Selasa, 20 Oktober 2026
23:17 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Kesultanan Langkat

Kesultanan Langkat

kerajaan di Asia Tenggara

Bagikan:
Negeri Kesultanan Langkat
كسولتانن لڠکت
1568–1946
Bendera Kesultanan Langkat
Bendera
Lambang Kesultanan Langkat
Lambang
Wilayah Kesultanan Langkat dan beberapa kerajaan Melayu di Sumatra Timur pada 1930
Wilayah Kesultanan Langkat dan beberapa kerajaan Melayu di Sumatra Timur pada 1930
Ibu kotaTanjung Pura
Bahasa umumMelayu
Agama Islam (resmi)
PemerintahanMonarki Kesultanan
Sultan 
• 1568–1580
Dewa Syahdan (Sibayak Si Pinter Ukum)
• 1580–1612
Dewa Sakti (Sultan Husin)
• 1612–1673
Raja Kahar bin Dewa Sakti
• 1673–1750
Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar
• 1750–1818
Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman
• 1818–1840
Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu
• 1840–1893
Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah)
• 1893–1927
Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1927–1948
Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1948–1990
Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1990–1999
Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1999–2001
Tengku Dr. Herman Shah bin Tengku Kamil
• 2001–2003
Tengku Iskandar Hilali al-Haj bin Tengku Murad Aziz
• 2003–2026
Tengku Azwar al-Haj bin Tengku Maimun
Sejarah 
• Didirikan
1568
• Bergabung dengan Indonesia
1945
1946
Didahului olehDigantikan oleh
kslKesultanan
Aceh
Negara Sumatra Timur
Provinsi Sumatera Utara

Kesultanan Langkat adalah sebuah kerajaan di wilayah Sumatra Timur.[1]

Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.

Kekuasaan politik Kesultanan Langkat berakhir pada masa pergolakan sosial di Sumatra Timur pada pertengahan abad ke-20. Setelah itu, penerus Kesultanan Langkat terutama menjalankan kedudukan sebagai pemangku adat dan kepala keluarga kerajaan.[2]

Sejarah

Pendirian

Kesultanan Langkat merupakan salah satu monarki Melayu tua di wilayah Sumatera Timur.

Pada tahun 1568, di wilayah yang kini disebut Hamparan Perak, salah seorang petinggi Kerajaan Aru yang bernama Dewa Shahdan berhasil menyelamatkan diri dari serangan Kesultanan Aceh dan mendirikan sebuah kerajaan. Kerajaan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Langkat.

Nama Langkat berasal dari nama sebuah pohon dari famili Meliaceae yang menyerupai pohon langsat. Pohon langkat memiliki buah yang lebih besar daripada buah langsat tetapi lebih kecil daripada buah duku. Rasanya pahit dan kelat.[3]

Pohon tersebut dahulu banyak dijumpai di tepian Sungai Langkat, yakni di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura. Pohon tersebut kini sudah jarang dijumpai.

Pengganti Dewa Shahdan, Dewa Sakti, meninggal dalam serangan yang kembali dilakukan oleh Kesultanan Aceh pada tahun 1612.

Pada masa kepemimpinan Raja Kejuruan Hitam (1750–1818), Langkat menghadapi berbagai pergolakan dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Pada abad ke-19, Kesultanan Langkat kemudian berhubungan dengan Kesultanan Siak, Kesultanan Aceh, serta pemerintah Hindia Belanda.

Pada 1869, Langkat menandatangani perjanjian dengan pihak Hindia Belanda. Raja Langkat kemudian diakui menggunakan gelar Sultan pada akhir abad ke-19.

Masa kolonial

lossy-page1-250px-KITLV_A221_-_Paleis_van_de_sultan_van_Langkat_te_Tandjoeng_Poera%2C_KITLV_83977.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Istana Darul Aman di Tanjung Pura, sekitar tahun 1920.
250px-Tarian%2BKaro%2BPesta%2Bsultan%2BBulungan%2Bdi%2BLangkat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tarian adat Karo yang dipersembahkan ketika pesta pernikahan Sultan Ahmad Sulaimanuddin dari Kesultanan Bulungan dengan putri Sultan Abdul Aziz, Tengku Lailan Syafinah, pada tahun 1926.

Pada masa pemerintahan Sultan Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah, seorang administrator Belanda bernama Aeilko Zijlker dari Deli Maatschappij memperoleh konsesi minyak bumi di Telaga Said, Pangkalan Brandan.

Konsesi eksploitasi minyak bumi diberikan oleh Sultan pada tahun 1883. Beberapa tahun kemudian dilakukan pengeboran minyak, dan pada tahun 1892 kegiatan produksi minyak mulai berkembang.

Penemuan ladang minyak menjadikan Kesultanan Langkat memperoleh pemasukan yang besar dari kegiatan eksploitasi minyak. Bersama beberapa kesultanan lain di Nusantara, Langkat berkembang menjadi salah satu kerajaan yang makmur pada masa Hindia Belanda.

Salah satu peninggalan Kesultanan Langkat yang masih dapat disaksikan hingga sekarang adalah Masjid Azizi di Tanjung Pura.[4]

Pada tahun 1907, Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah menandatangani kontrak politik dengan pemerintah Hindia Belanda yang diwakili oleh Jacob Ballot selaku Residen van Sumatra Oostkust.

Dalam perjanjian tersebut, batas wilayah Kesultanan Langkat meliputi Pulau Kumpei, Pulau Sembilan, Tapak Kuda, Pulau Masjid dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, Kejuruan Stabat, Kejuruan Bingei (Binjai), Kejuruan Selesai, Kejuruan Bahorok, daerah Datu Lepan, serta daerah Datu Besitang.

Wilayah Langkat secara administratif dibagi menjadi tiga bagian:

  • Langkat Hulu
  • Langkat Hilir
  • Teluk Haru

Pada bulan November 1926, Sultan Ahmad Sulaimanuddin dari Kesultanan Bulungan menikah dengan putri Sultan Abdul Aziz, Tengku Lailan Syafinah. Arsip masa kolonial juga mencatat rangkaian acara pernikahan tersebut di Tanjung Pura.

Masa pendudukan Jepang

Pada masa Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tentara Kekaisaran Jepang masuk ke Sumatra setelah mundurnya pemerintahan Hindia Belanda.

Pendudukan Jepang membawa perubahan besar terhadap keadaan sosial dan ekonomi masyarakat Langkat hingga berakhirnya Perang Dunia II.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Lihat: Revolusi Sosial Sumatra Timur
250px-Amir_Hamzah_portrait_edit2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengku Amir Hamzah, sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru dan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, situasi politik di Sumatra Timur mengalami perubahan besar.

Pada 5 Oktober 1945, Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah menyatakan bergabungnya Kesultanan Langkat dengan Republik Indonesia.

Pada tanggal 29 Oktober 1945, Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Asisten Residen Langkat dan berkedudukan di Binjai oleh Gubernur Sumatra, Teuku Muhammad Hasan.

Kekuasaan Kesultanan Langkat dalam bidang politik dan pemerintahan berakhir bersamaan dengan pergolakan Revolusi Sosial Sumatra Timur pada tahun 1946.

Sejumlah anggota keluarga Kesultanan Langkat menjadi korban dalam peristiwa tersebut, termasuk Tengku Amir Hamzah.[5]

Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah kemudian kehilangan kekuasaan pemerintahannya. Setelah Sultan Mahmud wafat pada tahun 1948, penerus Kesultanan Langkat tidak lagi menjalankan pemerintahan sebagai negara dan terutama berperan sebagai pemangku adat serta kepala keluarga kerajaan.[2]

Daftar penguasa

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_de_sultan_van_Langkat_TMnr_10018806.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah (memerintah 1893–1927).

Berikut adalah urutan raja, sultan, dan penerus kepemimpinan adat Kesultanan Langkat.[6][7][8][9][2]

  1. Panglima Dewa Shahdan — 1568–1580
  2. Panglima Dewa Sakti — 1580–1612, anak Dewa Shahdan
  3. Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakti — 1612–1673
  4. Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar — 1673–1750
  5. Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman — 1750–1818
  6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu — 1818–1840
  7. Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad — 1840–1893
  8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Haji Musa — 1893–1927
  9. Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Abdul Aziz — 1927–1948
  10. Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah — 1948–1990, pemimpin keluarga kerajaan setelah berakhirnya kekuasaan politik kesultanan
  11. Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah — 1990–1999
  12. Tengku Dr. Herman Shah bin Tengku Kamil — 1999–2001
  13. Tengku Iskandar Hilali al-Haj bin Tengku Murad Aziz — 2001–2003
  14. Tengku Azwar al-Haj bin Tengku Maimun — 2003–2026

.

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Mahmoed_Abdoel_Djalil_Rachmat_Sjah_Sultan_van_Langkat_Noord-Sumatra_TMnr_10001816.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Abdul Aziz, memerintah 1927–1948.

Lihat pula

250px-Amir_Hamzah_wedding.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengku Amir Hamzah dan istrinya, Tengku Kamaliah binti Sultan Mahmud.

Referensi

  1. ↑ Sri Windari; Halimah Nur Febriyani; Nafita Amelia Nur Hanifah; Muhammad Ilham Aziz; Septi Wanda; Johan Septian Putra; Arindya Iryana Putri; Wibowo Priambodo; Thoha Ulil Albab; Syfana Amalena; Dewi Oktaviani; Ahmad Zainuri; Fika Hasya Lisyanti; Nadia Peggy Despy; Wela Celsi Angela (15 November 2021). Sujadi (ed.). Islam Lokal: Sejarah, Budaya, dan Masyarakat. Adab Press. hlm. 46. ISBN 9789798548215.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 Subroto, Lukman Hadi; Ningsih, Widya Lestari (26 Januari 2022). "Kesultanan Langkat: Sejarah, Perkembangan, dan Raja-raja". Kompas.com.{{cite web}}: |url= tidak ada atau kosong
  3. ↑ Husin, Djohar Arifin (2023). Sejarah Kesultanan Langkat. Medan: Yayasan Bangun Langkat Sejahtera.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Dahlan, Zaini; Asari, Hasan (2020-12-31). "Sejarah Keagamaan Dan Sosial Masjid-Masjid Tua Di Langkat". Jurnal Lektur Keagamaan (dalam bahasa Inggris). 18 (2): 333–364. doi:10.31291/jlka.v18i2.850. ISSN 2620-522X.
  5. ↑ Zuhra, Wan Ulfa Nur. "Pembunuhan Amir Hamzah dan Sejarah Revolusi Sosial di Sumatra Timur". tirto.id. Diakses tanggal 2026-07-29.
  6. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 2
  7. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 3
  8. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 4
  9. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 5

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Sultans of Langkat.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan