Pulau Kayoa adalah salah satu pulau yang ada di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Indonesia.[1] Luas lahan daratan di Pulau Kayoa adalah 87 kilometer persegi. Sekitar sepertiga dari wilayah Pulau Kayoa merupakan ekosistem hutan bakau. Pemusatan vegetasi tumbuhan bakau di Pulau Kayoa khususnya di bagian pesisir pantai.[2] Wilayah perairan di sekeliling pantai Pulau Kayoa merupakan habitat alami bagi beberapa spesies ikan. Beberapa jenis ikan yang banyak ditemukan dengan kelimpahan yang tinggi adalah ikan ekor kuning dan ikan baronang. Selain itu, ada pula beragam jenis bintang laut dengan warna yang beragam. Biota laut lainnya yang juga ada di Pulau Kayoa adalah kerang laut dan kima. Pulau Kayoa juga menjadi habitat alami dari biota laut yang berbahaya bagi manusia seperti belut Moray dan hiu. Kedua jenis biota laut ini sering muncul di pesisir pantai dari celah-celah terumbu karang. Ekosistem penting bagi Pulau kayoa adalah ekosistem terumbu karang yang ada di perairan sekitar pantai.[3] Di Pulau Kayoa juga ada sebuah situs arkeologi yang bernama Situs Uattamdi. Peninggalan arkeologi yang ditemukan di dalam situs ini berupa tempayan yang dikubur di dalam tanah.[4]
Kunjungan Alfred Russel Wallace
Kayoa disinggahi Alfred Russel Wallace dalam perjalanan dari Ternate menuju Bacan pada Oktober 1858. Dalam The Malay Archipelago, kunjungan itu dibahas bersama pelayaran melalui Tidore, Mare, Moti, dan Makian. Wallace menguraikan bentuk pantai, kesulitan pelayaran di sekitar terumbu, kegiatan pengumpulan serangga, serta beberapa kegiatan penduduk yang diamatinya selama persinggahan.[5]
Pelayaran dan persinggahan
Wallace menyeberang dari ujung selatan Makian menuju Kayoa pada pagi hari. Angin dan arus menyebabkan perjalanan sekitar lima belas mil memerlukan tiga belas jam. Ia mendarat pada pantai berbatu karang dengan tebing yang menurut pengamatannya menyerupai pantai Kepulauan Kei. Kesan terhadap vegetasi dan bentuk pantai membuatnya memutuskan singgah untuk mencari spesimen, alih-alih langsung meneruskan perjalanan menuju Bacan.[5]
Pada 14 Oktober rombongan menyusuri pulau-pulau Kayoa. Angin dan arus memaksa mereka menempuh lintasan memutar, sedangkan terumbu membuat perahu harus berlayar menjauhi pantai pada beberapa bagian. Ketika mencoba melewati jalur di antara terumbu, perahu kandas dan harus ditarik melalui perairan dangkal. Mereka mencapai pelabuhan desa pada malam hari. Wallace menggunakan rumah yang disediakan untuk kunjungan Residen Ternate setelah meminta bantuan kepala desa.[5]
Pengumpulan serangga
Di sekitar desa, Wallace memeriksa bukit berhutan, kebun pisang dan tembakau, serta kayu dari pohon yang telah ditebang dan dibakar. Pada kayu tersebut ia menemukan beberapa jenis kumbang Buprestidae. Pencarian kupu-kupu di bagian hutan berawa tidak memberikan hasil yang diharapkannya. Ia kemudian mendatangi lokasi pembukaan hutan, tempat batang dan cabang tumbang menjadi lokasi pengumpulan sejumlah kelompok kumbang.[5]
Catatan harian yang dimuat dalam buku menyebut perolehan 33, 70, 47, 40, dan 56 jenis kumbang pada 15 hingga 19 Oktober. Angka-angka harian itu tidak dijumlahkan sebagai jumlah spesies berbeda karena sebagian jenis dapat muncul kembali pada hari lain. Wallace melaporkan keseluruhan sekitar seratus jenis, termasuk empat puluh yang belum pernah diperolehnya sebelumnya. Di antara koleksi itu terdapat 44 jenis kumbang tanduk panjang.[5]
Catatan mengenai penduduk
Wallace mencatat penanaman padi, jagung, pisang, dan kapas pada tempat yang dikunjunginya. Kapas digunakan perempuan untuk menenun sarung, sedangkan pembuatan perahu disebut sebagai kegiatan perdagangan penduduk. Ia juga mencatat bahwa masyarakat yang ditemuinya beragama Islam dan berada di bawah Ternate. Setelah sekitar lima hari di Kayoa, rombongan meneruskan pelayaran melalui selat dan pulau-pulau menuju Bacan.[5]
Referensi
- ↑ Kabupaten HalameraSelatan. "Geografi dan Topologi Kabupaten Halmahera Selatan". halmaheraselatankab.go.id. Diakses tanggal 10 Juli 2021.
- ↑ Ichi, Mahmud (1 Oktober 2018). "Guruapin, Kampung Mangrove di Garis Khatulistiwa (Bagian 1)". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 10 Juli 2021.
- ↑ "Warna-warni Taman Laut Kayoa yang Memacu Adrenalin - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. 19 Januari 2015. Diakses tanggal 10 Juli 2021.
- ↑ Ririmasse, Marlon (2013). "Survei Arkeologis di Kawasan Halmahera Bagian Tengah" (PDF). Kapata Arkeologi. 9 (1): 23.
- 1 2 3 4 5 6 Wallace, Alfred Russel (2024). Sejarah Nusantara (The Malay Archipelago): Perjalanan, Penjelajahan, serta Kajian Manusia dan Alam Indonesia. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia. ISBN 978-623-164-492-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)