Rabu, 07 Oktober 2026
19:03 WIB
TERKINI
Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara
Horror vacui

Horror vacui

Bagikan:
250px-Battle_between_Boma_and_Krishna_-_Puri_Lukisan_Museum_%2816870525418%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertarungan antara Boma dan Krisna, Museum Puri Lukisan, Bali. Lukisan-lukisan Bali terkenal dengan detail yang rumit dan penuh.

Horror vacui (/ˈhɒrər ˈvɑːkjuːaɪ/; dari bahasa Latin "ketakutan akan ruang kosong") atau kenofobia (dari bahasa Yunani "ketakutan akan yang kosong")[1] dalam seni rupa adalah pengisian seluruh permukaan sebuah bidang atau karya seni dengan ornamen.[2] Dalam fisika, horror vacui merupakan ejawantah dari gagasan Aristoteles bahwa "alam membenci ruang kosong."

Asal mula

Kritikus dan cendekiawan berkebangsaan Italia, Mario Praz, menggunakan istilah ini untuk menerangkan penggunaan ornamen yang berlebihan dalam desain pada zaman Viktoria.[3] Contoh lainnya dari horror vacui dapat terlihat pada halaman karpet naskah-naskah Insular yang dipenuhi dengan hiasan, pola-pola dan lambang-lambangnya yang terjalin mungkin berfungsi sebagai penangkal hal-hal buruk, juga sebagai dekorasi.[4] Ketertarikan untuk mengisi ruang kosong secara cermat juga tergambar dalam dekorasi Arabes dalam kesenian Islam yang dapat dijumpai pada karya-karya zaman dahulu hingga hari ini. Sejarawan seni, Ernst Gombrich, berpendapat bahwa pola dengan ornamentasi yang tinggi dapat berguna menjadi semacam bingkai untuk gambar atau ruang yang dikuduskan. Semakin banyak unsur dari bingkai tersebut, maka semakin pula objek ditengahnya mendapatkan kehormatan.[5]

Banyak kebudayaan di Nusantara menerapkan ragam hias yang rumit pada sebuah bidang. Hal ini didorong oleh kepercayaan bahwa ruang kosong yang tertinggal dapat terisi oleh kekuatan jahat. Oleh karena itu, banyak karya seni hasil kebudayaan-kebudayaan Nusantara diisi oleh ragam hias yang begitu padat.[6] Kerajinan perak Yogyakarta yang diisi dengan berjubel ornamen juga dapat disebut sebagai contoh horror vacui.[7]

Catatan kaki

  1. ↑ Lesley Brown: The New Shorter Oxford English Dictionary. Vol. 1: A−M. Clarendon Press, Oxford 1993, p.360
  2. ↑ merriam-webster.com/dictionary/horror%20vacui horror vacui as defined in the Merriam Webster Dictionary
  3. ↑ Lidwell, William, and Kritina Holden, Jill Butler (2010). Universal Principles of Design, Revised and Updated: 125 Ways to Enhance Usability, Influence Perception, Increase Appeal, Make Better Design Decisions, and Teach through Design. Beverly, Massachusetts: Rockport Publishers. hlm. 128–9. ISBN 978-1592535873.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  4. ↑ Guilmain, Jacques (1987). "The Geometry of the Cross-Carpet Pages in the Lindisfarne Gospels". Speculum. 62 (1): 21–52. doi:10.2307/2852565. ISSN 0038-7134. JSTOR 2852565.
  5. ↑ Carrier, David (2008). A world art history and its objects (dalam bahasa English). University Park, Pa.: Pennsylvania State University Press. hlm. 12. ISBN 9780271036069. OCLC 1080549502.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  6. ↑ Seni dan Budaya. PT Grafindo Media Pratama. ISBN 9789797583712.
  7. ↑ Kal, Pienke W. H. (2005). Yogya Silver: Renewal of a Javanese Handicraft (dalam bahasa Inggris). KIT Publishers. ISBN 9789068321838.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan