Minggu, 11 Oktober 2026
17:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Gua Saptaparni

Gua Saptaparni

gua buddhis di Bihar, India

Bagikan:
Gua Saptaparni
330px-Sattapanni.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gua Saptaparni
osm-intl,13,25.007175,85.410792,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Gua_Saptaparni&revid=29318564&groups=_fe73a44dc9b9011d4e4791cc55845ac029e5a29f&parser=parsoid
Peta interaktif Gua Saptaparni
LokasiRajgir, Bihar
Koordinat25°00′26″N 85°24′39″E / 25.007175°N 85.410792°E / 25.007175; 85.410792
PengelolaArcheological Survey of India
Gua Saptaparni di India
Gua Saptaparni
Lokasi Gua Saptaparni in India
Tampilkan peta India
Gua Saptaparni di Bihar
Gua Saptaparni
Gua Saptaparni (Bihar)
Tampilkan peta Bihar

Gua Saptaparni, juga dikenal sebagai Sapta parni guha (Sanskerta) atau sattapaṇṇi guhā (Pali), secara harfiah berarti “gua tujuh daun” (berasal dari kata sapta, sept), adalah sebuah situs gua Buddhis yang terletak sekitar 2 kilometer (1,2 mi) di barat daya Rajgir, Bihar, India.[1][2] Gua ini berada di sebuah perbukitan.

Gua Saptaparni memiliki arti penting dalam tradisi Buddhis, karena diyakini sebagai tempat di mana Buddha menghabiskan waktu sebelum wafatnya,[3] serta lokasi diadakannya Sidang Buddhis Pertama setelah Buddha meninggal (parinibbāna).[1][4][5]

Di tempat inilah sebuah konsili yang terdiri dari beberapa ratus bhikkhu memutuskan untuk menunjuk Ananda, sepupu Buddha, serta Upali, yang pernah mendampingi Buddha ketika memberikan khotbah di India utara, untuk menyusun ajaran Buddha bagi generasi mendatang. Hal ini sangat penting karena Buddha sendiri tidak pernah menuliskan ajarannya.

Setelah pertemuan di Gua Saptaparni, Ananda menyusun sebuah tradisi lisan mengenai ajaran Buddha berdasarkan ingatannya, yang ia awali dengan kalimat “Demikianlah yang saya dengar pada suatu kesempatan”. Upali dikenal sebagai sosok yang membacakan Vinaya (aturan disiplin), atau “peraturan bagi para bhikkhu”.[1] Tradisi ini tercatat dalam Vinaya Pitaka II.284 hingga II.287 serta Digha Nikaya II.154.[6]

  • Gua Saptaparni, Rajgir
    Gua Saptaparni, Rajgir
  • Pintu masuk Gua Saptaparni
    Pintu masuk Gua Saptaparni

Referensi

  1. 1 2 3 Paul Gwynne (30 Mei 2017). World Religions in Practice: A Comparative Introduction. Wiley. hlm. 51–52. ISBN 978-1-118-97228-1.
  2. ↑ Jules Barthélemy Saint-Hilaire (1914). The Buddha and His Religion. Trübner. hlm. 376–377.
  3. ↑ Digha Nikaya 16, Maha-Parinibbana Sutta, Hari-hari Terakhir Buddha, Buddhist Publication Society
  4. ↑ Kailash Chand Jain (1991). Lord Mahāvīra and His Times. Motilal Banarsidass. hlm. 66. ISBN 978-81-208-0805-8.
  5. ↑ Chakrabartia, Dilip K (1976). "Rājagriha: An early historic site in East India". World Archaeology. 7 (3): 261–268. doi:10.1080/00438243.1976.9979639.
  6. ↑ Peter Harvey (2013). An Introduction to Buddhism: Teachings, History and Practices. Cambridge University Press. hlm. 88–89. ISBN 978-0-521-85942-4.
Ikon rintisan

Artikel bertopik Buddhisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan