Rabu, 21 Oktober 2026
01:43 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Homo faber

Homo faber

Bagikan:
Fabrication-verres3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Seorang perempuan yang sedang mengerjakan pekerjaan pabrik

Homo Faber merupakan sebuah konsep yang menggambarkan manusia sebagai pekerja.[1] Pekerjaan adalah hal yang utama di dalam kehidupan manusia.[1] Dalam konsep homo ludens, hidup manusia tidak mempunyai arti tanpa pekerjaan.[1]

Penjelasan

Pemahaman deus ludens dipengaruhi konsep Deus Faber.[2] Dalam konsep ini, kemampuan manusia diukur berdasarkan prestasi kerjanya maupun apa yang dihasilkan oleh manusia tersebut.[3] Dalam konsep ini, manusia mampu mengenal dirinya melalui apa yang mereka kerjakan.[1] Nilai-nilai kehidupan manusia ditemukan melalui apa yang mereka kerjakan.[1] manusia mampu mengukur kemampuannya sendiri.[4] Perkembangan teknologi turut memengaruhi konsep deus ludens.[1] Manusia tidak mempunyai arti untuk hidup jika ia tidak mengerjakan sesuatu.[1] Dalam konsep ini, manusia memandang kehidupan sesamanya sebatas pekerjaan.[5] Hal ini menyebabkan relasi antara sesama manusia pun tidak dipandang sebagai relasi personal atau relasi antar sesama manusia.[4] Dalam konsep homo faber, relasi antara satu manusia dengan manusia lain berubah menjadi relasi manusia kepada benda atau objek.[4] Objek disini berarti sesuatu yang dapat diukur dan dikendalikan.[4] Perkembangan maupun perubahan yang terjadi dalam diri manusia pun dinilai dari produktivitas atau hasil akhir dari pekerjaan yang dilakukan oleh manusia tersebut.[4] Dunia atau alam semesta akhirnya pun bisa diukur karena perkembangan teknologi yang merupakan bagian dari pekerjaan manusia.[5] Homo faber juga memungkinkan manusia untuk mengukur berbagai hal dalam dunia atau alam semesta.[5] Secara singkat, manusia melalui apa yang dikerjakan dan apa yang dihasilkan dapat melihat serta mengukur dirinya maupun hal-hal lain yang berada di luar dirinya.[6] Konsep yang merupakan pasangan dari homo faber adalah Homo ludens.[2]

Pengaruh

Konsep homo faber mempunyai pengaruh dalam kehidupan manusia.[2] Kita dapat menemukan konsep homo faber dalam berbagai negera.[2] Jepang adalah salah satu contoh negara yang sangat menekankan konsep homo faber.[5] Hal ini dapat dilihat dari tingginya jam kerja yang dimiliki oleh masyarakat Jepang.[2] Homo faber juga memungkinkan seseorang menjadi workaholic.[2] Selain Jepang, Rusia saat masih menjadi bagian dari Uni Soviet pun demikian.[2] Saat itu, Uni Soviet berada di bawah pimpinan Josef Stalin.[2] Rusia menganut paham komunis.[2] Masa itu, Rusia bahkan memberikan penghargaan kepada seseorang yang dipandang mempunyai semangat kerja yang tinggi.[2] Penghargaan yang diberikan Rusia kepada orang tersebut dapat dikatakan sama dengan penghargaan nobel.[2]

referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 (English) Keekok Lee. 1999. The Natural and the artefactual: The Implication of Deep Science and Deep Technology for environmental philosophy.Maryland: Lexington Books.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Emanuel Gerrit Singgih. 2011. Dari Eden ke Babel: Sebuah Tafsir Kejadiaan 1-11. Yogyakarta: Kanisius.
  3. ↑ (English) Ton Van Prooijen. 2004. Limping but blessed: Jurgen Moltmann's Seacrh for a liberating theology. Rodopi B.V.:Amsterdam.Hlm 243.
  4. 1 2 3 4 5 (English) Josef Tischner. 1994. The Philosophy of Person: Solidarity and Cultural Creativity. Washington: Paideia Press & The Council for Research in Values and Philosophy. Hlm 85-91.
  5. 1 2 3 4 (English) Lewis P. Hinchman. 1994.Hannah Arendt: Critical Essays. Albany:New York Press. Hlm 234-236.
  6. ↑ (English) Warner, Karl Raff. 2001. New Pharmalogical approaches to reproductive Health and Healthy Ageing. New York: Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

Lihat pula

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan