasan hewan baru dilakukan pada masa kolonial Belanda, salah satunya yang utama adalah burung hong.[4]

Referensi

  1. ↑ Ratnawati, Lien (2017). Penetapan warisan Budaya Tak Benda Indonesia tahun 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Penetepan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. hlm. 24.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. hlm. 25.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. hlm. 25.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan