Determinisme lingkungan, juga dikenal sebagai determinisme iklim atau determinisme geografi, adalah pandangan bahwa lingkungan fisik, bukannya kondisi sosial, yang menentukan kebudayaan. Penganut pandangan ini mengatakan bahwa manusia ditentukan oleh hubungan stimulus dan respon (hubungan lingkungan-perilaku) dan tidak bisa "menyimpang" dari hal itu.
Argumen dasar dari penganut determinisme lingkungan adalah bahwa aspek dari geografi fisik, khususnya iklim, memengaruhi pemikiran individu, yang pada gilirannya akan menentukan perilaku dan budaya yang dibangun oleh individu tersebut. Sebagai contoh, iklim tropis dikatakan menyebabkan kemalasan dan sikap santai, sementara seringnya perubahan cuaca di daerah sub-tropis cenderung membuat etos kerja yang lebih bersemangat. Karena pengaruh lingkungan ini secara lambat laun memengaruhi kondisi biologis manusia, maka perlu untuk merunut migrasi dari kelompok untuk melihat kondisi lingkungan tempat mereka berevolusi. Pendukung utama pendapat ini di antaranya Ellen Churchill Semple, Ellsworth Huntington, Thomas Griffith Taylor dan mungkin pula Jared Diamond, walau statusnya sebagai pendukung determinisme lingkungan masih diperdebatkan.[1]
Determinisme lingkungan versi Jared Diamond
Ilmuwan Amerika Serikat Jared Diamond mengangkat kembali gagasan mengenai pengaruh lingkungan terhadap perjalanan sejarah manusia dalam bukunya Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies (1997). Pada bagian pembuka, Diamond mencatat bahwa gagasan mengenai pengaruh geografi dan biogeografi terhadap perkembangan masyarakat sebenarnya sudah lama ada, tetapi pada masanya pandangan tersebut tidak lagi dihargai oleh kalangan sejarawan, dianggap keliru atau terlalu sederhana, atau bahkan hanya dikarikaturkan sebagai "determinisme lingkungan" lalu diabaikan. Diamond merumuskan argumen utama bukunya dalam satu kalimat: sejarah mengambil arah yang berbeda-beda bagi masing-masing bangsa karena perbedaan pada lingkungan tempat mereka tinggal, bukan karena perbedaan biologis di antara bangsa-bangsa itu sendiri.[2]
Pada bagian penutup buku, setelah merumuskan empat kelompok faktor lingkungan yang dianggapnya paling menentukan perbedaan laju perkembangan sejarah antarbenua, Diamond mengakui bahwa uraiannya tersebut mengundang label "determinisme geografis" dari kalangan sejarawan, sebuah label yang menurutnya sering memicu keberatan karena berkonotasi seolah-olah kreativitas manusia tidak berarti apa-apa, atau seolah-olah manusia hanyalah makhluk pasif yang sepenuhnya diprogram oleh iklim, fauna, dan flora. Diamond menyatakan bahwa kekhawatiran semacam itu keliru: tanpa daya cipta manusia, manusia modern akan tetap memotong daging dengan alat batu dan memakannya mentah-mentah seperti nenek moyang mereka jutaan tahun lalu. Menurutnya, setiap masyarakat manusia memiliki orang-orang yang kreatif; yang membedakan hanyalah bahwa sebagian lingkungan menyediakan lebih banyak bahan baku serta kondisi yang lebih mendukung untuk memanfaatkan penemuan-penemuan tersebut dibandingkan lingkungan lain.[2]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Andrew, Sluyter (2003). "Neo-Environmental Determinism, Intellectual Damage Control, and Nature/Society Science". Antipode. 4 (35): 813–817.
- 1 2 Diamond, Jared (2016). Guns, Germs & Steel: Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-424-138-4.
Artikel bertopik geografi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |