Kamis, 08 Oktober 2026
16:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Halve stuiver

Halve stuiver

Bagikan:
"Benggol" dan "Gobang" dialihkan ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Rupiah.

Halve stuiver/setengah kelip atau Vierduitstuk dahulu disebut Plakat, adalah sebutan untuk koin Belanda selain sen dan setengah sen, yang memiliki nilai paling sedikit, 2½ sen. Nama 'vierduitstuk' mencerminkan nilai historis dari koin tersebut: sebuah duit bernilai delapan sen. Begitu juga dengan koin-koin besar yang lebih tua tetapi memiliki nilai yang sama, kadang-kadang disebut juga dengan vierduitstuk. Dalam masyarakat dikenal dengan sebutan "Gobang" atau "Benggol".

330px-2%2C5centmunt.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sisi depan koin Belanda 2½ sen, 1941.

Belanda

330px-2%2C5centkop.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sisi belakang koin Belanda 2½ sen, 1941.

Plakat merupakan koin perunggu terbesar yang pernah dipergunakan untuk waktu yang cukup lama. Koin ini berasal dari masa sebelum sistem uang desimal diperkenalkan di Belanda pada tahun 1816. Pada tahun 1877 koin ini bertuliskan 2½ sen. Selama Perang Dunia II, koin ini disebut 'zinkstuk/sepotong seng' karena penjajahan Nazi Jerman membuatnya dari logam yang lebih murah tersebut.

Karena koin ini tidak terbuat dari logam mulia, pada halve stuiver tidak pernah menunjukkan potret raja/ratu yang sedang memerintah. Akan tetapi, lambang singa Belanda tetap ditempatkan pada koin ini.

Koin ini terakhir dicetak pada tahun 1942 dan merupakan alat pembayaran yang sah di Belanda hingga tahun 1948 .

Digunakan sebagai token gas

Ketika meteran koin untuk gas diperkenalkan di Belanda, harga gas sekitar 7 sen per m³. Satu halve stuiver dapat membeli gas sebanyak sepertiga m³. Ketika harga gas naik tajam setelah Perang Dunia Pertama, token gas khusus seukuran koin 2½ sen dicetak dan menjadi harga jual sebenarnya untuk setiap unit gas. Akan tetapi orang-orang lebih sering mempergunakan halve stuiver daripada token gas. Sehingga, diputuskan untuk menyediakan slot penyisipan koin meter dengan pin bulat dan token gas dengan keping. Saat kondisi darurat uang, pada tepi koin dibuat ceruk sehingga pas di lubang meteran. Karena hal inilah, pada bagian tepi halve stuiver sering ditemukan bekas lekukan.

Antillen Belanda

Pada saat Perang Dunia II, Antillen Belanda mencetak mata uangnya sendiri. Pada tahun 1944, 2½ sen pertama telah dicetak, dan terakhir kali dipergunakan pada tahun 1985.

Hindia Belanda

330px-2.5_cents%2C_1858%2C_Dutch_East_Indies.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Koin 2½ sen, 1858 Hindia Belanda
250px-Nederlandsch-Indie-001.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sisi depan koin 2½ sen, 1945 Hindia Belanda
250px-Nederlandsch-Indie-002.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sisi belakang koin 2½ sen, 1945 Hindia Belanda

2½ sen merupakan koin terbesar di Hindia Belanda. Koin ini pertama kali dicetak pada tahun 1856 di masa pemerintahan Raja Willem III. Koin ini tidak dipergunakan lagi pasca kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949.

Koin 2½ sen Hindia Belanda di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Benggol/Gobang.[1] Berdasarkan cetakannya, koin Benggol dapat dibedakan menjadi dua bagian. Pertama, koin benggol yang dicetak mulai tahun 1856 hingga tahun 1913, koin ini berbahan Tembaga dengan berat 12,5g dan diameter 31mm.[2] Kedua, koin benggol cetakan tahun 1914 hingga tahun 1945, berbahan Perunggu dengan berat 12,5g dan diameter 31mm.[3]

Cetakan 2½ Sen Nederlandsch Indie

Tahun Cetakan Mint/Mark Monarki Keterangan
1856
2.480.000
Utrecht—Caduceus Willem III Bahan: Tembaga; Diameter: 31mm; Bobot: 12,5g[4]
1856 Proof Utrecht―Caduseus
1857
36.560.000
Utrecht—Caduseus
1857 Proof Utrecht—Caduseus
1858
40.989.806
Utrecht—Caduseus
1859—1895: "Tidak ada cetakan benggol"
Wilhelmina
1896
1.120.000
Utrecht—Caduseus
1897
18.105.000
Utrecht—Caduseus
1898
7.600.000
Utrecht—Caduseus
1899
10.400.000
Utrecht—Caduseus
1900—1901: "Tidak ada cetakan benggol"
1902
6.000.000
Utrecht—Caduseus
1903—1906: "Tidak ada cetakan benggol"
1907
3.000.000
Utrecht—Caduseus
1908
5.940.000
Utrecht—Caduseus
1908 Proof Utrecht—Caduseus
1909
3.060.000
Utrecht—Caduseus
1910—1912: "Tidak ada cetakan benggol"
1913
4.000.000
Utrecht—Caduseus
1913 Proof Utrecht—Caduseus
1914
22.000.000
Utrecht—Caduseus Bahan: Perunggu; Diameter: 31mm; Bobot: 12,5g[5]
1915
6.000.000
Utrecht—Caduseus
1916—1919: "Tidak ada cetakan benggol"
1920
48.000.000
Utrecht—Caduseus
1921—1944: "Tidak ada cetakan benggol"
1945
200.000.000
Philadelphia—P

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ -, Suparlan, ed. (4 Februari 2013). "Satuan Mata Uang Tempo Dulu". suparlan.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-08. Diakses tanggal 5 Juni 2021.{{cite web}}: |editor-last= memiliki nama numerik
  2. ↑ "Netherlands East Indies 2-½ Cents KM# 308.2". www.ngccoin.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-05. Diakses tanggal 5 Juni 2021.
  3. ↑ "Netherlands East Indies 2-½ Cents KM# 316". www.ngccoin.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-05. Diakses tanggal 5 Juni 2021.
  4. ↑ "2½ Cents - Willem III/Wilhelmina". numista.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-05. Diakses tanggal 5 Juni 2021.
  5. ↑ "2½ Cents - Wilhelmina". numista.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-21. Diakses tanggal 5 Juni 2021.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan