Senin, 26 Oktober 2026
20:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Homo ludens

Homo ludens

Bagikan:
250px-Gamblers.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
sekumpulan orang yang sedang bermain judi

Homo Ludens adalah sebuah konsep yang memahami bahwa manusia merupakan seorang pemain yang memainkan permainan.[1] Homo ludens sendiri merupakan sebuah konsep yang muncul atau ditemukan dalam kebudayaan.[1] Setiap kebudayaan memperlihatkan karakter manusia sebagai pemain.[1] Konsep homo ludens merupakan sebuah fenomena budaya.[1] Namun, konsep tentang permainan sudah ada jauh sebelum kebudayaan.[1] Kita dapat melihat konsep homo ludens dalam bentuk sederhana dalam kehidupan sehari-hari yaitu pada hewan peliharaan.[1] Ketika kita melihat hewan peliharaan kita bermain maka saat itulah kita melihat bahwa konsep tentang bermain itu terjadi tanpa perlu suatu pola atau petunjuk.[1] Dalam kasus ini, bermain dapat dikatakan sebagai insting.[1] Permasalahannya adalah ketika kita mengatakan bahwa bermain sebagai insting maka permainan itu berarti sempit.[1] Sedangkan jika bermain dikatakan sebagai sebuah kehendak atau sebuah pikiran maka makna dari bermain itu akan menjadi luas.[1] Konsep homo ludens ini didasarkan pada konsep Deus Ludens yaitu konsep gambaran karakter Tuhan/Dewa yang bermain atau bersenang-senang.[2][3]

Perspektif psikologi

Konsep homo ludens juga berperan penting dalam dunia psikologi.[1] Kegiatan bermain adalah satu subjek penelitian dalam dunia psikologi.[1] Dalam dunia psikologi, para ahli psikologis berusaha mencari pola perilaku dari pemain dalam melakukan permainan.[1] Tidak hanya melihat pola perilaku, mereka juga berusaha menentukan fungsi biologis para pemain dari kegiatan bermain.[1] Penelitian tersebut kemudian berujung pada pertanyaan tentang mengapa manusia bermain serta apa sebab-sebab manusia bermain.[1] Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah arti dari bermain dan apakah dampak yang dirasakan pemain dari kegiatan bermain.[1] Pertanyaan esensi dari kegiatan bermain adalah bagaimana seorang manusia dapat merasakan kesenangan di tengah permainan, bahkan walaupun permainan itu mengecewakan pemain?[1] Contohnya, bagaimana seorang penjudi bisa merasakan kesenangan dalam bermain judi walaupun ia telah kalah?[1] Melalui pertanyaan ini, kita dapat menemukan esensi dari kegiatan bermain.[1] Kesenangan atau kepuasan dalam bermain ini tidak dapat dianalisis secara total dan juga tidak dapat diinterpretasi secara logis.[1] kesenangan dalam permainan tidak dapat disederhanakan ke dalam salah satu bentuk kategori mental.[1]

Pengaruh

Konsep homo ludens memengaruhi kehidupan manusia.[2] Homo ludens merupakan pasangan dari homo faber yaitu konsep yang memperlihatkan gambaran manusia sebagai pekerja.[2][4][5] Dengan adanya konsep homo ludens, maka dapat tercipta sebuah keseimbangan dalam kehidupan.[2] Keseimbangan kehidupan yang dimaksud ialah manusia tidak melulu harus bekerja tetapi manusia juga harus menyediakan waktu untuk bersantai atau bermain.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 (English) Johan Huizinga. 1950. Homo Ludens: A study of the play element in culture. London: Roy Publishers.
  2. 1 2 3 4 5 Emanuel Gerrit Singgih. 2011. Dari Eden ke Babel: Sebuah Tafsir Kejadiaan 1-11. Yogyakarta: Kanisius.
  3. ↑ (English) Belden C. Lane. 1998. The Solace of Fierce Landscape. New York: Oxford University Press. Hlm 179-180.
  4. ↑ (English) Keekok Lee. 1999. The Natural and the artefactual: The Implication of Deep Science and Deep Technology for environmental philosophy.Maryland: Lexington Books.
  5. ↑ (English) Richard Kearney. 2001. God who may be: a Hermeneutic Religion. Bloomington:Indiana University Press. Hlm 106-109.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan