Sabtu, 26 September 2026
17:47 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Sirkulasi hidrotermal

Sirkulasi hidrotermal atau peredaran hidrotermal (Bahasa yunani kuno ὕδωρ, air,[1] and θέρμη, panas [1]) secara umum merupakan peredaran air panas. Sirkulasi hidrotermal terjadi paling sering di sekitar sumber panas di dalam kerak bumi. Umumnya, peredaran ini terjadi di dekat aktivitas gunung berapi, tetapi dapat terjadi di kerak yang berhubungan dengan intrusi granit, atau sebagai akibat dari orogeni dan metamorfisme.

Sirkulasi hidrotermal lantai samudra

Sirkulasi hidrotermal di lautan merupakan pasak air di sepanjang sistem punggung tengah samudra.

Istilah ini juga termasuk sirkulasi lubang air temperatur tinggi dekat dengan puncak punggungan, serta aliran air difusi sepanjang sedimen dan basal yang terkubur jauh dari puncak punggungan.

Ventilasi hidrotermal adalah lokasi-lokasi di lantai samudra di mana fluida hidrotermal bercampur dengan lautan diatasnya. Mungkin lubang yang paling dikenal adalah asap hitam.

Sirkulasi hidrotermal yang berkaitan dengan vulkanisme dan magma

Sirkulasi hidrotermal tidak terbatas pada lingkungan punggung samudra. Sumber air untuk ledakan hidrotermal, geiser, dan sumber air panas, merupakan air tanah terpanaskan yang terkonveksi di bawah dan bersandingan dengan ventilasi air panas. Sel-sel konveksi sirkulasi hidrotermal hadir di setiap sumber anomali panas, seperti intrusi magma atau ventilasi vulkanik, yang akhirnya kontak dengan sistem air tanah.

Kerak dalam

Hidrotermal juga mengacu pada transportasi dan sirkulasi air di kerak dalam, yang umumnya dari area batuan panas menuju ke area batuan yang lebih dingin.

Endapan bijih hidrotermal

Sejak awal tahun 1900-an, berbagai ahli geologi telah bekerja untuk mengklasifikasikan endapan bijih hidrotermal yang mereka asumsikan terbentuk dari larutan air yang mengalir ke atas. Waldemar Lindgren (1860-1939) mengembangkan klasifikasi berdasarkan intepretasi turunnya suhu dan tekanan dari fluida yang mengendap. Dia lalu menamakannya: "hipotermal", "mesotermal", "epitermal" dan "mesotermal", di mana keempatnya secara berurutan menyatakan penurunan suhu dan meningkatnya jarak dari sumber yang terdalam.[2] Studi terbaru hanya mempertahankan istilah epitermal. Revisi John Guilbert pada tahun 1985 untuk sistem Lindgren, endapan hidrotermal termasuk yang berada di bawah ini:[3]

  • Diurut berdasarkan kenaikan fluida hidrotermal, air magmatik atau air meteorik.
    • Tembaga porfiri dan endapan lainnya, 200 - 800 °C, tekanan menengah
    • Batuan beku-metamorfik, 300 - 800 °C, tekanan rendah hingga menengah
    • Urat kordileran,kedalaman menengah hingga dangkal
    • Epitermal, kedalaman dangkal hingga menengah, 50 - 300 °C, tekanan rendah
  • Sirkulasi larutan meteorik terpanaskan

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 Liddell, H.G. & Scott, R. (1940).
  2. ↑ W. Lindgren, 1933, Mineral Deposits, McGraw Hill, 4th ed.
  3. ↑ Guilbert, John M. and Charles F. Park, Jr., 1986, The Geology of Ore Deposits, Freeman, p. 302 ISBN 0-7167-1456-6
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan