Selasa, 22 September 2026
18:23 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Diprotodon

Diprotodon

genus mamalia

Diprotodon
Rentang waktu: Pleistosen, 1.77/0.78–0.04 jtyl
250px-Diprotodon_australis_skeleton_1.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cetakan kerangka Diprotodon, MNHN, Paris
250px-Diprotodon_%28Diprotodon_optatum%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi Diprotodon betina dengan anaknya dan kakatua koki
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Infrakelas: Marsupialia
Ordo: Diprotodontia
Famili: Diprotodontidae
Genus: Diprotodon
Spesies tipe
Diprotodon optatum
Owen, 1838
Sinonim[1]
  • D. australis Owen, 1844
  • D. annextans McCoy, 1861
  • D. minor Huxley, 1862
  • D. longiceps McCoy, 1865
  • D. bennettii Krefft, 1873
  • D. loderi Krefft, 1873
  • D. optatus Woods, 1960
  • D. australe Molnar & Kurz, 1997
Artikel takson sembarang
250px-Diprotodon_%28Diprotodon_optatum%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Diprotodon adalah marsupial terbesar yang pernah ada. Diprotodon disebut sebagai megafauna Australia, keberadaannya sekitar 1.6 juta tahun yang lalu sampai 40.000 tahun yang lalu. Genusnya sekarang dianggap monotipik, mengandung hanya Diprotodon optatum, marsupialia terbesar yang pernah diketahui.[2] Kata diprotodon dirancang dari kata dalam bahasa Yunani Kuno untuk 'dua gigi depan'.[3] Diprotodon sudah ada dari sekitar 1.6 juta tahun yang lalu sampai kepunahannya sekitar 44,000 tahun yang lalu.[4]

Fosil Diprotodon spp. telah ditemui di berbagai tempat di Australia.[a] Lebih dari satu tulang betina telah ditemukan dengan bayi berada di kantungnya.

Ukuran

Diprotodon adalah binatang berkantung terbesar di Bumi. Panjangnya bisa mencapai 3 meter dengan berat maksimal sekitar 900 kilogram dan panjang tengkorak mencapai 50 cm. Diprotodon sangat besar dan kemungkinan hidup dalam kawanan, tetapi masih menjadi mangsa bagi karnivora perkasa seperti Megalania atau Thylacoleo.

Makanan

Diprotodon, seperti juga megaherbivora lainnya seperti gajah afrika, membatasi penyebaran hutan dan tanaman berkayu. Analisis karbon isotop memperlihatkan bahwa Diprotodon mengkonsumsi variasi makanan yang begitu luas, mulai dari pepohonan, semak belukar, hingga rerumputan.

Mitologi

250px-Bunyip_1890_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diprotodon, begitu fosilnya ditemukan, sering dihubungkan dengan mitos bunyip, makhluk pemakan daging dari perairan (digambar oleh J. Mcfarlane, 1890)

Saat pertama kali fosil diprotodon ditemukan, tidak ada definisi jelas hewan apa yang telah ditemukan, karena memang tidak ada ilmuwan yang secara serius mempelajari kehidupan yang pernah ada di benua ini. Penduduk lokal mengira ini adalah fosil sejenis badak arau gajah. Pendatang Eropa, seperti Reverend John Dunmore Lang, menghubungkan penemuan fosil ini dengan narasi banjir besar di Alkitab.

Penduduk asli Aborigin juga mengkreasikan diprotodon sebagai bagian dari ajaran agama mereka, dengan menganggapnya sebagai bunyip, monster pemakan daging yang hidup di danau. Banyak ahli etnologi dan palaentologi pada saat itu yang memercayai bahwa bunyip adalah ingatan kolektif suku asli mengenai makhluk raksasa yang kadang merambah wilayah rawa, walaupun belum diketahui pasti apakah diprotodon dan megafauna lainnya masih hidup saat Bangsa Eropa mulai mendatangi Australia.

Investigasi saintifik mengenai makhluk bunyip mulai mendapat penentangan setelah tengkorak yang diperkirakan sebagai peninggalan bunyip membuat heboh pada tahun 1846 dan dipamerkan di Museum Australia. Tahun berikutnya, Owen menemukan bahwa tengkorak itu sebenarnya milik anak kuda. Ia heran melihat kalangan ilmuwan sains Australia yang mulai berkembang, bisa menghasilkan kekeliruan yang begitu fatal.

Kepunahan

330px-Fire-stick-_Lycett.webp?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan contoh praktik pembakaran lahan saat memburu kangguru oleh Suku Aborigin, diperkirakan juga menyebabkan kepunahan megafauna seperti Diprotodon[6][7]

Sebagai bagian dari peristiwa kepunahan pada periode Kuarter, diprotodon menjadi bagian dari sekumpulan binatang di darat yang menjadi punah. Penyebab dan waktu terjadinya tidak terlalu jelas karena sulitnya meemperkirakan usia dari fosil yang ditemukan. Biasanya kepunahan ini diperkirakan karena perubahan iklim maupun perburuan berlebihan oleh manusia pendatang, dalam hal ini Suku Aborigin pertama.

Tahun 2001, palaentologis Richard Roberts dan rekan-rekannya menentukan umur dari 28 fosil utama yang ditemukan di sepanjang Australia, sehingga bisa sedikit memperjelas penyebab kepunahan mereka. Kebanyakan kepunahan terjadi 80 ribu tahun lalu, kecuali diprotodon, wombat raksasa, Thylacoleo, dan kangguru muka pendek Procoptodon, Protemnodon, dan Simosthenurus yang ditentukan berasal dari 47 hingga 46 ribu tahun lalu. Sehingga bisa diperkirakan peristiwa kepunahan massal ini terjadi antara 50 hingga 41 ribu tahun lalu.

Pada tahun 2005, ahli geologi Gifford Miller menemukan bahwa penggunaan api menjadi umum pada 45 ribu tahun lalu. Praktik penggunaan api dalam pembukaan lahan dengan pembakaran terbatas ditemukan pada petani dari Suku Aborigin untuk bisa mendapatkan lahan pertanian yang luas dan produktif. Miller berpendapat hal ini secara radikal mengubah lanskap vehetasi dan menyebabkan berkembangnya ekosistem yang lebih tahan api, dengan konsekuensi tertekannya populasi megafauna yang lebih dulu ada. Sebaliknya, menurunnya populasi megafauna juga menyebabkan berkurangnya konsumsi tumbuhan, sehingga bahan bakar api pun menjadi bertumpuk, sehingga memancing lebih banyak kebakaran.

Penggambaran di dinding gua

Suku Aborigin memiliki kebiasaan menggambar di dinding gua, tetapi sering kali subjek yang digambar tidak terlalu jelas bentuknya. Tahun 1907, antropologis Herbert Basedow menemukan peninggalan petroglif jejak kaki di Yunta Springs dan Wilkindinna, Australia Selatan, yang ia percayai merupakan jejak Diprotodon. Tahun 1988, sejarawan Australia Percy Trezise mempresentasikan apa yang ia anggap merupakan penggambaran Quinkan dari Diprotodon di Kongres Pertama Australian Rock Art Research Association. Keduanya klaim ini memiliki kelemahanan, yaitu inkonsistensi dengan anggota tubuh Diptorodon yang banyak dikenal. Tidak seperti karya seni di Eropa yang lebih realistis, karya seni Suku Aborigin lebih abstrak dan sulit diinterpretasi. Apa yang digambarkan bisa jadi pengalaman mistis di dalam mimpi ketimbang apa yang dilihat di dunia nyata.

Referensi

  1. Price, G.J. (2008). "Taxonomy and palaeobiology of the largest-ever marsupial, Diprotodon Owen, 1838 (Diprotodontidae, Marsupialia)". Zoological Journal of the Linnean Society. 153 (2): 369–397. doi:10.1111/j.1096-3642.2008.00387.x.
  2. Price, G.J. (Juni 2008). "Taxonomy and palaeobiology of the largest-ever marsupial, Diprotodon Owen, 1838 (Diprotodontidae, Marsupialia)". Zoological Journal of the Linnean Society. 153 (2): 369–397. doi:10.1111/j.1096-3642.2008.00387.x.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. "Diprotodon". BBC Nature. Science & Nature: Animals. British Broadcasting Corporation. Juli 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-02-08. Diakses tanggal 24 Februari 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. Roberts, R.G.; Flannery, T.F.; Ayliffe, L.K.; Yoshida, H.; Olley, J.M.; Prideaux, G.J.; et al. (8 Juni 2001). "New ages for the last Australian megafauna: Continent-wide extinction about 46,000 years ago" (PDF). Science. 292 (5523): 1888–1892. Bibcode:2001Sci...292.1888R. doi:10.1126/science.1060264. PMID 11397939. S2CID 45643228. Diakses tanggal 26 Agustus 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. Fedorowytsch, T. (2017-07-23). "Fossil footprints reveal Kangaroo Island's diverse ancient wildlife". ABC Net News. Australian Broadcasting Corporation. Diakses tanggal Juli 24, 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. Miller, G. H.; Fogel, M. L.; Magee, J. W.; Gagan, M. K.; Clarke, S. J.; Johnson, B. J. (2005). "Ecosystem Collapse in Pleistocene Australia and a Human Role in Megafaunal Extinction" (PDF). Science. 309 (5732): 287–290. Bibcode:2005Sci...309..287M. doi:10.1126/science.1111288. PMID 16002615. S2CID 22761857.
  7. David, B.; Arnold, L. J.; Delannoy, J.-J.; Fresløve, J.; Urwin, C.; Petchey, F.; McDowell, M. C.; Mullette, R.; Kurnai, G.; Mialanes, J.; Wood, R.; Crouch, J.; Berthet, J.; Wong, V. N. L.; Green, H.; Hellstrom, J. (2021). "Late survival of megafauna refuted for Cloggs Cave, SE Australia: Implications for the Australian Late Pleistocene megafauna extinction debate". Quaternary Science Reviews. 253 106781. Bibcode:2021QSRv..25306781D. doi:10.1016/j.quascirev.2020.106781. S2CID 234010059.

Pranala luar

  1. Termasuk Pulau Kanguru[5]
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan