Sabtu, 24 Oktober 2026
05:24 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Kesultanan Kota Pinang

Kesultanan Kota Pinang

Kesultanan Melayu di Sumatera

Bagikan:
Kesultanan Kota Pinang

کسلطانن کوتا ڤينڠ

ᯄ᯦ᯩᯘᯮᯞ᯲ᯖᯉᯉ᯲ ᯄ᯦ᯬᯖ ᯇᯪᯉᯰ
ca.1540–1946
Ibu kotaKotapinang
Bahasa umumMelayu, Batak (Batak Mandailing)
Agama Islam
PemerintahanMonarki Kesultanan
Sultan 
• ca. 1540 - ca. 1590
Batara Guru Pinayungan Gelar Batara Sinomba
• ca. 1590 - 1618
Sultan Sinomba Mangkuto Alam Gelar Marhum Mangkat di Jambu
• ca. 1630
Maharaja Awan Gelar Marhum Mangkat di Tasik
• 
Sultan Kohar
• 
Yang di-Pertuan Gelar Marhum Mangkat di Hadundung
• 
Sultan Tua
• 
Sultan Muda
• 
Sultan Bungsu Gelar Marhum Mangkat di Pulau Biramata
• 
Sultan Mustafa I Gelar Yang di-Pertuan Besar Kota Pinang
• 
Sultan Ismail Gelar Yang di-Pertuan Sakti
• 1905-1946
Sultan Mustafa II Gelar Yang di-Pertuan Ma'mur Perkasa Alamsyah
Sejarah 
• Didirikan
ca.1540
1946
Didahului olehDigantikan oleh
krjKerajaan
Pagaruyung
Indonesia
Sekarang bagian dari Indonesia
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Paleis_van_de_Yang_di_Pertuan_TMnr_60048773.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Istana Yang Dipertuan di Kotapinang pada tahun 1931-1934.

Kesultanan Kota Pinang berdiri pada sekitar tahun 1540 (sebagai Kerajaan Pinang Awan) di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Kesultanan ini menjadi protektorat Hindia Belanda pada tahun 1864, sebelum akhirnya melebur ke dalam negara Indonesia pada tahun 1946.

Sejarah

Kesultanan Kota Pinang pada mulanya bernama Kesultanan Pinang Awan. Kesultanan ini didirikan oleh Batara Sinomba atau Batara Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti, putra Sultan Alamsyah Syaifuddin yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung.[1]

Sultan Batara Sinomba digantikan oleh putranya, Sultan Mangkuto Alam. Ia menikah dengan seorang puteri setempat dan memperoleh dua orang putra dan seorang putri yang bernama Siti Ungu Selendang Bulan. Kemudian ia menikah lagi dengan seorang putri setempat lainnya dan memperoleh seorang putra. Istrinya yang kedua berusaha memengaruhi Sultan Mangkuto Alam agar putranyalah yang kelak menggantikannya sebagai raja, sehingga kedua orang putra raja dari istri yang pertama itu diusir. Setelah membunuh Sultan Mangkuto Alam berkat bantuan tentara Kerajaan Aceh, maka putra dari istri yang pertama, Maharaja Awan, naik takhta menjadi sultan Kota Pinang. Sebagai balas jasa, Siti Ungu dinikahkan kepada raja Aceh, Sultan Iskandar Muda. Keturunan Sultan Kota Pinang inilah kemudian yang menjadi raja-raja di Kesultanan Asahan dan Kesultanan Bilah. Sultan Asahan menurunkan Sultan Kualuh dan Sultan Bilah menurunkan Sultan Panai

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia pada tahun 1945, para sultan di Sumatra Timur menghendaki kedudukannya sebagai raja kembali dipulihkan. Namun setahun kemudian, pergerakan anti-kaum bangsawan dalam sebuah Revolusi Sosial Sumatra Timur yang didukung oleh kamu komunis dengan menggerakan para buruh, tak menginginkan adanya pemulihan sistem feodalisme tersebut. Akibatnya kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatra Timur, seperti Deli, Langkat, Serdang, Bilah, Panai, Kualuh, dan Kota Pinang, dipaksa untuk berakhir dan bergabung dengan Republik Indonesia.[2]

Sebagian besar keluarga kesultanan di Sumatra Timur di tangkap, diasingkan bahkan hingga dibunuh, beberapa keluarga kesultanan Asahan berhasil melarikan diri dan mengungsi ke Belanda, tetapi sebagian lainnya dibunuh termasuk sultan Kesultanan Bilah

Daftar Sultan

  1. Sultan Batara Sinomba atau Batara Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti
  2. Sultan Mangkuto Alam
  3. Sultan Syahir Alam
  4. Sultan Mustafa Perkasa Alamsyah
  5. Tuanku Sultan Irvan Bahran Ma’moer Perkasa Alamsyah I

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Tengku Ferry Bustamam, Bunga Rampai Kesultanan Asahan, 2003
  2. ↑ Anthony Reid, The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra, Kuala Lumpur: 1986

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan