Sabtu, 31 Oktober 2026
01:05 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Drangiana

Drangiana

Bagikan:
Drangiana
250px-Eastern_Satrapies_of_the_Achaemenid_Empire.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah timur Kekaisaran Achaemenid, termasuk Drangiana.
250px-Xerxes_I_tomb_Zarangian_soldier_circa_470_BCE.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Prajurit Drangiana, sekitar 480 SM di makam Ahasyweros Agung.
250px-Darius_I_statue_Drangiana.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
𓐠𓃭𓈖𓎼
S-rw-n-g
"Zranka"
yang berarti "Drangiana",
Patung Darius Agung versi Mesir.[1][2]

Drangiana atau Zarangiana (bahasa Yunani:Δραγγιανή, Drangianē; dalam bahasa Persia Kuno disebut 𐏀𐎼𐎣, Zraka atau Zranka,[3] Merupakan wilayah bersejarah yang dulunya adalah divisi administrasi Kekaisaran Achaemenid. Wilayah ini berada di sekitar Danau Hamun yang terdiri dari lahan basah di endoreik Cekungan Sistan, perbatasan Iran-Afghanistan, dan cekungan drainasenya Sungai Helmand, sekarang masuk ke dalam wilayah barat daya Afghanistan.

Sejarah

Pada zaman kuno, Drangiana dihuni oleh suku Iran yang oleh orang Yunani kuno disebut Sarangians atau Drangians. Drangiana mungkin ditundukkan oleh sesama suku Iran lainnya, seperti Media, dan kemudian oleh Kekaisaran Achaemenid yang didirikan oleh Koresh Agung (559-530 SM).[4] Menurut Herodotus, pada masa pemerintahan Darius I (522-486 SM), orang-orang Drangia ditempatkan di distrik yang sama dengan suku Utia, Thamanaea, Myci, dan Drangian, serta mereka yang dideportasi ke Teluk Persia. Ibu kota Drangiana, disebut Zarin atau Zranka, besar kemungkinan berlokasi di situs Achaemenid yang luas di Dahan-e Gholaman tenggara dari Zabol, Iran.[5]

Hal signifikan lainnya adalah kota Prophthasia, mungkin terletak di Farah, sekarang masuk wilayah Afghanistan.[6] Drangiana adalah distrik administratif semasa Aleksander Agung dan penerusnya. Pasca kematian Aleksander pada tahun 323 SM, Drangiana diperintah oleh Stasanor, dan kemudia pada tahun 321 SM, dialokasikan untuk Stasandros.

Di akhir abad ke-4 SM, Drangiana merupakan bagian dari Kekaisaran Seleucid, namun pada paruh kedua abad ke-3 SM, untuk sementara dianeksasi oleh Euthydemus I dari Baktria. Pada 206-205 SM, Antiokhus III (222-187 SM) tampaknya telah memulihkan Drangiana untuk Seleucid selama 'Anabasis'-nya. Sejarah selanjutnya mengenai Drangiana selama melemahnya pemerintahan Seleucid tidak jelas, tetapi pada pertengahan abad ke-2 SM wilayah ini ditaklukkan oleh ekspansi Kekaisaran Parthia.[7]

Catatan

  1. ↑ "Susa, Statue of Darius - Livius". www.livius.org (dalam bahasa Inggris).
  2. ↑ Yar-Shater, Ehsan (1982). Encyclopaedia Iranica (dalam bahasa Inggris). Routledge & Kegan Paul. hlm. 10. ISBN 9780933273955.
  3. ↑ Schmitt, Rüdiger (15 Desember 1995). "DRANGIANA or Zarangiana; territory around Lake Hāmūn and the Helmand river in modern Sīstān". Encyclopædia Iranica. The name of the country and its inhabitants is first attested as Old Persian z-r-k (i.e., Zranka)in the great Bīsotūn (q.v. iii) inscription of Darius I (q.v.; col. I l. 16), apparently the original name. This form is reflected in the Elamite (Sir-ra-an-qa and variants), Babylonian (Za-ra-an-ga), and Egyptian (srng or srnḳ) versions of the Achaemenid royal inscriptions, as well as in Greek Zarángai, Zarangaîoi, Zarangianḗ (Arrian; Isidore of Charax), and Sarángai (Herodotus) and in Latin Zarangae (Pliny). Instead of this original form, characterized by non-Persian z (perhaps from proto-IE. palatal *γ or *γh), in some Greek sources (chiefly those dependent upon the historians of Alexander the Great, q.v.) the perhaps hypercorrect Persianized variant (cf. Belardi, p. 183) with initial d-, *Dranka (or even *Dranga?), reflected in Greek Drángai, Drangḗ, Drangēnḗ, Drangi(a)nḗ (Ctesias; Polybius; Strabo; Diodorus; Ptolemy; Arrian; Stephanus Byzantius) and Latin Drangae, Drangiana, Drangiani (Curtius Rufus; Pliny; Ammianus Marcellinus; Justin) or Drancaeus (Valerius Flaccus, Argonautica 6.106, 6.507) occurs.
  4. ↑ Schmitt (1995).
  5. ↑ Gnoli (1993)
  6. ↑ Schmitt (1995).
  7. ↑ Schmitt (1995).

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan