| Ficus annulata | |
|---|---|
| Daun dan buah | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Rosales |
| Famili: | Moraceae |
| Tribus: | Ficeae |
| Genus: | Ficus |
| Spesies: | F. annulata |
| Nama binomial | |
| Ficus annulata | |
| Sinonim[2] | |
|
Daftar
| |
Ficus annulata adalah salah satu tumbuhan khas Indonesia.[3] Tumbuhan ini dapat ditemui di Taman Nasional Ujung Kulon.[4] Beringin pencekik termasuk dalam ordo Rosales dan memiliki nama ilmiah Ficus annulata.[5] Beringin pencekik memiliki sinonim nama ilmiahnya yaitu Ficus balabacensis, Ficus flavescens, Ficus valida, Urostigma annulatum, dan Urostigma flavescens.[6] Selain dikenal sebagai beringin pencekik, tumbuhan ini juga dikenal dengan nama ara pencekik.[7] Masyarakat lokal Kalimantan menyebut tanaman ini dengan sebutan bulu atau ara susu.[5] Berbeda dengan masyarakat Kalimantan, orang Sunda menyebut beringin pencekik kiara bodas atau kiara oneng sedangkan orang Jawa menyebutnya grasak.[8]
Habitat dan persebaran
Habitat beringin pencekik adalah di hutan tropis dengan ketinggian hingga 600 meter dari permukaan laut.[7] Beringin pencekik juga ditemukan di hutan dekat dengan sungai, lereng bukit serta daerah pegunungan.[7] Pohon ini dapat tumbuh baik di tanah berpasir maupun di daerah tanah liat.[7] Persebaran tanaman ini meliputi daerah Indo China, Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.[7] Ara pencekik juga dapat ditemukan di Pulau Peucang tepatnya di Taman Nasional Ujung Kulon.[7]
Batang
Saat pohon beringin pencekik masih muda, tinggi batangnya kurang lebih antara lima sampai 10 meter.[8] Tumbuhan ini termasuk tumbuhan berkayu keras dengan struktur percabangan simpodial.[8] Batang beringin pencekik berbentuk silinder dan memiliki warna cokelat.[8] Batang beringin pencekik secara umum terdiri dari kulit dan kayu yang dalam istilah biologi disebut empulur.[8] Bagian kulit batang beringin pencekik bertekstur kasar.[8] Kulit yang kasar tersebut apabila tersayat maka akan muncul getah berwarna putih susu.[8] Bagian kayu dari pohon beringin pencekik berwarna putih dan berlendir pada bagian permukaan kayunya.[8] Bagian yang berlendir tersebut yang biasanya disebut dengan kambium.[8] Fungsi batang beringin pencekik seperti fungsi batang pada umumnya yaitu untuk menyokong berdirinya tanaman dan menyalurkan air dan nutrisi.[8] Ada satu hal yang menarik dari batang beringin pencekik yaitu pada habitat aslinya tanaman ini akan hidup menempel pada tanaman lain sehingga batangnya juga berfungsi turut serta membelit tanaman inang.[8]
Akar
Beringin pencekik termasuk tanaman dikotil atau berbelah dua.[8] Seperti halnya tanaman dikotil lainnya, akar beringin pencekik juga termasuk dalam golongan akar tunggang dan memiliki warna cokelat.[8] Bagian akar terdiri dari tudung akar, jaringan epidermis, rambut akar, korteks, dan jaringan pengangkut.[8] Jaringan pengangkut pada tanaman ini terdiri dari xylem, floem, dan empulur atau stele.[8] Xilem dan floem adalah jaringan yang terletak di dalam empulur.[8] Struktur anatomi akar beringin pencekik memang hampir mirip dengan struktur anatomi batangnya, hanya bedanya secara kasatmata adalah pada akar ada rambut akar sedangkan pada batang tidak ada.[8] Rambut pada akar ini merupakan bagian dari modifikasi epidermis akar yang menunjang fungsi akar sebagai penyerap nutrisi dari tanah.[8]
Daun
Daun beringin pencekik terdiri dari tangkai, tulang daun dan helaian daun.[8] Setiap satu tangkai daun hanya menyokong satu helai daun saja maka disebut dengan daun tunggal.[8] Daun tanaman ini terletak menyebar pada semua bagian pohon mulai dari dahan hingga ranting.[8] Daun beringin pencekik berbentuk jorong, dan berwarna hijau.[8] Bagian bawah helaian daun meskipun berwarna hijau tetapi agak keputih-putihan.[8] Helaian daun ini memiliki ukuran panjang antara 12 cm hingga 25 cm sedangkan lebarnya antara 5 cm hingga 10 cm.[8] Helaian daun terdiri dari permukaan daun, tepi daun, ujung daun serta pangkal daun.[8] Baik ujung daun maupun pangkal daun beringin pencekik berbentuk meruncing dan permukaan daunnya rata.[8] Bagian tepi daun turut menentukan bentuk helaian daun, tepi daun dari beringin pencekik adalah rata.[8] Tumbuhan ini memiliki struktur tulang daun menyirip.[8]
Bunga
Bunga beringin pencekik termasuk bunga majemuk.[8] Kuntum bunganya tersusun dalam sebuah malai yang terletak pada ujung ranting pohon beringin pencekik.[8] Bagian bunga beringin pencekik terdiri dari mahkota bunga yang berwarna kuning, tangkai, kelopak, benang sari, dan putik.[9] Kelopak bunga tanaman ini berbentuk jorong dan bercangap.[8] Mahkota bunga tumbuhan pencekik ini berwarna kuning terang dan bentuknya bulat.[9] Melalui bunga inilah nantinya beringin pencekik akan memiliki biji dari buah sebagai alat perkembangbiakannya.[9] Setiap pohon beringin pencekik memiliki bunga jantang dan bunga betina sehingga dapat melakukan penyerbukan sendiri.[9]
Buah dan biji
Buah beringin pencekik berbentuk bulat dan berwarna hijau.[10] Buah ini tumbuh dari bunga sehingga letaknya juga mengelompok pada bagian ujung-ujung dahan seperti bunganya.[10] Buah beringin pencekik memiliki ukuran diameter antara 2 cm hingga 4 cm.[10] Buah beringin pencekik ini termasuk dalam kategori buah buni.[10] Pada bagian dalam buah beringin pencekik terdapat biji berwarna cokelat.[10] Biji inilah yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan beringin pencekik.[10] Biji akan dimakan oleh burung, kelelawar atau monyet dan sering kali jatuh ke pohon lalu kemudian tumbuh.[10] Biji dari tumbuhan epifit ini berbentuk unik seperti gasing serta agak keras.[8]
Keunikan
Beringin pencekik hidup secara epifit yaitu menempel pada tanaman lain.[8] Tanaman yang ditumpangi oleh beringin pencekik biasa disebut dengan istilah tanaman inang atau pohon inang.[11] Kehidupan beringin pencekik pada pohon berawal dari biji yang dibawa oleh burung atau monyet sehingga jatuh ke pohon inang.[12] Biji yang jatuh pada dahan atau cabang pohon inang akan tumbuh sehingga menempel pada tanaman inang hingga dewasa.[11] Keberadaan beringin pencekik yag menempel pada dahan tanaman inang ternyata tidak hanya menempel, beringin pencekik makin lama tumbuh melilit tanaman inangnya, bahkan dapat melilit mengelilingi batang tanaman inang secara rapat.[11] Pohon beringin terkenal memiliki akar unik yang berupa sulur.[12] Sulur tersebut seiring bertambahnya usia juga akan tumbuh menuju ke bawah ikut menyerap nutrisi dari tanah.[11] Jadi selain melilit beringin pencekik juga mengambil nutrisi.[11] Akar sulur ini dapat tumbuh menjadi besar dan turut melilit tanaman inang.[11] Beringin yang makin besar akar sulurnya akan menghambat pertumbuhan tanaman inang karena tercekik, akan merebut nutrisi tanaman inang, dan akan menghalangi sinar matahari diterima oleh tanaman inang.[11] Hal tersebut membuat tanaman inang mati secara perlahan.[11] Fenomena inilah yang membuat beringin ini dinamakan beringin pencekik, karena memang seolah-olah mencekik hingga tanaman inangnya mati.[11] Pohon inang yang mati akan hilang karena membusuk sehingga daerah bekas batang tanaman inang akan terlihat berongga.[11] Rongga inilah yang menjadi keunikan bentuk beringin pencekik.[11]
Manfaat
Mendengar namanya memang terkesan mengerikan, tetapi ternyata beringin pencekik juga memiliki manfaat bagi kehidupan manusia.[8] Daun dari tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk mengatasi demam sedangkan akarnya dapat digunakan untuk obat sakit lepra.[8] Cara membuat ramuan obat dari daun beringin pencekik ini adalah dengan merebus 15 gram daun menggunakan air kurang lebih 15 menit.[8] Air rebusan daun beringin pencekik tersebut kemudian diminumkan pada penderita demam.[8]
Referensi
- ↑ de Kok, R. (2024). "Ficus annulata". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2024 e.T198111277A203234081. doi:10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T198111277A203234081.en. Diakses tanggal 2 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Ficus annulata Blume". Plants of the World Online (dalam bahasa Inggris). Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 2 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Ficus annulata Blume". JSTOR Global Plant. 2009. Diakses tanggal 10 Mei 2014.
- ↑ Purwaningsih, Riana Musarofah Titin (2009). Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 126. ISBN 978-979-068-834-6.
- 1 2 "Bulu". Plantamor. 2012. Diakses tanggal 10 Mei 2014.
- ↑
- 1 2 3 4 5 6 "Ficus annulata Blume". Asian Plant. Diakses tanggal 10 Mei 2014.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 "Ficus annulata BL" (PDF). Warintek. Diakses tanggal 10 Mei 2014.[pranala nonaktif permanen]
- 1 2 3 4 "Ficus annulata". Journal of E Flora. 2010. hlm. 42. Diakses tanggal 10 Mei 2014.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Ficus annulata". Flora Republicae Popularis Sinicae. 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-06-17. Diakses tanggal 10 Mei 2014.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Strangler Figs". Blue Planet Biomes. Diakses tanggal 17 Mei 2014.
- 1 2 "Moli & Telsi" (PDF). Conservation International Indonesia. 2004. hlm. 10. Diakses tanggal 17 Mei 2014.[pranala nonaktif permanen]
| Ficus annulata |
|
|---|---|