Senin, 26 Oktober 2026
15:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Kakatua koki

Kakatua koki

spesies burung

Bagikan:
Kakatua koki
250px-Cacatua_galerita_Tas_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Subgenus:
Spesies:
C. galerita
Nama binomial
Cacatua galerita
(Latham), 1790
250px-Cacatua_galerita_range_map.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sulphur-crested cockatoo range (in red), introduced range (in violet)
Artikel takson sembarang

Kakatua koki (Cacatua galerita) merupakan salah satu jenis burung paruh bengkok dari famili Cacatuidae dan genus Cacatua. Selain dikenal dengan kakatua koki juga dikenal dengan nama kakatua jambul kuning. Jenis kakatua ini dapat ditemukan di beberapa daerah bagian timur seperti Australia, Papua Nugini.

Deskripsi

Kakatua koki berukuran antara 45–55 cm dengan berat dan berat tubuh sekitar 815–975 g dengan jambul sepanjang sekitar 14 cm.[2] Kakatua putih memiliki jambul kuning yang besar, penutup telinga bersemu kuning, paruh hitam, dan kaki abu-abu.

Penyebaran dan ras

Burung ini dapat dijumpai di Australia dan seluruh Kawasan Papua dan Tasmania, kecuali beberapa pulau kecil. Spesies kakatua koki terdiri dari empat sub-spesies yang diakui:

  • Triton (Temminck, 1849) – Papua dan kepulauan di sekitarnya
  • Eleonora (Finsch, 1867) – Kep. Aru
  • Fitzroyi (Mathews, 1912) – Australia utara, dari Sungai Fitzroy di barat-laut sampai Teluk Carpentaria di timur-laut
  • Galerita (Latham, 1790) – Australia timur & tenggara dari Cape York sampai Tasmania.

Tempat hidup

Hidup di habitat yang bervariasi seperti hutan sekunder (termasuk hutan rawa dan hutan di sepanjang sungai), hutan bakau, habitat terbuka, lahan budidaya (termasuk sawah dan perkebunan sawit), savana serta kawasan suburban. Dapat ditemui sampai ketinggian 1.500 m di Australia dan 2.400m di Papua.

Reproduksi

Burung kakaktua koki bersifat monogami alias memiliki satu pasangan selama hidupnya. Ketika jantan sudah mulai birahi, tanda-tandanya mulai menaikkan jambulnya sambing menggeleng-gelenkan ke kanan dan kiri sambil bersuara lembut untuk menarik perhatian si betina[3]

Masa reproduksi burung kakatua koki sekitar antara Mei sampai September di Papua dan Agustus sampai januari di Australia. Telur diletakkan di lubang pohon yang cocok, yang disiapkan oleh kedua indukan dengan 2 sampai 3 telur. Kedua burung juga mengerami dan merawat anakan kakatua koki.

Makanan

Pada waktu pagi biasanya memakan biji-bijian, pada siang hari mereka bertengger di pohon makan tunas dedaunan dan menggigit kulit kayu, menjelang sore mereka makan kembali makan yang kemudian terbang terbang ke pepohonan untuk tidur bersama kelompoknya. Setiap hari mereka memakan di tempat yang sama sampai persediaan makanan habis. Pada umumnya mereka memakan biji-bijian, rumput, tunas-tunas daun, akar-akaran, buah beri dan kacang.[4]

Referensi

  1. ↑ BirdLife International (2012). "Cacatua galerita". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2013.2. International Union for Conservation of Nature. Diakses tanggal 26 November 2013. {{cite web}}: |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosongs: |last-author-amp= and |authors=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Sulphur-crested Cockatoo (Cacatua galerita)". www.hbw.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-14.
  3. ↑ "Cacatua galerita (sulphur-crested cockatoo)". Animal Diversity Web (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-14.
  4. ↑ "Australia Zoo – Birds". www.australiazoo.com.au (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-14.
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Cacatua galerita.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan