Senin, 02 November 2026
12:18 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Derealisasi

Bagikan:

Derealisasi adalah fenomena disosiatif yang ditandai dengan perubahan persepsi terhadap dunia luar, sehingga penderitanya merasakan bahwa dunia di sekitarnya tidak nyata, terasa jauh, terdistorsi, atau tampak berbeda dari kenyataan. Gejala lainnya meliputi perasaan bahwa lingkungan sekitar kehilangan spontanitas, nuansa emosional, dan kedalaman.[1] Dalam DSM-5, kondisi ini digambarkan sebagai “pengalaman ketidaknyataan atau keterlepasan dari lingkungan sekitar, misalnya ketika orang atau benda terasa tidak nyata, seperti mimpi, berkabut, tidak bernyawa, atau mengalami distorsi visual”. Derealisasi merupakan gejala disosiatif yang dapat muncul ketika seseorang mengalami stres berat.[2][3]

Derealisasi merupakan pengalaman subjektif yang berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap dunia luar, sedangkan depersonalisasi adalah gejala terkait yang ditandai dengan perasaan terlepas dari tubuh dan proses mental sendiri. Keduanya umum dialami secara bersamaan, tetapi juga dapat terjadi secara terpisah.[4]

Derealisasi kronis relatif jarang terjadi dan dapat disebabkan oleh disfungsi pada bagian otak yang menghubungkan lobus oksipital dan temporal.[5] Mengalami derealisasi dalam jangka waktu lama atau mengalami episode berulang dapat mengindikasikan berbagai gangguan psikologis, menimbulkan tekanan emosional yang signifikan, serta membuat penderitanya mulai mempertanyakan kenyataan. Prevalensi derealisasi kronis diperkirakan berkisar antara 0,95% hingga 2,4% dari populasi umum.[6] Kondisi ini sama-sama banyak ditemukan pada laki-laki dan perempuan, sedangkan kemunculannya biasanya dimulai pada masa remaja. Hanya 5% kasus derealisasi kronis yang terjadi pada orang berusia di atas 25 tahun.[7] Gejala derealisasi sementara juga umum dialami oleh masyarakat, dengan prevalensi seumur hidup berkisar antara 26% hingga 74% dan prevalensi sebesar 31% hingga 66% pada saat mengalami peristiwa traumatis.[8]

Derealisasi berkaitan dengan trauma masa kanak-kanak, dengan tingkat keparahannya berhubungan langsung dengan tingkat keparahan perlakuan buruk pada masa kanak-kanak yang dilaporkan oleh penderitanya.[9]

Referensi

  1. ↑ American Psychiatric Association (2004). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders DSM-IV-TR (Text Revision). American Psychiatric Association. ISBN 0-89042-024-6.
  2. ↑ American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (dalam bahasa Inggris) (Edisi 5th). doi:10.1176/appi.books.9780890425596. ISBN 978-0-89042-555-8. Diakses tanggal 2024-11-21.
  3. ↑ "Depersonalization-derealization disorder - Symptoms and causes". Mayo Clinic (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-10-08. Diakses tanggal 2019-10-10.
  4. ↑ "Depersonalization/Derealization Disorder - Psychiatric Disorders". MSD Manual Professional Edition (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-11-11. Diakses tanggal 2021-02-07.
  5. ↑ Sierra M, Lopera F, Lambert MV, Phillips ML, David AS (2002). "Separating depersonalisation and derealisation: the relevance of the "lesion method"". J. Neurol. Neurosurg. Psychiatry. 72 (4): 530–2. doi:10.1136/jnnp.72.4.530. PMC 1737835. PMID 11909918.
  6. ↑ Sedeño, Lucas; Couto, Blas; Melloni, Margherita; Canales-Johnson, Andrés; Yoris, Adrián; Baez, Sandra; Esteves, Sol; Velásquez, Marcela; Barttfeld, Pablo; Sigman, Mariano; Kichic, Rafael; Chialvo, Dante; Manes, Facundo; Bekinschtein, Tristan A.; Ibanez, Agustin (2014-06-26). Soriano-Mas, Carles (ed.). "How Do You Feel when You Can't Feel Your Body? Interoception, Functional Connectivity and Emotional Processing in Depersonalization-Derealization Disorder". PLOS ONE (dalam bahasa Inggris). 9 (6) e98769. Bibcode:2014PLoSO...998769S. doi:10.1371/journal.pone.0098769. ISSN 1932-6203. PMC 4072534. PMID 24967634.
  7. ↑ Murphy, Rachael J. (Januari–Maret 2023). "Depersonalization/Derealization Disorder and Neural Correlates of Trauma-related Pathology: A Critical Review". Innovations in Clinical Neuroscience. 20 (1–3): 53–59. PMC 10132272. PMID 37122581.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Hunter EC, Sierra M, David AS (2004). "The epidemiology of depersonalization and derealisation". Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology. 39 (1): 9–18. doi:10.1007/s00127-004-0701-4. PMID 15022041. S2CID 31285190.
  9. ↑ Daniels, Judith K.; Timmerman, Marieke E.; Spitzer, Carsten; Lampe, Astrid (2024-12-31). "Differential constellations of dissociative symptoms and their association with childhood trauma – a latent profile analysis". European Journal of Psychotraumatology (dalam bahasa Inggris). 15 (1) 2348345. doi:10.1080/20008066.2024.2348345. ISSN 2000-8066. PMC 11095287. PMID 38739008.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan