
Kalung doa (bahasa Inggris:prayer beads) merupakan sebuah kalung yang dipakai oleh pengikut berbagai tradisi keagamaan meliputi Hindu, Buddha, Kristen Katolik, Islam, Sikhisme dan Kepercayaan Bahá'í untuk berdoa. Kalung ini biasa digunakan untuk praktik japa dan sadhana dalam agama darmik, doa rosario kepada Bunda Maria dalam Katolik―karena Kristen lainya tidak mengakui devosi kepada Bunda Maria―dan zikir dalam Islam.
Istilah
Dalam Katolik, kalung doa lebih sering disebut dengan rosario, sedangkan muslim menyebutnya tasbih (istilah yang lazim pula untuk menyebut aneka kalung doa). Umat agama darmik (Hindu, Buddha, Jaina) menyebutnya japamala. Para Buddhis di Jepang menamakannya dengan "juzu" (manik-manik menghitung) atau "nenju" (manik-manik pikir), dan kedua kata biasanya diawali dengan huruf 'o-' yang kehormatan (seperti dalam o-juzu; Pinyin: cháozhū). Dalam budaya Tiongkok, kalung tersebut bernama zhu shu ("manik-manik menghitung"), untuk zhu ("Buddha manik-manik"), atau zhu nian ("tasbih"). Buddha Theravada di Burma juga menggunakan kalung doa, disebut ba-di [bədí]. Biji tasbih tersebut biasanya terbuat dari kayu harum, dengan serangkaian tali berwarna cerah pada ujungnya.
Asal mula
Asal mula yang tepat dari kalung doa masih belum pasti, tetapi penggunaan awalnya bisa dilacak jejaknya ke dalam "japamala", kalung doa Hindu di India,[1] kemudian Buddha kemungkinan meminjam konsep dari agama Hindu.[1][2] Terdapat patung seorang pria suci Hindu mengenakan japamala berasal pada abad ke-3 SM.[1]
Kemudian menurut Syekh Bakr bin Abdillah Abu Zaid mengatakan bahwa kalung doa sudah dikenal pada zaman sebelum Islam, tepatnya digunakan oleh umat Buddha, yang diyakini selalu menggunakan kalung doa, untuk menyelaraskan antara perbuatan dan ucapannya ketika sedang melakukan persembahyangan.[3] Syekh itu juga menyebutkan bahwa kalung doa digunakan oleh umat Hindu di India, dan digunakan oleh umat Katolik pada abad pertengahan (rosario). Bedanya, rosario umat Katolik hanya terdiri dari 50 biji.[4]
Perkembangan kalung doa yang pesat terjadi pada abad 15 M dan 16 M. Dalam kitab Musaahamatul Hindi disebutkan, bahwa umat Hindu terbiasa menggunakan japamala untuk menghitung ritualnya, sehingga menghitung dzikir dengan tasbih diakui sebagai inovasi dari orang Hindu (India) yang bersekte Brahma. Dari India inilah kemudian biji tasbih menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Menurut agama
Rumpun agama darmik

Penggunaan kalung doa pertama kali dapat ditelusuri ke agama Hindu.[5] Mereka menyebutnya dengan nama japamala. Japa adalah mengulang nama dari seorang dewa atau mantra, mala (Sanskrit: माला mālā) berarti "karangan bunga", baik karangan bunga untuk dekorasi atau untuk diletakkan dimakam (Inggris: wreath), atau karangan bunga yang dikenakan diatas kepala (garland).[6] Ia biasanya digunakan saat merapalkan (japa) mantra, doa, atau lantunan keagamaan lainnya. Ia juga dapat dipergunakan dengan maksud mengingatkan diri dari pengaruh buruk, dan untuk menghitung jumlah pengulangan dalam bentuk sadhana (praktik spiritual) lainnya, seperti bersujud di hadapan arca suci. Ia juga dapat dipakai sebagai penanda identitas keagamaan seseorang.[7][8] Japamala digunakan untuk mengulang bacaan mantra, untuk bentuk lain dari sadhana atau "latihan spiritual" dan sebagai bantuan dari meditasi. Jumlah mala paling umum memiliki 108 manik-manik.[9] Bahan baku yang paling sering digunakan untuk membuat manik-manik adalah biji rudraksha sering digunakan oleh Saiwa dan tanaman ruku-ruku batang (digunakan oleh Waisnawa).
Katolik

Dalam Katolik biji tasbih ini disebut rosario, setiap bijinya umat sering mengucapkan "Salam Maria penuh". Digunakannya "butir-butir" atau kalung doa sebagai alat bantu juga merupakan tradisi sejak zaman Gereja awal atau bahkan sebelumnya. Pada Abad Pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung Doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara.[10]
Islam

Orang Arab menyebut kalung doa dengan bermacam-macam nama, diantaranya adalah tasbih, subhah, misbahah, tasaabih, nizaam. Namun yang paling umum adalah "tasbih". Sementara orang-orang sufi menyebutnya dengan al mudzakkirah billah (pengingat kepada Allah), raabitatul qulub (pengikat hati), hablul washl atau sauth asy syaithan (cambuk syaitan). Untuk mengucapkan bacaan tasbih secara berulang-ulang ini diciptakanlah alat yang disebut misbaha dan di Indonesia sendiri disebut juga dengan nama biji tasbih terkadang disingkat menjadi tasbih (tasbeh) saja. Biasanya biji tasbih dibuat dari kayu, namun ada pula biji tasbih yang dibuah dari bji-biji zaitun. Umumnya seutas biji tasbih terdiri dari 99 batu. Angka 99 ini melambangkan 99 Asma Allah. Namun ada pula biji tasbih yang terdiri dari 33 atau 11 batu-batuan. Pada kedua kasus terakhir ini, sang pengguna harus mengulangi lingkaran tiga atau sembilan kali. Meskipun begitu, ada pula biji tasbih yang terdiri dari 100 atau 1.000 batu.
Lihat pula
Catatan kaki
- 1 2 3 Bead One, Pray Too by Kimberly Winston 2008 ISBN 0-8192-2276-3 pages 4-10
- ↑ Linking Your Beads: The Rosary's History, Mysteries, and Prayers by Patricia Ann Kasten 2011 ISBN 1-59276-929-2 OSV Publishers pages 11-13
- ↑ Al-Mausu’at Al-‘Arabiyyah Al-Muyassarah, 23/157.
- ↑ Da’iratul-Ma’arif Al-Islamiyyah, 11/233-234.
- ↑ Untracht, Oppi (2008). "Rosaries of India". Traditional Jewelry of India. Retrieved 2012-01-14.
- ↑ Apte, Vaman Shivaram. A Practical Sanskrit Dictionary. p. 1267.
- ↑ Mross, Michaela (2017), Prayer beads in Japanese Sōtō Zen in Zen and Material Culture, Oxford Academic, doi:10.1093/acprof:oso/9780190469290.003.0005
- ↑ Tanabe, George Joji (2012). "Telling Beads: The Forms and Functions of the Buddhist Rosary in Japan". Beiträge des Arbeitskreises Japanische Religionen. S2CID 169390543.
- ↑ The Significance of the number 108. Retrieved 2007-12-23.
- ↑ Bagaimanakah Asal usul Rosario?
Daftar pustaka
- Dubin, L.S. (2009). Prayer Beads. In C. Kenney (Ed.), The History of Beads: From 100,000 B.C. to the Present (Revised and Expanded Edition) (pp. 79–92). New York: Abrams Publishing.
- Henry, G., & Marriott, S. (2008). Beads of Faith: Pathways to Meditation and Spirituality Using Rosaries, Prayer Beads and Sacred Words. Fons Vitae Publishing.
- Untracht, O. (2008). Rosaries of India. In H. Whelchel (Ed.), Traditional Jewelry of India (pp. 69–73). New York: Thames & Hudson, Inc.
- Wiley, E., & Shannon, M.O. (2002). A String and a Prayer: How to Make and Use Prayer Beads. Red Wheel/Weiser, LLC.
- Winston, K. (2008). Bead One, Pray Too: A Guide to Making and Using Prayer Beads. Morehouse Publishing.
Pranala luar
Media terkait Kalung doa di Wikimedia Commons- Prayer Beads, Malas & Rosaries: Universal Beads of Faith
- The History and Use of the Anglican Rosary Diarsipkan 2008-05-13 di Wayback Machine.
- How to use the prayer beads mala[pranala nonaktif permanen]
- Japa mala
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |