Selasa, 03 November 2026
16:59 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Ksatrian Instituut

Bagikan:

Ksatrian Instituut adalah nama sekolah dan yayasan yang didirikan oleh E.F.E. Douwes Dekker pada tahun 1924 di Bandung, Jawa Barat. Pendidikan yang diberikannya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri para murid, serta melengkapinya dengan kemampuan kejuruan dan bahasa, sehingga berbeda dengan sekolah-sekolah semasa pemerintahan Hindia Belanda. Ksatrian Instituut berperanan penting dalam meluaskan kesempatan memperoleh pendidikan dasar dan menengah bagi murid-murid pribumi, keturunan Tionghoa, dan Indo-Eropa saat itu.

Sejarah

E.F.E. Douwes Dekker, bekas pemimpin Indische Partij, setelah pulang dari pengasingan di Belanda tahun 1922 kemudian berusaha untuk melamar sebagai guru pada sekolah rendah partikelir pimpinan Ny. H.E. Mayer-Elenbaas di Jln. Kebon Kelapa No. 17, Bandung. Hal tersebut dilaporkan oleh Residen Priangan kepada Gubernur Jenderal saat itu, Mr. Dr. Dirk Fock, dimana salah satu keberatannya ialah karena suami Ny. Mayer tercatat seorang komunis. Namun Gubernur Jenderal mengatakan bahwa "lebih baik kepada orang-orang yang sedang gelisah seperti Douwes Dekker diberi kesempatan kerja tetap bagi penghidupannya daripada ia, karena dihalangi kesempatannya, akan lebih condong untuk rakyat".[1] Douwes Dekker kemudian mulai mengajar di sana sejak September 1922.

Tahun 1923, nama sekolah berubah menjadi Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs (Institut Priangan dari Perkumpulan Pengajaran Rakyat), dan Douwes Dekker menjabat sebagai kepala untuk MULO[2] (setingkat SMP). Sejak November 1924, lembaga pendidikan tersebut diubahnya menjadi sebuah yayasan yang bernama Ksatrian Instituut, yang kadang-kadang juga disebut Ksatrian School. Selain di Bandung, sekolah rendah Ksatrian Instituut juga dibuka di Ciwidey dan Cianjur, dan terbuka bagi orang-orang pribumi Indonesia serta keturunan Tionghoa dan Indo. Pada tahun 1932, Ksatrian Instituut mendirikan Moderne Middelbare Handels School (Sekolah Menengah Dagang Modern), yaitu suatu sekolah pendidikan menengah.[2]

Ksatrian Instituut juga menerbitkan majalah murid dan orang tua, De Ksatria,[3] yang berisi berita sekolah, alat penghubung antar murid, dan berita nasional dan internasional penting lainnya.

Douwes Dekker yang berencana untuk mengirimkan para tamatan Ksatrian Instituut ke Jepang, pada Januari 1941 ditangkap di Ngawi oleh pemerintah Hindia Belanda yang menuduhnya sebagai mata-mata. Sejak saat itu Douwes Dekker tidak lagi dapat terlibat aktif mengelola Ksatrian Instituut, karena mengalami hukuman penjara dan pengasingan yang berpindah-pindah, yaitu di Suriname, Belanda, Yogyakarta, dan Prapat, sehingga meninggalnya pada tahun 1950.[4]

Pada tahun 1949, Ksatrian Instituut berubah menjadi SMP Negeri 1 Bandung.

Tokoh-tokoh

Referensi

  1. ↑ Surat Gubernur Jenderal tertanggal 15 Januari 1923 no. 3 A x Geheim, dalam Poesponegoro, Marwati Djoened (2008). Sejarah Nasional Indonesia V. Balai Pustaka. hlm. hlm. 288. ISBN 979-407-411-X.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)
  2. 1 2 Poesponegoro, Marwati Djoened (2008). Sejarah Nasional Indonesia V. Balai Pustaka. hlm. hlm. 288. ISBN 979-407-411-X.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)
  3. ↑ De Ksatria, "Maanblad van de leeringen van alle Ksatrian Scholen en hun Ouders". Redaktur: R.M. Hoedojo Hoeksamadiman. Oplag 2.000 eksemplar, dalam Poesponegoro, Marwati Djoened (2008). Sejarah Nasional Indonesia V. Balai Pustaka. hlm. hlm. 288. ISBN 979-407-411-X.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)
  4. ↑ Lubis, Nina Herlina, Douwes Dekker Sang Pelopor, diakses tanggal 2009-10-22[pranala nonaktif permanen]

Lihat pula

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan