Isma Sawitri | |
|---|---|
| Lahir | 21 November 1940 (umur 85) |
Isma Sawitri (lahir 21 November 1940) adalah adalah seorang penyair, pengarang, dan jurnalis senior asal Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu sastrawan perempuan terkemuka dari angkatan 1960-an yang memiliki kontribusi signifikan dalam pergerakan sastra Indonesia modern serta jurnalistik kebudayaan.[1] Ia menempuh kuliah di jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tetapi tidak menamatkan pendidikannya di kedua fakultas tersebut. Dia mengawali kariernya sebagai wartawan di Angkatan Bersenjata, Pedoman, Femina, dan Tempo.[2] Isma Sawitri dikenal sebagai salah satu sastrawan perempuan terkemuka dari angkatan 1960-an yang memiliki kontribusi signifikan dalam pergerakan sastra Indonesia modern serta jurnalistik kebudayaan.[1]
Kehidupan
Isma Sawitri lahir di Langsa, Aceh. Masa mudanya dihabiskan untuk menempuh pendidikan di Sumatra hingga melanjutkan studi di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia, Jakarta. Lingkungan akademis di Jakarta mempertemukannya dengan berbagai tokoh sastra dan kebudayaan yang memperkuat minatnya dalam dunia kepengarangan.[3]
Karya
Karya-karyanya antara lain: Kwatrin (kumpulan puisi), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (antologi puisi, 1979, Ed. Toeti Heraty), Tonggak 2 (antologi puisi, 1987, Ed. Linus Suryadi AG), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (antologi puisi, Ed. Korrie Layun Rampan), Sembilan Kerlip Cermin (antologi puisi, 2000).[4]
Karier menulis Isma dimulai sejak awal dekade 1960-an. Karya-karyanya, terutama puisi dan cerpen, kerap dipublikasikan di berbagai majalah sastra terkemuka pada zamannya, seperti Horison, Sastra, dan Budaya Jaya.
- Gerakan Sastra: Isma Sawitri merupakan salah satu penandatangan Manifes Kebudayaan (Manikebu) pada tahun 1963, sebuah manifesto kebudayaan yang memperjuangkan kebebasan berkreasi tanpa benturan ideologi politik tertentu.
- Karier Jurnalistik: Selain aktif dalam penulisan kreatif, Isma meniti karier profesional sebagai wartawan. Ia bergabung dengan majalah mingguan Tempo sejak awal berdirinya majalah tersebut pada dekade 1970-an hingga memasuki masa pensiun. Di Tempo, ia banyak berkontribusi dalam penulisan artikel seni, budaya, dan laporan mendalam.[5][6]
Karakteristik Karya dan Gaya Penulisan
Puisi-puisi Isma Sawitri dicirikan oleh lirisitas yang kuat, pengamatan introspektif terhadap kehidupan sehari-hari, serta pemanfaatan bahasa yang padat dan subtil. Dalam prosa maupun esai kebudayaannya, ia dikenal memiliki kepekaan analitis yang tajam terhadap fenomena sosial dan perkembangan kesenian Indonesia.[6]
Referensi
- 1 2 "Ensiklopedia – Sekolapedia" (dalam bahasa American English). 2026-08-22. Diakses tanggal 2026-08-23.
- ↑ "Google Scholar". scholar.google.com. Diakses tanggal 2026-08-23.
- ↑ "Artikel "Isma Sawitri" - Ensiklopedia Sastra Indonesia". ensiklopedia.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 2026-08-23.
- ↑ 1953, Rampan, Korrie Layun (2000). Leksikon susastra Indonesia (Edisi 1). Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 9796663589. OCLC 47208002.
{{cite book}}:|last=memiliki nama numerikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) - ↑ Jakarta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI. "Daftar Katalog Sastra". JAKLITERA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-23.
- 1 2 "ISMA SAWITRI DAN BAMBANG BUJONO - 1990-04-14 - DATA TEMPO". data.tempo.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-23.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |