Senin, 28 September 2026
04:42 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Huia

Huia

spesies burung punah di Selandia Baru

Huia
Rentang waktu: Holosen
Ilustrasi dua ekor burung di dahan pohon
Sepasang huia (jantan di depan betina) dari A History of the Birds of New Zealand (1888) karya W. L. Buller
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Infraordo: Passerides
Famili: Callaeidae
Genus: †Heteralocha
Cabanis, 1851
Spesies:
†H. acutirostris
Nama binomial
†Heteralocha acutirostris
(Gould, 1837)
Peta Pulau Utara Selandia Baru berwarna hijau muda dengan garis-garis hijau tua dari pegunungan tengah ke laut sepanjang pantai timur hingga Wellington, serta satu titik merah dan dua titik kuning.
Hijau muda: sebaran asli
Garis hijau tua: sebaran tahun 1840
Merah: lokasi penampakan terakhir yang terkonfirmasi tahun 1907
Kuning: lokasi penampakan kemudian yang tidak terkonfirmasi
Sinonim
  • Neomorpha acutirostris (betina)
  • Neomorpha crassirostris (jantan)
  • Heteralocha gouldi

Huia (/ˈhuːjə,-iːə/ [2] Māori: [ˈhʉiˌa]; Heteralocha acutirostris) adalah spesies burung pial Selandia Baru yang telah punah, endemik di Pulau Utara Selandia Baru.[1] Penampakan huia terakhir yang dikonfirmasi terjadi pada tahun 1907, meskipun ada penampakan lain yang dapat dipercaya pada tahun 1924.[3] Burung ini sudah menjadi burung langka sebelum kedatangan orang Eropa, hanya ditemukan di pegunungan Ruahine, Tararua, Rimutaka, dan Kaimanawa di tenggara Pulau Utara.[4][5]

Taksonomi

Nama genusnya, Heteralocha, berasal dari bahasa Yunani Kuno ἕτερος yang berarti "berbeda" dan ἄλοχος yang berarti "betina".[6] Hal ini mengacu pada perbedaan mencolok bentuk paruh antara jantan dan betina. Nama spesifiknya, acutirostris, berasal dari bahasa Latin acutus, yang berarti "runcing tajam", dan rostrum yang berarti "paruh", dan mengacu pada paruh betina.[7]

John Gould mendeskripsikan huia pada tahun 1836 sebagai dua spesies: Neomorpha acutirostris berdasarkan spesimen betina, dan N. crassirostris berdasarkan spesimen jantan—julukan crassirostris berasal dari bahasa Latin crassus, yang berarti "tebal" atau "berat", dan mengacu pada paruh pendek jantan.[7] Pada tahun 1840, George Robert Gray mengusulkan nama N. gouldii, dengan alasan bahwa tidak satu pun nama Gould yang dapat diterapkan pada spesies tersebut.[8] Pada tahun 1850, Jean Cabanis mengganti nama Neomorpha, yang sebelumnya digunakan untuk genus kukuk, dengan Heteralocha.[6]

Huia tampaknya merupakan sisa dari ekspansi awal burung pengicau di negara Selandia Baru dan merupakan yang terbesar dari tiga anggota keluarga Callaeidae, burung pial Selandia Baru; yang lainnya adalah pelana dan kōkako. Satu-satunya kerabat dekat keluarga tersebut adalah burung penjahit; hubungan taksonomi mereka dengan burung lain masih harus dipastikan.[9] Sebuah studi molekuler terhadap gen nuklir RAG-1 dan c-mos dari tiga spesies dalam keluarga tersebut terbukti tidak berhubungan, data memberikan sebagian besar dukungan untuk kōkako atau huia berbeda secara mendasar.[10]

Referensi

  1. 1 2 BirdLife International (2017) [amended version of 2016 assessment]. "Heteralocha acutirostris". IUCN Red List of Threatened Species. 2017 e.T22708091A119257859. Diakses tanggal 28 Desember 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "huia". The Chambers Dictionary (Edisi 9th). Chambers. 2003. ISBN 0-550-10105-5.
  3. ↑ Wood, Caroline (Januari 18, 2017). "Hunting the last huia". Forest and Bird. Diakses tanggal 4 November 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Barrie and Robertson 2005
  5. ↑ Tennyson and Martinson 2006
  6. 1 2 Cabanis 1850–1851:218, footnote
  7. 1 2 Higgins et al. 2006
  8. ↑ Gray 1840:15
  9. ↑ Ewen, John G; Flux, Ian; Ericson, Per GP (2006). "Systematic affinities of two enigmatic New Zealand passerines of high conservation priority, the hihi or stitchbird Notiomystis cincta and the kōkako Callaeas cinerea" (PDF). Molecular Phylogenetics and Evolution. 40 (1): 281–84. Bibcode:2006MolPE..40..281E. doi:10.1016/j.ympev.2006.01.026. PMID 16527495.
  10. ↑ Shepherd, Lara D.; Lambert, David M. (2007). "The relationships and origins of the New Zealand wattlebirds (Passeriformes, Callaeatidae) from DNA sequence analyses". Molecular Phylogenetics and Evolution. 43 (2): 480–92. Bibcode:2007MolPE..43..480S. doi:10.1016/j.ympev.2006.12.008. PMID 17369056.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan