Kamis, 05 November 2026
08:29 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Kentungan

Kentungan

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Kentungan" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Juni 2021)
250px-Kentongan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kentungan
250px-Wooden_slit_drums_from_Vanuatu%2C_Bernice_P._Bishop_Museum.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kentungan dari Vanuatu, Kepulauan Pasifik.

Kentungan (atau Kentongan [1][2]) yang dalam bahasa lainnya disebut jidor adalah alat pemukul yang terbuat dari batang bambu atau batang kayu jati yang dipahat.

Kegunaan kentungan didefinisikan sebagai tanda alarm, sinyal komunikasi jarak jauh, morse, penanda azan, maupun tanda bahaya.[3] Ukuran kentungan tersebut berkisar antara diameter 40 cm dan tinggi 1,5–2 m.[butuh rujukan] Kentungan sering diidentikkan dengan alat komunikasi zaman dahulu yang sering dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di daerah perdesaan dan pergunungan.[4]

Sejarah

Sejarah budaya kentungan sebenarnya dimulai sebenarnya berasal dari legenda Cheng Ho dari Tiongkok yang melakukan perjalanan dengan tujuan keagamaan.[5] Selama penjalannya , Cheng Ho menemukan kentungan ini sebagai alat untuk berkomunikasi secara ritual keagamaan.[5] Penemuan kentungan tersebut dibawa ke Cina, Korea, dan Jepang. Kentungan sudah ditemukan sejak awal masehi.[5] Setiap daerah tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarahnya yang tinggi. Di Nusa Tenggara Barat, kentungan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan massa.[5] Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentungan Kiai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.[3]

Di Pengasih, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah.[3] Pada masa sekarang ini, penggunaan kentongan lebih bervariatif.[butuh rujukan]

Cara memainkan

Kentungan adalah alat komunikasi zaman dahulu yang dapat berbentuk tabung atau berbentuk lingkaran dengan sebuah lubang yang sengaja dipahat di tengahnya.[6] Dari lubang tersebut, akan keluar bunyi-bunyian apabila dipukul.[butuh rujukan] Kentungan tersebut biasa dilengkapi dengan sebuah tongkat pemukul yang sengaja digunakan untuk memukul bagian tengah kentungan tersebut untuk menghasilkan suatu suara yang khas.[butuh rujukan] Kentungan tersebut dibunyikan dengan irama yang berbeda-beda dan keras untuk menunjukkan kegiatan atau peristiwa yang berbeda.[7][8] Pendengar akan paham dengan sendirinya pesan yang disampaikan oleh kentungan tersebut.[butuh rujukan] Biasanya, kentongan zaman dahulu ada di tempat tempat penting, seperti rumah kepala lurah atau RT, dan tempat lain.

Manfaat kentungan

Awalnya, kentungan digunakan sebagai alat pendamping ronda untuk memberitahukan adanya pencuri atau bencana alam.[butuh rujukan] Dalam masyarakat pedalaman, kentungan sering kali digunakan ketika surau-surau kecil atau sebagai pemanggil masyarakat untuk ke masjid apabila jam salat telah tiba.[9] Namun, kentungan yang dikenal sebagai teknologi tradisional ini telah mengalami transformasi fungsi.[10] Dalam masyarakat modern, kentungan dijadikan sebagai salah satu alat yang efektif untuk mencegah demam berdarah.[10] Dengan kentungan, pemantauan terhadap pemberantasan sarang nyamuk pun dilakukan.[butuh rujukan] Dalam masyarakat tani, sering kali menggunakan kentungan sebagai alat untuk mengusir hewan yang merusak tanaman dan padi warga.[butuh rujukan]

Kelebihan

Kentungan dengan bahan pembuatan dan ukurannya yang khas dapat dijadikan barang koleksi peninggalan seni budaya masa lalu yang dapat dipelihara untuk meningkatkan pemasukan negara.[4] Kentungan dengan bunyi yang khas dan permainan yang khas menjadi sumber penanada tertentu bagi masyarakat sekitar.[butuh rujukan] Selain itu, kentungan merupakan peninggalan asli bangsa Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang tinggi.[butuh rujukan] Perawatannya juga sederhana, tanpa memerlukan tindakan-tindakan khusus. [butuh rujukan]

Kelemahan

Kentungan masih banyak kita temui dalam masyarakat modern, tetapi fungsi kentungan sebagai alat komunikasi tradisional memiliki sejumlah kekurangan yang menyebabkan tergesernya kentungan tersebut dengan teknologi modern.[3] Kegunaan kentungan yang sederhana dan jangkauan suara yang sempit menyebabkan kentungan tidak menjadi alat komunikasi utama dalam dunia modern ini.[butuh rujukan]

Era globalisasi

Pada era globalisasi sekarang ini, alat komunikasi telah berkembang jauh melebihi batasan pemikiran sebagian besar manusia. Ketiadaan batasan ruang dan waktu membuat orang berlomba-lomba menciptakan beragam penemuan yang lebih praktis dan lebih luas jangkauannya.

Kentungan dalam bentuk aplikasi

Kentungan kini hadir dalam bentuk aplikasi ponsel cerdas. Ini membuktikan bahwa budaya kentungan masih tetap eksis pada masa modern seperti sekarang ini dan aplikasi kentongan ini tidak menghilangkan unsur asli dari fungsi kentungan yaitu membantu warga dalam berkomunikasi.

Referensi

  1. ↑ "Kentongan Bersejarah", kendalkab.go.id, 2022, diakses tanggal 2025-8-2{{citation}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  2. ↑ "Social construction of kentongan for disaster risk reduction in highland java and its potential for educational tool", sciencedirect.com, 2024, diakses tanggal 2025-8-2{{citation}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  3. 1 2 3 4 Moertjipto, dkk. 1990. Bentuk-bentuk Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasidan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya.
  4. 1 2 Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah (Indonesia). 1985. Ensiklopedi Musik Indonesia Jilid 4. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi, dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  5. 1 2 3 4 rasidi, budy (02 May 2024 - 14:06). "Sejarah dan Sandi Kentongan". Radio republik indonesia. Diakses tanggal 2025-10-01.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  6. ↑ "Sejarah Alat Komunikasi Tradisional Kentongan di Indonesia". kumparan. Diakses tanggal 2026-01-23.
  7. ↑ Guritno, Sri (2001). Strategi menciptakan pembauran dalam masyarakat multietnik di Gresik, Jawa Timur. Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 91.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Nilai dan fungsi kentongan pada masyarakat Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat. 1994. hlm. 31.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ↑ Bentuk-bentuk peralatan hiburan dan kesenian tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. 1990.
  10. 1 2 Situs Berita Jogja: Di zaman modern kentongan masih eksis sebagai alat komunikasi[pranala nonaktif permanen]
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan