Senin, 28 September 2026
10:54 WIB
TERKINI
Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal
He Xiangning

He Xiangning

Ini adalah nama Tionghoa; marganya adalah He (Ho).
250px-He_Xiangning_youth.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
He Xiangning pada 1909, sedang membopong putranya Liao Chengzhi

He Xiangning (Hanzi:何香凝; Wade–Giles:Ho Hsiang-ning; 27 Juni 1878 – 1 September 1972) adalah seorang revolusioner, feminis, pelukis, dan penyair Tiongkok.[1] Bersama dengan suaminya Liao Zhongkai, ia menjadi salah satu anggota terawal dari gerakan revolusioner Sun Yat-sen Tongmenghui. Sebagai Menteri Urusan Perempuan dalam pemerintahan Nasionalis Sun di Guangzhou (Kanton), ia memperjuangkan kesetaraan hak asasi wanita dan mengadakan pawai pertama di China untuk Hari Wanita Internasional pada 1924. Setelah pembunuhan suaminya pada 1925 dan Chiang Kai-shek penganiayaan kaum Komunis pada 1927, ia cuti dari politik partai selama dua tahun, tetapi aktif bekerja untuk menyelenggarakan pemberontakan melawan invasi Jepang ke China.

Pada 1948, ia bekerjasama mendirikan Komite Revolusioner Kuomintang Tiongkok. Ia menjabat dalam beberapa jabatan berpangkat tinggi setelah pembentukan Republik Rakyat China, yang meliputi Wakil Ketua KKPRT (1954–64), Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional (1959–72), Ketua Komite Revolusioner Kuomintang Tiongkok (1960–72), dan Ketua Kehormatan Federasi Wanita Seluruh China.

He Xiangning merupakan seorang pelukis terkenal dari Sekolah seni rupa Tionghoa Lingnan dan menjabat sebagai Ketua Ikatan Artis Tiongkok pada 1960an. Museum Seni Rupa He Xiangning Nasional dibuka di Shenzhen pada 1997, dan lukisan-lukisannya muncul pada perangko-perangko Tiongkok.

Kehidupan awal

Pada 27 Juni 1878,[2] He Xiangning lahir dengan nama He Jian (何諫, juga He Ruijian 何瑞諫), dalam sebuah keluarga kaya di Hong Kong. Ayahnya, He Binghuan (何炳桓), berasal dari Nanhai, Provinsi Guangdong, memulai bisnis perdagangan teh yang sukses dan berinvestasi dalam real estate.[1][3] Ia dibujuk oleh ayahnya untuk dididik bersama dengan saudara-saudaranya, dan menjadi pelajar dilijen dari usia muda.[1]

Menjadi seorang feminis sejak masih muda,[4] He Xiangning menolak ajakan ayahnya untuk mengikatkan kaki sesuai kebiasaan Tionghoa tradisional. Karena "kaki besar"nya, pada Oktober 1897, ia dilamar untuk menikahi Liao Zhongkai, seorang Tionghoa kelahiran Amerika yang tidak ingin memiliki seorang istri dengan kaki yang diikat.[1] Meskipun menikah, He dan Liao pada umumnya berbagi kecintaan untuk pengetahuan dan seni rupa, dan perasaan untuk keselamatan China.[1] Ia secara finansial mendukung keputusan suaminya untuk belajar di Jepang, menggunakan modal pribadinya dan menjual perhiasaannya untuk mendapatkan 3,000 dolar perak. Liao datang ke Jepang pada November 1902, dan ia menyusulnya dua bulan kemudian. Ia belajar di sekolah persiapan untuk Sekolah Normal Wanita Tokyo.[1]

Revolusi

250px-Liao_Zhongkai%2C_He_Xiangning_and_children.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
He Xiangning bersama dengan Liao Zhongkai dan anak-anaknya

Saat di Tokyo, He dan Liao bertemu revolusioner Tiongkok Sun Yat-sen pada 1903. Mereka menjadi dua anggota terawal gerakan revoluioner anti-Qing Sun Tongmenghui, dan Huang Xing mengajarkan merekan untuk menggunakan senapan dalam persiapan revolusi tersebut. Ia meminjam sebuah rumah sebagai sebuah front untuk operasi rahasia Tongmenghui.[1]

Setelah kembali ke Hong Kong untuk melahirkan putrinya Liao Mengxing, ia meninggalkan putrinya dengan keluarganya, dan kembali ke Tokyo. Ia belajar melukis di Sekolah Seni Rupa Wanita Tokyo[3] dengan artis kekaisaran Tanaka (田中賴章), dan membantu karya propaganda Tongmenghui, termasuk merancang dan menjahit bendera dan lambang. Pada 1908, ia melahirkan putranya Liao Chengzhi.[1]

Ia dan Liao Zhongkai kembali ke Hong Kong pada 1911,[1] tahunnya Revolusi Xinhai. Ia bertemu dengan Soong Ching-ling, yang kelak menjadi istri Sun Yat-sen, pada 1913. Mereka mengikuti kepemimpinan Sun dalam memberontak melawan Jenderal Yuan Shikai yang mengkhianati revolusi tersebut, tetapi terpaksa kembali ke Jepang untuk mengasingkan diri pada 1914.[1][3]

Keluarga

He Xiangning dan Liao Zhongkai memiliki dua anak. Putri mereka, Liao Mengxing, merupakan seorang penerjemah terkenal yang dapat berbahasa Jepang, Inggris dan Prancis. Putra mereka, Liao Chengzhi, menjabat sebagai anggota Politburo, Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional, dan dirancang untuk menjadi Wakil Presiden China sebelum kematian mendadaknya pada 1983. Putri Liao Chengzhi, Liao Hui, merupakan Direktur Kantor Urusan Hong Kong dan Makau dan Wakil Ketua KKPRT.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lee, Lily Xiao Hong; Stefanowska, A. D. (2003). Biographical Dictionary of Chinese Women: The Twentieth Century, 1912–2000. M.E. Sharpe. hlm. 200–204. ISBN 978-0-7656-0798-0.
  2. 1 2 "廖承志和他的母亲何香凝" [Liao Chengzhi dan ibunya He Xiangning] (dalam bahasa Tionghoa). Kongres Rakyat Nasional China. September 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-05. Diakses tanggal 2016-03-08.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 Song, Yuwu (2013). Biographical Dictionary of the People's Republic of China. McFarland. hlm. 117. ISBN 978-1-4766-0298-1.
  4. ↑ Encyclopedia of Women Social Reformers. ABC-CLIO. 2001. hlm. 292–3. ISBN 978-1-57607-101-4.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai He Xiangning.
ke-1
(1954–1959)
ke-2
(1959–1964)
ke-3
(1964–1975)
ke-4
(1975–1978)
ke-5
(1978–1983)
ke-6
(1983–1988)
ke-7
(1988–1993)
ke-8
(1993–1998)
ke-9
(1998–2003)
ke-10
(2003–2008)
ke-11
(2008–2013)
ke-12
(2013–2018)
ke-1
(1949–1954)
ke-2
(1954–1959)
ke-3
(1959–1965)
ke-4
(1965–1978)
ke-5
(1978–1983)
ke-6
(1983–1988)
ke-7
(1988–1993)
ke-8
(1993–1998)
ke-9
(1998–2003)
ke-10
(2003–2008)
ke-11
(2008–2013)
ke-12
(2013–2018)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan