Senin, 28 September 2026
11:55 WIB
TERKINI
Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan

Joyodipo

Joyodipo (Jayadipa) adalah salah satu tokoh yang berperan membantu Raden Batoro Katong dalam membangun Ponorogo. Joyodipo adalah adik dari Joyodrono. Keduanya merupakan abdi dalem dari Prabu Brawijaya V.[1]

Joyodipo dan kakaknya, Joyodrono merupakan abdi dalem yang diberikan tanggung jawab untuk membawa 2 pusaka Majapahit yaitu tombak Tunggul Naga dan payung kerajaan untuk diberikan kepada putra Prabu Brawijaya V, Raden Batoro Katong.

Namun dalam proses membantu Raden Batoro Katong, hanya Joyodipo yang ikut berjuang karena Joyodrono moksa. Joyodipo membantu Raden Batoro Katong melawan pasukan dari kademangan Surukubeng yang merupakan daerah kekuasaan Ki Ageng Kutu. Joyodipo merupakan seorang prajurit yang ulung karena mampu dengan taktik melawan pasukan Ki Ageng Kutu yang berjumlah lebih banyak. Pasukan Raden Batoro Katong hanya berjumlah 40 orang sedangkan pasukan lawan berjumlah hingga 200 orang. Namun pada akhirnya pasukan Raden Batoro Katong yang berhasil memenangkan pertarungan.

Makam Joyodipo beada di desa Japan, Kecamatan Babadan, Ponorogo. Dipercayai Joyodipo memeluk agama Islam karena makamnya menghadap kiblat dan ornamen ayat Al-Quran yang berada di sekitar makam.

Catatan kaki

  1. ↑ Santosa, Edy (2003). Cerita rakyat dari Ponorogo, Jawa Timur. Grasindo. ISBN 9789797320577.


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan