Kamis, 24 September 2026
01:30 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Edith Sitwell

Edith Sitwell

Dame Edith Sitwell
250px-Roger_Fry_-_Edith_Sitwell.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret Edith Sitwell karya Roger Fry
Lahir(1887-09-07)7 September 1887
Meninggal9 Desember 1964(1964-12-09) (umur 77)
PekerjaanPenyair
KerabatGeorge Sitwell (ayah)
Osbert Sitwell dan Sacheverell Sitwell (saudara)

Dame Edith Louisa Sitwell (7 September 1887 – 9 Desember 1964) adalah seorang penyair yang menghasilkan karya dengan gaya bahasa yang khas berisi nilai-nilai humanisme.[1] Ia sangat memperhatikan aspek humanistis serta kedalaman emosional.[1]

Biografi

Sitwell lahir dengan nama Dame Edith Sitwell, lahir di Scarborough, Yorkshire pada 7 September 1887, dan meninggal di London pada tangal 9 Desember 1964.[2] Ia lahir dari keluarga bangsawan bersama kedua saudara laki-lakinya Osbert dan Sacheverell.[3] Ibunya adalah seorang perempuan terhormat bernama Lady Ida Emily Augusta Denison.[2]

Karakteristik

Awal kemunculannya karakter Sitwell dalam karyanya sering kali eksperimental, menciptakan melodi, menggunakan kesombongan yang mencolok, ritme baru, dan kiasan pribadi yang cenderung membingungkan. Upayanya untuk berubah ditentang, tetapi, seperti yang diamati oleh New Statesman, "kalah setiap pertempuran, dia memenangkan kampanye," dan muncul sebagai pendeta tinggi puisi abad ke-20.[4] Namun, seriring berkembangnya waktu perubahan memanglah diperlukan. Seperti kata Sitwell dalam pengantar bukunya The Canticle of the Rose: Selected Poems 1920-1947 (1950) “Pada saat saya mulai menulis, perubahan arah, citra dan ritme dalam puisi menjadi perlu, karena kelemahan ritmis, kematian verbal, pola yang mati dan diharapkan, dari beberapa puisi yang segera mendahului kita.”[4]

Karya-karya

Karyanya yang paling menonjol dan sangat terkenal muncul selama Perang Dunia II, yakni berjudul Nyanyian Jalanan (Street Songs) yang ia tulis pada tahun 1942, Nyanyian Hijau (Green Song) yang ia selesaikan tahun 1944, dan Nyanyian Dingin (Song of the Cold) pada tahun 1945.[1] Sitwell sendiri telah memublikasikan karya-karyanya semenjak tahun 1915, salah satunya Ibu dan Puisi yang Lain (The Mother and Other Poems).[1] Tiga tahun kemudian ia menghasilkan karya-karya yang menggabungkan unsur musik atau unsur suara dalam syair.[1] Selain menulis syair, ia juga dikenal sebagai penulis prosa.[1] Karya prosanya antara lain, Alexander Sang Paus (Alexander Pope) pada tahun 1930, Bath tahun 1932, The English Eccentrics tahun 1933, dan Aku mencintai di bawah Matahari Hitam ( love under a Black Sun) pada tahun 1937.[1] Ia juga menulis skenario film di Hollywood pada tahun 1953.[1] Sitwell berasal dari keluarga yang memiliki nama harum di bidang kesusastraan, ia adalah anak dari Sir George Sitwell serta saudara perempuan Sir Osbert dan Sir Sacheverell Sitwell.[1] Bersama-sama saudaranya ia menghasilkan karya Roda-roda (Whells) pada tahun 1916.[1]

Rujukan

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (Indonesia)Van Hoeve dan Ichtiar Baru., Ensilkopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, hal. 3166
  2. 1 2 Eccentric patriarch with slender grip on reality, Tim Harris, The Age, January 2003, accessed March 2010
  3. "Edith Sitwell". Poetry Archive (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2022-03-10.
  4. 1 2 Foundation, Poetry (2022-03-09). "Edith Sitwell". Poetry Foundation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-10.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan