Kamis, 15 Oktober 2026
05:31 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus
Imam adz-Dzahabi

Imam adz-Dzahabi

Sejarawan Islam Suriah dan ahli Hadis (1274-1348)

Bagikan:
Infobox orangAl-Imam (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Imam adz-Dzahabi
rahimahullah Suntingan nilai di Wikidata
330px-Al_Dhahabi.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahiran5 Oktober 1274 Suntingan nilai di Wikidata
Kafr Batna Suntingan nilai di Wikidata
Kematian4 Februari 1348 Suntingan nilai di Wikidata (73 tahun)
Damaskus Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
AgamaIslam Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
SpesialisasiMazhab-Mazhab Teologi Islam, Ulum hadis dan sejarah Suntingan nilai di Wikidata
Pekerjaanmuhaddits,sejarawan,Islamicist (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Bekerja dial-Salihiyya (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Murid dariIbnu Daqiq al-Ied, Al-Mizzi, Al-Birzali (en) Terjemahkan, Ibnu Taimiyah, Abu Bakr ibn Abd al-Hakam (en) Terjemahkan, Ibn al-Kharrat al-Dawalibi (en) Terjemahkan, al-Dimyāṭī (en) Terjemahkan, Ibnu Sayyid an-Nas, Taqiyuddin as-Subki dan Badruddin Ibnu Jama'ah Suntingan nilai di Wikidata
MuridTajuddin as-Subuki, Ibnu Katsir, Shams al-Din Ibn al-Mawsili (en) Terjemahkan, Al-Safadi dan Jamāl al-Dīn al-Zaylaʿī Suntingan nilai di Wikidata
Karya kreatif

Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qayimaz adz-Dzahabi (bahasa Arab:أبو عبد الله شمس الدّين مُحَمَّد بن أحمد بن عُثمان الذَّهَبِيّ),[1] yang lebih dikenal sebagai Al-Imam Adz-Dzahabi atau Al-Dhahabi, adalah seorang Ulama Sunni yang lahir pada 3 Rabiul Akhir 673 H / 5 Oktober 1274. Dia berasal dari Maula Bani Tamim. Ia hidup pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk yang berperang melawan invasi Mongol.[2]

Kehidupannya

Dia dilahirkan pada tahun 673 H di Mayyafariqin Diyar Bakr, perbatasan Turki-Suriah. Ia dikenal dengan kekuatan hafalan, kecerdasan, kewara’an, kezuhudan, kelurusan aqidah dan kefasihan lisannya. Adz-Dzahabi ke Mesir pada tanggal 16 Rajab tahun 690 Hijriyah. Dan, ia ke Makkah untuk melaksanakan haji dan belajar hadits pada tahun 698 Hijriyah.[2] Setelah ia berkeliling dari berbagai daerah belajar dari lebih 1.000 guru, akhirnya ia menetap di Ghouta, pinggiran Damaskus.

Adz-Dzahabi menetap dari tahun 703 H / 1303 M setelah kekalahan Mongol dari pasukan Mamluk, ia menetap hingga tahun 718 H / 1318 M.

Guru-gurunya

Dia menuntut ilmu sejak usia dini dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua bidang ilmu: Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Dia menempuh perjalanan yang jauh dalam mencari ilmu ke Syam, Mesir, dan Hijaz (Mekkah dan Madinah). Dia mengambil ilmu dari para ulama di negeri-negeri tersebut. Di antarapara ulama yang menjadi guru-guru dia adalah:

Yang dia letakkan namannya paling awal di deretan guru-guru yang memberikan ijazah pada dia dalam kitabnya, Mu’jam asy-Syuyukh. Dia begitu mengagumi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, “Dia lebih agung jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun dan maqam maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tidak…-Demi Allah- bahkan dia sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.” (Raddul Wafir, hal. 35)

  • Al-Hafizh Jamaluddin Yusuf bin Abdurman al-Mizzi

Yang dikatakan oleh dia, “Dia adalah sandaran kami jika kami menemui masalah-masalah yang musykil.” (ad-Durar al-Kaminah,V:235)

  • Al-Hafizh Alamuddin Abdul Qasim bin Muhammad al-Birzali[2]

Yang menyemangati dia dalam belajar ilmu hadits, dia mengatakan tentangnya: “Dialah yang menjadikanku mencintai ilmu hadits.” (ad-Durar al-Kaminah, III:323)

Ketiga ulama di atas adalah yang banyak memberikan pengaruh terhadap kepribadian dia. Adapun guru-guru dia yang lainnya adalah Umar bin Qawwas, Ahmad bin Hibatullah bin Asakir, Yusuf bin Ahmad al-Ghasuli, Abdul Khaliq bin Ulwan, Zainab bintu Umar bin Kindi, al-Abuqi, Isa bin Abdul Mun’im bin Syihab, Ibnu Daqiqil ‘Id, Abu Muhammad ad-Dimyathi, Abul abbas azh-Zhahiri, ali bin Ahmad al-Gharrafi, Yahya bin ahmad ash-Shawwaf, at-Tauzari, masih banyak lagi yang lainnya.

Al-Imam adz-Dzahabi memiliki Mu’jam asy-Syuyukh (Daftar Guru-Guru) dia yang jumlahnya mencapai 3000-an orang (adz-Dzahabi wa Manhajuhu fi Kitabihi, Tarikhil Islam)

Konflik Madzhab

Pertemanan antara Al-Mizzi, Adz-Dzahabi dan Al-Barzali jelas-jelas merugikan Abul Abbas Ibnu Taimiyah. Di samping pertemanan ini juga menjadikan mereka menghadapi satu persoalan pelik yang mana jika mereka menjauhi Ibnu Taimiyah maka hal itu justru lebih baik. Hubungan pertemanan di antara mereka yang terkadang mengajak mereka untuk condong kepada pendapat Imam Hambali sering menyusahkan mereka dan sampai mereka menghadapi sesuatu yang di luar batas kemampuannya.

Sebab pertemanan mereka itu, Al-Mizzi mendapatkan siksaan, Adz-Dzahabi diasingkan karena pendapatnya tentang pendirian Darul Hadits terbesar di Damaskus yaitu Darul Hadits Al-Asyrafiyah yang kantornya ditutup setelah meninggalrya Al-Mizzi pada tahun 742 Hijriyah. Di mana, Ali bin Abdul Kafi meminta bantuan kepada Adz-Dzahabi untuk mengurusnya hingga orang-orang Syafi'iyyah menganggap Adz-Dzahabi bukan golongan Asy'ari.[2]

Murid-muridnya

Di antara murid dia adalah: Tajuddin as-Subki, Muhammad bin Ali al-Husaini, al-Hafizh Ibnu katsir, al-Hafizh Ibnu Rajab, dan masih banyak lagi selain mereka.

Perkataan para Ulama

Al-Imam Ibnu Nashruddin ad-Dimasyqi berkata, “Dia adalah Ayat (tanda kebesaran Allah-red) dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil (ilmu kritik hadits-red) lantaran mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.” (Raddul Wafir, hal. 13) Ibnu Katsir berkata, “Dia adalah Syaikh al-Hafizh al-kabir, Pakar Tarikh Islam, Syaikhul muhadditsin…dia adalah penutup syuyukh hadits dan huffazhnya.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, XIV:225)

Tajuddin as-Subki berkata, “Dia adalah syaikh Jarh wa Ta’dil, pakar Rijal, seakan-akan umat ini dikumpulkan di satu tempat kemudian dia melihat dan mengungkapkan seja mereka.” (Thabaqah Syafi’iyyah Kubra, IX:101)

An-Nabilisi berkata, “Dia pakar zamannya dalam hal perawi dan keadaaan-keadaan mereka, tajam pemahamannya, cerdas, dan ketenarannya sudah mencukupi daripada menyebutkan sifat-sifat nya.” (ad-Durar al-Kaminah, III:427)

Ash-Shafadi berkata, “Dia seorang hafizh yang tidak tertandingi, penceramah yang tidak tersaingi, mumpuni dalam hadits dan rijalnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang ‘illah dan keadaan-keadaannya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang biografi manusia. Menghilangkan ketidakjelasan dan kekaburan dalam seja manusia. Dia memiliki akal yang cerdas, benarlah nisbahnya kepada dzahab (emas). Dia mengumpulkan banyak bidang ilmu, memberi manfaat yang banyak kepada manusia, banyak memiliki karya ilmiah, lebih mengutamakan hal yang ringkas dalam tulisannya dan tidak berpanjang lebar. Aku telah bertemu dan berguru kepadanya, dan membaca banyak dari tulisan-tulisannya di bawah bimbingannya. Aku tidak menjumpai padanya kejumudan, bahkan dia adalah faqih dalam pandangannya, memiliki banyak pengetahuan tentang perkataan-perkataan ulama, madzhab-madzahab para imam salaf dan para pemilik pemikiran.” (al-Wafi bil Wafayat, II:163)

Perkataannya

Al-Imam adz-Dzahabi berkata, “Tidak sedikit orang yang memusatkan perhatiannya pada ilmu kalam melainkan ijtihadnya akan membawanya kepada perkataan yang menyelisihi Sunnah. Karena itulah ulama salaf mencela setiap yang belajar ilmu-ilmu para umat sebelum Islam. Ilmu kalam turunan dari ilmu para filosof atheis. Barangsiapa yang sengaja ingin menggabungkan ilmu para nabi dengan ilmu para ahli filsafat dengan mengandalkan kecerdasannya maka pasti dia akan menyelisihi para nabi dan para ahli filsafat. Dan barangsiapa yang berjalan di belakang apa yang dibawa oleh para rasul …..maka sungguh dia telah menempuh jalan salaf dan menyelamatkan agma dan keyakinannya.” (Mizanul I’tidal, III:144)

Dia menukil perkataan ma’mar, “Dahulu dikatakan bahwa seseorang menuntut ilmu untuk selain Allah maka ilmu itu enggan hingga semata-mata untuk Allah.” Kemudian dia mengomentari perkataan ma’mar tersebut dengan mengatakan, “Ya, dia awalnya menuntut ilmu atas dorongan kecintaan kepada ilmu, agar menghilangkan kejahilannya, agar mendapat pekerjaan, dan yang semacamnya. Dia belum tahu tentang wajibnya ikhlas dalam menuntutnya dan kebenaran niat di dalamnya. Maka jika sudah mengetahuinya, dia hisab dirinya dan takut terhadap akibat buruk dari niatnya yang keliru, maka datanglah kepada niat yang shahih semuanya atau sebagiannya. Kadang dia bertaubat dari niatnya yang keliru dan menyesal. Tanda atas hal itu ialah bahwasanya dia mengurangi dari klaim-klaim, perdebatan, dan perasaan memiliki ilmu yang banyak, dan dia hinakan dirinya. Adapun jika dia merasa banyak ilmunya atau mengatakan “saya lebih berilmu daripada Fulan; maka sungguh celakalah dia.” (Siyar A’lamin Nubala’, VII:17)

Dia berkata, “Yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah hendaknya bertakwa, cerdas, mahir Nahwu, mahir ilmu bahasa, memiliki rasa malu dan bermanhaj salaf.” (Siyar, XIII:380)

Dia berkata, “Ahli hadits sekarang hendaknya memperhatikan kutubs sittah, musnad Ahamd dan Sunan Baihaqi. Dan hendaknya teliti terhadap matan-matan dan sanad-sanadnya, kemudian tidak mengambil manfa’at dari hal itu hingga dia bertakwa kepada Rabbnya dan menjadikan hadits sebagai dasar agama. Kemudian ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tetapi dia adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati dan syaratnya adalah ittiba’ (mengikuti nabi Shallallahu alaihi wassalam-red) dan menjauhkan diri dari hawa nafsu dan kebid’ahan.” (Siyar, XIII:323)

Dia berkata, “Kebanyakan ulama pada zaman ini terpaku dengan taqlid dalam hal furu’, tidak mau mengembangkan ijtihad, tenggelam dalam logika-logika umat terdahulu dan pemikiran ahli filsafat. Dengan demikian, bencana pun meluas, hawa nafsu menjadi hukum dan tanda-tanda tercabutnya ilmu semakin tampak. Semoga Allah memati seseorang yang mau memperhatikan kondisi dirinya, menjaga ucapannya, selalu membaca al-Qur’an, menangis atas kejadian zaman, memperhatikan kitab ash-Shahihain dan beribadah kepada Allah sebelum ajal datang secara tiba-tiba.” (Tadzki al-Huffazh, II:530)

Karya-Karyanya

250px-SiyarAN.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kitab biografi "Kehidupan Tokoh-tokoh Terhormat"

Dia memiliki sekitar 100 karya tulis, di antara karya-karya tulis itu adalah:

  1. al-‘Uluww lil ‘Aliyyil Ghaffar
  2. Taariikhul Islam
  3. Siyar A’laamin Nubalaa’
  4. Mukhtashar Tahdziibil Kamaal
  5. Miizaanul I’tidaal Fii Naqdir Rijaal
  6. Thabaqatul Huffazh
  7. Al-Kaasyif Fii Man Lahu Riwaayah Fil Kutubis Sittah
  8. Mukhtashar Sunan al-Baihaqi
  9. Halaqatul Badr Fii ‘Adadi Ahli Badr
  10. Thabaqatul Qurra’
  11. Naba’u Dajjal
  12. Tanqiih Ahaadiitsit Ta’liiq
  13. Muqtana Fii al-Kuno
  14. Al-Mughni Fii adh-Dhu’afaa’
  15. Al-‘Ibar Fii Khabari Man Ghabar
  16. Talkhish al-Mustadrak
  17. Ikhtishar Taarikhil Kathib
  18. Al-Kabaair
  19. Tahriimul Adbar
  20. Tauqif Ahli Taufiq Fi Manaaqibi ash-Shiddiq
  21. Ni’mas Smar Fi Manaaqib ‘Umar
  22. At-Tibyaan Fi Manaaqib ‘Utsman
  23. Fathul Mathalib Fii Akhbaar Ali bin Abi Thalib
  24. Ma Ba’dal Maut
  25. Ikhtishar Kitaabil Qadar Lil Baihaqi
  26. Nafdhul Ja’bah Fi Akhbaari Syu’bah
  27. Ikhtishar Kitab al-Jihad, ‘Asakir
  28. Mukhtashar athraafil Mizzi
  29. At-Tajriid Fii Asmaa’ ish Shahaabah
  30. Mukhtashar Tariikh Naisabuur, al-Hakim
  31. Mukthashar al-Muhalla dan Tartiil Maudhuu’at, Ibn al-Jauzi

Kematian

Adz-Dzahabi wafat setelah sakit cukup lama, di sebuah madrasah yang bernama Ummu Ash-Shalih di kamar tidurnya, pada malam Senin, 3 Dzulqa’dah 748 H, di Damaskus, Suriah dan dimakamkan di pekuburan Bab ash-Shaghir. Hadir dan ikut menyalati saat meninggahrya banyak ulama yang di antara dari mereka adalah muridnya As-Subki.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "Biografi Imam adz-Dzahabi di website islamqa". موقع الإسلام سؤال وجواب. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-30. Diakses tanggal 2024-1-1.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  2. 1 2 3 4 5 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692

Thabaqah asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Tajuddin as-Subki (IX:100-116), Raddul Wafiir, Ibn Nashiruddin ad-Dimasqi, hal.31-32, Abjadul ‘Ulum, Shiddiq Hasan Khan (III:99-100), Dzail Tadzkiratil Huffazh (I:34-37)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan