Senin, 26 Oktober 2026
23:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Konflik Korea

Konflik Korea

Bagikan:
Untuk perang antara Korea Utara dan Korea Selatan tahun 1950–1953, lihat Perang Korea.
Konflik Korea
Bagian dari Perang Dingin (hingga 1991)
330px-Joint_Security_Area%2C_Korean_DMZ%2C_looking_south.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Zona Demiliterisasi Korea, dilihat dari utara
Tanggal15 Agustus 1945—kini
(81 tahun, 2 bulan dan 11 hari)
Lokasi38°19′N 127°14′E / 38.317°N 127.233°E / 38.317; 127.233
Status
Perubahan
wilayah
Pihak yang terlibat

 Korea Selatan

Didukung oleh:

 PBB
 Amerika Serikat
 Britania Raya
 Turki
 Uni Eropa
 NATO
 Australia
 Kanada
 Israel
 Jepang
 Selandia Baru
 Ukraina

 Korea Utara

Didukung oleh:

 Tiongkok
 Uni Soviet
(hingga 1991)
 Rusia
 Belarus
 Kuba
 Iran
 Palestina
 Venezuela
Pemimpin atau tokoh terkemuka

Lee Jae-myung
(2025–)

Pemimpin sebelumnya

Kim Jong-un
(2011–)

Pemimpin sebelumnya

Konflik Korea adalah konflik yang sedang berlangsung berdasarkan pembagian Korea antara Korea Utara (Republik Rakyat Demokratik Korea) dan Korea Selatan (Republik Korea), keduanya mengklaim sebagai satu-satunya pemerintah dan negara yang sah atas seluruh Korea. Selama Perang Dingin, Korea Utara didukung oleh Uni Soviet, Tiongkok, dan sekutu-sekutu komunisnya, sementara Korea Selatan didukung oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya. Pembagian Korea oleh kekuatan-kekuatan eksternal terjadi pada akhir Perang Dunia II, dimulai pada tahun 1945, dan ketegangan meletus menjadi Perang Korea, yang berlangsung dari tahun 1950 hingga 1953. Ketika perang berakhir, kedua negara ini hancur, dengan kehancuran total sebagian besar negara, tetapi pembagian tetap ada. Korea Utara dan Selatan melanjutkan kebuntuan militer, dengan bentrokan berkala. Konflik ini bertahan dari akhir Perang Dingin dan berlanjut hingga saat ini.

AS mempertahankan kehadiran militernya di Korea Selatan untuk membantu Korea Selatan sesuai dengan Perjanjian Pertahanan Timbal Balik antara Amerika Serikat dan Republik Korea. Pada tahun 1997, Presiden AS Bill Clinton menggambarkan pembagian Korea sebagai "pemisah terakhir Perang Dingin".[1] Pada tahun 2002, Presiden AS George Walker Bush menggambarkan Korea Utara sebagai salah satu anggota "poros setan".[2][3] Menghadapi isolasi yang semakin meningkat, Korea Utara mengembangkan kemampuan rudal dan nuklir.

Menyusul ketegangan yang meningkat sepanjang tahun 2017, tahun 2018 Korea Utara dan Selatan, serta Amerika Serikat, mengadakan serangkaian konferensi tingkat tinggi yang menjanjikan perdamaian dan pelucutan senjata nuklir. Ini membawa kepada Deklarasi Panmunjom pada 27 April 2018, ketika kedua pemerintah sepakat untuk bekerja sama untuk mengakhiri konflik.

Latar belakang

Korea dicaplok oleh Kekaisaran Jepang pada tahun 1910. Pada dasawarsa-dasawarsa berikutnya selama penjajahan Jepang di Korea, kelompok-kelompok nasionalis dan radikal muncul, kebanyakan di pengasingan, berjuang untuk kemerdekaan. Berbeda dalam pandangan dan pendekatan mereka, kelompok-kelompok ini gagal bersatu dalam satu gerakan nasional.[4][5] Berbasis di Tiongkok, Pemerintahan Sementara Republik Korea gagal memperoleh pengakuan luas.[6] Banyak pemimpin yang mengadvokasi kemerdekaan Korea termasuk Syngman Rhee yang konservatif dan berpendidikan AS, yang melobi pemerintah AS, dan Kim Il-sung yang Komunis, yang berperang gerilya melawan Jepang dari negara tetangga Manchuria di utara Korea.[7]

Setelah berakhirnya pendudukan, banyak orang Korea berpangkat tinggi dituduh berkolaborasi dengan imperialisme Jepang.[8] Perjuangan yang bergelora dan berdarah antara berbagai tokoh dan kelompok politik yang bercita-cita untuk memimpin Korea pun terjadi.[9]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Hyung Gu Lynn (2007). Bipolar Orders: The Two Koreas since 1989. Zed Books. hlm. 3.
  2. ↑ Cumings, Bruce (2005). Korea's Place in the Sun: A Modern History. New York: W. W. Norton & Company. hlm. 504. ISBN 0-393-32702-7.
  3. ↑ Bluth, Christoph (2008). Korea. Cambridge: Polity Press. hlm. 112. ISBN 978-07456-3357-2.
  4. ↑ Buzo, Adrian (2002). The Making of Modern Korea. London: Routledge. hlm. 31–37. ISBN 0-415-23749-1.
  5. ↑ Cumings, Bruce (2005). Korea's Place in the Sun: A Modern History. New York: W. W. Norton & Company. hlm. 156–60. ISBN 0-393-32702-7.
  6. ↑ Cumings, Bruce (2005). Korea's Place in the Sun: A Modern History. New York: W. W. Norton & Company. hlm. 159–60. ISBN 0-393-32702-7.
  7. ↑ Buzo, Adrian (2002). The Making of Modern Korea. London: Routledge. hlm. 35–36, 46–47. ISBN 0-415-23749-1.
  8. ↑ Buzo, Adrian (2002). The Making of Modern Korea. London: Routledge. hlm. 48–49. ISBN 0-415-23749-1.
  9. ↑ Robinson, Michael E (2007). Korea's Twentieth-Century Odyssey. Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 103. ISBN 978-0-8248-3174-5.

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Templat:Perang Korea

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan