Senin, 02 November 2026
15:18 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Insiden Jingkang

Insiden Jingkang

Bagikan:
Insiden Jingkang
Bagian dari Perang Song-Jin
250px-ChinaHenanKaifeng.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Kaifeng
TanggalSeptember 1125 hingga Maret 1127
Lokasi
Hasil Kemenangan Jin
Perubahan
wilayah
Semua wilayah di sebelah utara Sungai Huai diserahkan ke Jin
Pihak yang terlibat
Dinasti Song Utara Dinasti Jin
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Kaisar Song Qinzong Kaisar Jin Taizong
Wanyan Nianhan
Wanyan Wolibu
Kekuatan
Pengepungan pertama: 200.000
Pengepungan kedua: 70.000
Pengepungan pertama: 100.000
Pengepungan kedua: 150.000
Korban jiwa dan kerugian
Seluruh keluarga kerajaan diculik, diperbudak. Kehancuran pemerintahan. Tidak diketahui

Insiden Jingkang (Hanzi sederhana:靖康事变; Hanzi tradisional:靖康事變), Penghinaan Jingkang (Hanzi sederhana:靖康之耻; Hanzi tradisional:靖康之恥), atau Kekacauan Periode Jingkang (Hanzi sederhana:靖康之乱; Hanzi tradisional:靖康之亂) [1] adalah peristiwa yang berlangsung pada tahun 1127 ketika tentara Jurchen dari Dinasti Jin mengepung dan menjarah Bianjing (Kaifeng), ibu kota Dinasti Song. Tentara Jin menculik Kaisar Qinzong, ayahnya Huizong, bersama dengan anggota keluarga kerajaan lainnya.

Peristiwa ini mengakhiri era Dinasti Song Utara, yaitu periode saat Dinasti Song menguasai sebagain besar Cina. Sisa keluarga kerajaan yang selamat melarikan diri dan mendirikan pemerintahan baru di Lin'an.

Akibat dan penilaian

  • Banyak nama keluarga Tionghoa yang terdengar asing dan tidak tradisional yang ada di Tiongkok saat ini dapat berasal dari insiden ini, karena para tawanan Han Tiongkok dipaksa untuk mengadopsi nama keluarga Jurchen. Faktanya, banyak anggota keluarga kekaisaran Dinasti Qing memiliki nama keluarga "Gioro" (misalnya Aisin Gioro, Irgen Gioro); diyakini bahwa mereka adalah keturunan Kaisar Huizong dan Kaisar Qinzong.[2]

Di budaya populer

  • Di Legenda Pendekar Pemanah Rajawali, sebuah novel wuxia karya Jin Yong, penghinaan nasional ini menginspirasi pendeta Taoisme Qiu Chuji untuk memberikan nama kedua karakter utama cerita ini, Guo Jing dan Yang Kang yang lahir setelah insiden ini dalam cerita.[3]
  • Invasi ini, dikombinasikan dengan kekuasaan Mongol di kemudian hari, diduga telah menyebabkan kemajuan Tiongkok menuju kapitalisme tertinggal beberapa abad; meskipun Dinasti Ming kemudian memulihkan tatanan lama, akibat kejatuhan mereka sendiri ke tangan Manchu adalah Tiongkok kembali mandek. Pandangan ini didukung oleh fakta bahwa ekonomi Song telah maju, dan memperlihatkan banyak ciri kapitalisme. Menurut pandangan ini, Insiden Jingkang memiliki signifikansi historis terkait dengan kemunduran Tiongkok kekaisaran di akhir.[4]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ↑ Coblin, W. South. "Migration History and Dialect Development in the Lower Yangtze Watershed," Bulletin of the School of Oriental and African Studies (Volume 64, Number 3, 2002): 529–453. Page 533.
  2. ↑ 《黑龙江志稿•氏族》:「觉罗者,传为宋徽、钦之后。」("People who held the surname "Gioro" were believed to be the descendants of Emperors Huizong and Qinzong.)
  3. ↑ Jinyong, The Legend of the Condor Heroes, Book 1, Chapter 1.
  4. ↑ Li Bo, Zheng Yin, "5000 years of Chinese history", page 874-880

Referensi

  • Kaplan, Edward Harold. Yueh Fei and the founding of the Southern Sung. Thesis (Ph. D.) -- University of Iowa, 1970. Ann Arbor: University Microfilms International, 1970.
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan