Sabtu, 03 Oktober 2026
18:32 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Daeng Chelak

Bagikan:

Opu Daeng Cellaq adalah bangsawan Bugis Luwu Yang di-Pertuan Muda Riau II yang memegang jabatan itu dari 1728 sampai 1745 menggantikan saudaranya Opu Daeng Marewah, Yang di-Pertuan Muda Riau I (Marhum Sungai Baru).

Riwayat keluarga

Dia memiliki seorang istri yang bernama Tengku Mandak, saudara Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah[1] dan memiliki memiliki dua orang puteri:

  1. Tengku Hitam
  2. Tengku Putih

Raja ini adalah orang yang menjadikan Riau sebagai pelabuhan maju dan memerintahkan penduduk Riau menanam lada hitam dan gambir. Baginda seorang panglima perang yang berani dan ahli siasat yang bijaksana sehingga Riau ketika itu mahsyur ke segenap Alam Melayu sebagai negeri yang disegani. Keturunannya menjadi pewaris kepada jabatan Yang Dipertuan Muda sampai keturunan terakhirnya yang menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Muhammad Yusuf, Yang Dipertuan Muda XI.

Kematiannya

Dia mangkat di Ulu Riau pada tahun 1745 dan dimakamkan di sana dan baginda digelar Marhum Mangkat di Kota oleh orang-orang Riau.[2][3]

Rujukan

  • R.O. Winstedt (1992). A History of Johore. The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society (MBRAS). ISBN 983-99614-6-2.
  • Abu Hassan Mohamad Sham (1993). Puisi-puisi Raja Ali Haji. Dewan Bahasa Pustaka(DBP). ISBN 983-62-3971-5.
  • Virginia Matheson Hooker (1998). Tuhfat Al-Nafis. Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa Pustaka(DBP). ISBN 983-9510-02-9.

Catatan Kaki

Lihat juga


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh Sultan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan