Senin, 02 November 2026
21:41 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Kacamata jawa

Kacamata jawa

spesies burung

Bagikan:
Kacamata jawa
250px-Javan_White-eye_at_Mangrove._Surabaya%2C_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Di hutan mangrove. Surabaya, Jawa Timur.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Z. flavus
Nama binomial
Zosterops flavus
Artikel takson sembarang

Kacamata jawa (Zosterops flavus) atau biasa disebut dengan sebutan nama kacamata saja[2] adalah spesies burung yang termasuk dalam familia Zosteropidae. Ia ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah tropis atau subtropis, hutan mangrove tropis atau subtropis, dan semak belukar subtropis atau tropis. Kacamata jawa terancam kehilangan habitat.

Deskripsi badan dan suara

Berukuran kecil (10 cm), dan badannya didominasi berwarna kuning.[2] Tubuh bagian atas berwarna kuning zaitun, dan bagian bawah berwarna kuning biasa.[3] Iris berwarna coklat, paruh dan kaki kehitaman. Mirip dengan kacamata laut, tetapi kacamata jawa berukuran lebih kecil, warna lebih terang, dan tanpa bintik hitam pada kekang.[3][4][5] Kicauannya berupa desisan seperti nada kontak yang tinggi di antara anggota kelompok dan suara yang tajam.[3][2]

Persebaran dan habitat

Ia tersebar di Kalimantan dan Jawa.[5] Ia penetap dan endemik di dua wilayah tersebut,[6] hutan mangrove, semak pantai, hutan pantai menjadi habitatnya.[4] Selain itu, kacamata jawa juga tinggal di pinggiran hutan.[2]

Perilaku

Dalam mencari makan, kacamata jawa biasanya berkelompok dalam jumlah banyak. Adapun makanannya adalah nektar bunga, serangga kecil, dan buah—buahan.[2][4] Beberapa laporan mencatat burung ini mengunjungi pohon langsat dan pohon dadap. Diperlukan penelitian lebih jauh tentang burung ini karena informasinya terbatas.[3] Sarangnya kacamata jawa berbentuk cawan. Telurnya berwarna kebiru-biruan, dengan jumlah 2 butir. Berkembangbiak pada bulan Mei.[4]

Dalam kebudayaan dan pemanfaatan

Ia diminati oleh penggemar burung yang berkantong tipis oleh karena perawatannya yang mudah. Selain itu, keistimewaannya yang lain adalah suaranya yang bisa dinikmati. Kacamata jawa dapat dijadikan burung pemaster lain.[2]

Adapun keunggulannya yang lain yang menyebabkan orang suka memeliharanya adalah proses adaptasinya yang sangat cepat.[7] Ukuran tubuhnya yang mungil dan mudah dibuat berkicau jika kondisinya sehat menjadi daya tarik lainnya. Sayangnya, burung ini punya kelemahan untuk dipelihara, yakni mudah terlepas dari sangkar dan mudah mati.[7]

Konservasi burung kacamata saat ini sudah banyak dilakukan.

Bahasa lain

Referensi

  1. ↑ "Zosterops flavus". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.1. International Union for Conservation of Nature. 2012. Diakses tanggal 16 Juli 2012. {{cite web}}: |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |last-author-amp=; Parameter tidak dikenal |authors= diabaikanPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 Turut 2010, hlm. 88.
  3. 1 2 3 4 Kutilang Indonesia, Kacamata Jawa.
  4. 1 2 3 4 SBW, Javan White-eye.
  5. 1 2 FOBI, Zosterops flavus.
  6. ↑ Hermawan 2012, hlm. 110.
  7. 1 2 Turut 2010, hlm. 89.
  8. 1 2 3 4 Avibase, Kacamata Jawa (Zosterops flavus). sfn error: tanpa target: CITEREFAvibase,_Kacamata_Jawa_(Zosterops_flavus) (bantuan)

Bibliografi

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik burung ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan