Kamis, 29 Oktober 2026
14:05 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Energi di Bhutan

Bagikan:

Energi di Bhutan telah menjadi fokus utama pembangunan di kerajaan tersebut sesuai dengan Rencana Lima Tahun. Bhutan telah bekerja sama dengan India dalam melaksanakan proyek pembangkit listrik tenaga air, dan listrik yang dihasilkan diperdagangkan antara kedua negara. Meskipun pembangkit listrik tenaga air Bhutan menghasilkan energi yang jauh melebihi kebutuhannya pada musim panas, pada musim dingin, permintaan energi melonjak dan pada musim tersebut negeri ini harus mengimpor energi dari India.[1][2]

Pada tahun 2011, pemerintah Bhutan memasok listrik ke 60 persen rumah tangga di pedesaan,[1] yang meningkat pesat dari sekitar 20 persen pada 2003.[3][4] Sekitar 2.500 orang menggunakan tenaga surya di Bhutan.[1] Sebagian besar rumah tangga di pedesaan memasak dengan kayu bakar, termasuk rumah tangga yang sudah dialiri listrik. Rumah di desa sering dipanaskan dengan kayu bakar, minyak tanah, atau elpiji.[5]

Bhutan tidak memiliki cadangan minyak bumi atau gas alam. Kerajaan ini memiliki sekitar 1,3 juta ton cadangan batubara, tetapi hanya menggali sekitar 1.000 ton batubara setiap tahunnya dan semuanya untuk konsumsi dalam negeri. Bhutan juga mengimpor sekitar 1.000 barel minyak per hari.[3] Sebagian besar minyak yang diimpor dipakai untuk kendaraan bermotor.[6]

Bhutan secara keseluruhan tetap menjadi negara yang netral karbon dan secara neto merupakan penyerap gas rumah kaca.[7][8][9] Namun, seiring dengan kemajuan ekonomi Bhutan, permintaan energi dari dalam negeri juga melonjak.[10]

Referensi

  1. 1 2 3 Chhetri, Pushkar (2010-11-10). "ADB Grants $21.6 M for Rural Electrification". Bhutan Observer online. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-08-24. Diakses tanggal 2011-11-29.
  2. ↑ "Bhutan: Green Power Development Project" (PDF). Asian Development Bank. Oktober 2008. Diakses tanggal 2011-11-29.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)[pranala nonaktif]
  3. 1 2 Page, Kogan (2003). "Asia & Pacific Review 2003/04: The Economic and Business Report". Asia and Pacific Review (Edisi 21). Kogan Page Publishers: 31. ISBN 0-7494-4063-5. Diakses tanggal 2011-11-29.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  4. ↑ Brown, Lindsay; Armington, Stan (2007). Bhutan (Edisi 3). Lonely Planet. hlm. 24, 151, 167, 198. ISBN 1-74059-529-7. Diakses tanggal 2011-11-29.
  5. ↑ Pelden, Sonam (2010-08-31). "From Dung to Clean Energy". Bhutan Observer online. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-12-01. Diakses tanggal 2011-11-29.
  6. ↑ Shukla, P. R (2004). Climate Policy Assessment for India: Applications of Asia-Pacific Integrated Model (AIM). Universities Press. hlm. 146. ISBN 81-7371-484-3. Diakses tanggal 2011-11-29.
  7. ↑ "Bhutan- Climate Action Tracker". Climate Action Tracker. Diakses tanggal 29 Juli 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Pelden, Sonam (2011-09-05). "Report Underlines Climate Threats". Bhutan Observer online. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-11-26. Diakses tanggal 2011-11-27.
  9. ↑ Pelden, Sonam (2011-10-11). "Bhutan to Submit its Climate Issues to UNFCCC in Durban". Bhutan Observer online. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-11-27. Diakses tanggal 2011-11-27.
  10. ↑ Pelden, Sonam (2010-10-03). "Challenge of Powering Growth". Bhutan Observer online. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-06-10. Diakses tanggal 2011-11-29.
Energi di Asia
Negara
berdaulat
Asia Tenggara
Asia Timur
Asia Selatan
Asia Tengah
Asia Barat
Lintas benua
Negara dengan
pengakuan terbatas
Dependensi dan
wilayah lain
1 Terkadang dimasukkan ke Eropa, tergantung definisi perbatasan. 2 Terkadang dimasukkan ke Oseania. 3 Negara lintas benua.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan