Sabtu, 26 September 2026
17:53 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Charles VII dari Prancis

Charles VII dari Prancis

60px-Project_Translation_inspection_logo1.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Charles VII of France di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Charles VII yang Jaya
250px-KarlVII.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret Charles VII, oleh Jean Fouquet, tempera di atas kayu, Museum Louvre, Paris, sekitar 1445-1450
Raja Prancis
Berkuasa21 Oktober 1422 – 22 Juli 1461
Prancis17 Juli 1429
PendahuluCharles VI
PenerusLouis XI
Lahir(1403-02-22)22 Februari 1403
Paris, Prancis
Meninggal22 Juli 1461(1461-07-22) (umur 58)
Mehun-sur-Yèvre, Prancis
Pemakaman
AyahCharles VI dari Prancis
IbuIsabella dari Bavaria-Ingolstadt
PasanganMarie dari Anjou
KeturunanLouis XI dari Prancis
Yolande, istri Adipati Savoy
Magdalena, Puteri Viana
Charles, Adipati Berry
Joan, istri Adipati Bourbon
Catherine dari Valois
WangsaWangsa Valois

Charles VII (22 Februari 1403 – 22 Juli 1461), disebut yang Jaya (bahasa Prancis:le Victorieux)[1] atau yang Dilayani Dengan Baik (bahasa Prancis:le Bien-Servi), merupakan Raja Prancis dari tahun 1422 sampai kematiannya,[2] meskipun ia ditentang oleh Henry VI dari Inggris, yang adalah Wali, Adipati Bedford, memerintah banyak wilayah Prancis termasuk ibu kotanya, Paris.

Ia adalah anggota keluarga Wangsa Valois, putra Charles VI, tetapi suksesinya ke atas takhta dipertanyakan oleh pendudukan Inggris di utara Prancis. Akan tetapi ia dengan baik sekali dimahkotai di Reims pada tahun 1429 melalui upaya Jeanne d'Arc untuk membebaskan Prancis dari Inggris. Masa pemerintahannya kemudian ditandai dengan perselisihan dengan putranya, calon Louis XI.

Kehidupan awal

Dilahirkan di Paris, Charles merupakan putra kelima Charles VI dari Prancis dan Isabella dari Bavaria-Ingolstadt. Empat saudaranya yang lebih tua, Charles (1386), Charles (1392–1401), Louis (1397–1415) dan John (1398–1417) masing-masing memegang gelar Putra Mahkota Prancis, pewaris takhta Prancis, sebaliknya; mereka tidak memiliki keturunan, meninggalkan Charles dengan warisan yang kaya akan gelar.[3]

250px-Christine_de_Pisan_and_Queen_Isabeau_detail.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Elisabeth von Bayern-Ingolstadt dengan pelayannya

Hampir segera setelah mendapatkan gelar Putra Mahkota, Charles dipaksa menghadapi ancaman warisannya, yang terpaksa melarikan diri dari Paris di bulan Mei 1418 setelah pasukan-pasukan John sang Pemberani, Adipati Burgundia berupaya untuk menangkap kota tersebut. Pada tahun berikutnya, Charles berupaya untuk rekonsiliasi antara dirinya sendiri dan adipati itu, menemuinya di jembatan Pouilly, dekat Melun, di bulan Juli 1419. Ini terbukti tidak cukup, keduanya bertemu kembali pada tanggal 10 September 1419, di atas jembatan Montereau. Adipati itu, walaupun riwayatnya, terbukti lebih percaya pada sepupu mudanya, asumsi pertemuan yang akan sepenuhnya damai dan diplomatik, dan membawa bersamanya pengawalan kecil saja; pengikut putra mahkota itu bereaksi atas kedatangan Adipati itu, dengan menjebak dan membunuhnya. Tingkat keterlibatan Charles tetap dipertanyakan setelah itu: meskipun ia menyatakan tidak waspada akan niat pengikutnya, dianggap tidak mungkin oleh mereka yang mendengar tentang pembunuhan itu,[4] dan perseteruan lebih lanjut antara keluarga Charles VI dan para Adipati Burgundia. Charles sendiri kemudian dibutuhkan oleh perjanjian dengan Philip yang Baik, putra John, untuk menebus dosa atas pembunuhan tersebut, tetapi ia tidak pernah melakukannya; Meskipun demikian, konon kejadian tersebut mengakibatkannya fobia seumur hidup dari jembatan.

Pada masa remajanya, Charles tercatat atas keberaniannya dan gaya kepemimpinannya: di satu titik setelah menjadi Putra Mahkota, ia memimpin pasukan melawan Inggris, berpakaian merah, putih dan biru yang menggambarkan Prancis; perangkat heraldiknya adalah mengepal sebuah pedang yang terhunus. Akan tetapi, dua kejadian pada tahun 1421 menghancurkan kepercayaan dirinya: ia dipaksa, dengan malunya, mundur dari pertempuran melawan Henry V dari Inggris; dan orangtuanya kemudian mengabaikannya sebagai pewaris takhta yang sah, menyatakan bahwa ia adalah hasil dari perselingkuhan ibunya (yang tenar akan hal tersebut). Merasa dipermalukan, dan takut akan hidupnya, ia melarikan diri ke perlindungan Yolande dari Aragon, yang disebut Ratu Empat Kerajaan, di selatan Prancis, di mana ia dilindungi oleh Ratu Yolande, dan menikahi putrinya, Marie.

Setelah kematian ayah Charles yang tidak waras, Charles VI, suksesi terlempar ke dalam keraguan: jika Putra Mahkota itu sah, dengan begitu ia adalah pewaris yang sah atas takhta. Jika tidak, pewaris itu adalah Adipati Orléans, yang adalah tawanan Inggris. Sebagai tambahan, Perjanjian Troyes, yang ditandatangani oleh Charles VI pada tahun 1420, sebuah mandat bahwa takhta diserahkan kepada Henry VI dari Inggris, putra mendiang Henry V dan Catherine dari Valois, putri Charles VI. Katiga kandidat tersebut memiliki kondisi yang tidak perlu dipertanyakan atas takhta; akan tetapi, Inggris telah berada di bawah kendali utara Prancis, termasuk Paris, berhasil untuk menegakkan tuntutan Raja di bagian wilayah-wilayah Prancis yang mereka duduki. Prancis Utara kemudian dipimpin oleh soerang Bupati Inggris yang berlokasi di Normandia, untuk Henry VI.

Dengan mengejutkan Charles menyatakan gelar Raja Prancis untuk dirinya sendiri; akan tetapi, oleh keraguan dan rasa putus asa, ia gagal dengan upayanya untuk melempar Inggris keluar. Bahkan ia tetap tinggal di selatan Sungai Loire, di mana ia masih mampu memberikan sejumlah kecil daya, mempertahankan sekeliling istana Lembah Loire di kastil-kastil seperti Chinon, yang lazim dikenal sebagai "Putra Mahkota", atau diejek sebagai "Raja Bourges" (nama yang sama dengan kota di mana biasanya ia tinggal), berkala mengingat penerbangan ke Semenanjung Iberia, dan memungkinkan Inggris untuk memajukan kekuasaannya.

Pembantu Orléans

Akan tetapi pada tahun 1429, terjadi perubahan peristiwa. Orléans terkepung sejak Oktober 1428. Bupati Inggris, Adipati Bedford (paman Henry VI) maju ke Wilayah Adipati Bar, yang dipimpin oleh saudara ipar Charles, René. Para maharaja Prancis dan prajurit yang setia kepada Charles menjadi bertambah putus asa.

Sementara itu, di desa kecil Domrémy, di perbatasan antara Lorraine dan Champagne, seorang gadis remaja yang bernama Jeanne d'Arc, percaya bahwa ia diberikan misi ilahi setelah mendengar suara-suara para malaikat, yang meminta Adipati Lorraine para pasukan dan sumber yang diperlukan untuk membawanya ke Chinon, dan Putra Mahkota. Diberikan pengawalan 5 prajurit veteran dan sepucuk surat penyerahan kepada Charles oleh gubernur Vaucouleurs, Robert Baudricourt, Jeanne berkuda ke Chinon, di mana Charles tinggal, tiba disana pada tanggal 10 Maret 1429.

1429  Wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh Henry VI dari Inggris   Wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh Adipati Burgundia   Wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh Charles   Pertempuran-pertempuran utama   Serangan Inggis tahun 1415   Jalan Jeanne d'Arc ke Reims pada tahun 1429
1429
  Wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh Henry VI dari Inggris
  Wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh Adipati Burgundia
  Wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh Charles
  Pertempuran-pertempuran utama
  Serangan Inggis tahun 1415
  Jalan Jeanne d'Arc ke Reims pada tahun 1429

Apa yang diikuti kemudian akan masuk ke dalam legenda. Ketika Jeanne tiba di Chinon, Charles—menguji pernyataan Jeanne untuk mengenalinya meskipun tidak pernah melihatnya—ia menyamar sebagai salah seorang pelayannya, dan berdiri di tengah-tengah mereka ketika Jeanne (yang juga menyamar dengan pakaian pria) memasuki kamar tersebut. Jeanne, dengan cepat mengenalinya, membungkuk serendah-rendahnya dan memluk lututnya "Tuhan memberikan Anda hidup yang gembira, Raja yang baik!" Meskipun upaya untuk mengklaim bahwa orang lain sebenarnya adalah Raja, Charles akhirnya terpaksa mengakui bahwa ia memang seperti itu. Kemudian Jeanne menyebutnya sebagai "Dauphin" atau "Dauphin yang Lembut" sampai ia dimahkotai di Reims empat bulan kemudian. Setelah percakapan pribadi antara keduanya (selama di mana, Charles kemudian menyatakan Jeanne mengetahui rahasia-rahasia tentangnya yang hanya ia katakan di dalam doanya diam-diam kepada Tuhan) Charles menjadi terinspirasi dan penuh percaya diri. Oleh karena itu, ia merasa aman di dalam niatnya untuk menuntut warisannya dengan melakukan perjalanan ke Reims.

Salah satu dari faktor-faktor penting yang membantu keberhasilan akhir Charles VII adalah dukungan dari keluarga istrinya yang kaya raya dan berkuasa Marie d'Anjou (1404–1463), terutama ibu mertuanya Ratu Yolande dari Aragon. Apapun yang diberikan untuk istrinya, cinta Charles VII yang paling besar adalah untuk gundiknya, Agnès Sorel.

Jeanne d'Arc kemudian bersiap-siap untuk memimpin pasukan Prancis di Orléans, memaksa Inggris untuk mengangkat pengepungan dan membalik gelombang perang. Setelah Prancis memenangkan Pertempuran Patay, Charles dimahkotai sebagai Raja Charles VII dari Prancis pada tanggal 17 Juli 1429, di Katedral Reims sebagai raja de jure.

Jeanne kemudian ditangkap oleh bangsa Burgundia yang menyerahkannya ke Inggris. Mencoba untuk ajaran sesat ia dibakar hidup-hidup di atas tiang pada tanggal 30 Mei 1431. Charles VII tidak berbuat apa-apa terhadap orang yang memiliki andil di dalam meraih takhtanya, meskipun ia mungkin saja dapat merekayasakan kebebasannya.

Charles dan Philip yang Baik, Adipati Burgundia, kemudian menanda tangani Perjanjian Arras, kemudian mengizinkan Burgundia untuk kembali ke sisi Prancis dengan kondisi yang memburuk untuk sekutu-sekutu Inggris mereka. Dengan kejadian ini, Charles mencapai tujuan yang sangat penting, bahwa tidak ada pangeran yang darahnya diakui Henry VI sebagai Raja Prancis.[5]

Lebih dari dua dekade setelah itu, Prancis menangkap kembali Paris dari Inggris dan akhirnya memulihkan seluruh Prancis dengan kecuali pelabuhan utara Calais dan Kepulauan Channel.

Akhir pemerintahan

250px-Charles_VII_Royal_d_Or.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Charles VII Royal d'or.

Tahun-tahun kemudian Charles ditandai oleh meningkatnya kebencian antara dirinya dan pewarisnya, Louis. Louis meminta kekuatan yang sebenarnya untuk meningkatkan posisinya sebagai Putra Mahkota; Charles menolaknya. Oleh karena itu, Louis mencampur aduk pendapat dan membuat rencana untuk mengguncangkan ayahnya. Ia bertengkar dengan gundik ayahnya, Agnès Sorel, pada suatu kesempatan membuatnya membawa pedang yang terhunus ke tempat tidur Charles, menurut suatu sumber. Akhirnya, pada tahun 1446, setelah putra terakhir Charles, yang juga bernama Charles, dilahirkan, Raja memusnahkan Putra Mahkota itu ke Dauphiny. Keduanya tidak pernah bertemu kembali; Louis kemudian menolak permintaan-permintaan Raja bahwa ia kembali ke istana, yang akhirnya melarikan diri ke perlindungan Philip yang Baik, Adipati Burgundia, pada tahun 1456.

250px-Charles_VII_Ecu_neuf_1436.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Charles VII Ecu neuf, 1436.

Pada tahun 1458, Charles jatuh sakit: luka di kakinya (merupakan gejala awam, mungkin Diabetes mellitus atau kondisi lainnya) menolak untuk sembuh, dan infeksi di dalamnya mengakibatkan demam yang serius. Raja memanggil Louis dari pengasingannya di Burgundia; tetapi Putra Mahkota itu menolaknya, dan astrolog digunakan untuk meramalkan jam tepat kematian ayahnya. Raja bertahan hidup sekitar dua setengah tahun lamanya: bertambah sakit, tetapi tidak mau mati. Pada masa ini ia juga harus berhadapan dengan vasalnya yang memberontak John V dari Armagnac.

250px-Charles_VII_Franc_a_cheval_1422_1423.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Charles VII di atas Franc à cheval dari tahun 1422–23

Akan tetapi, akhirnya terjadi sesuatu di bulan Juli 1461 ketika perawat Raja menyatakan bahwa Charles tidak akan hidup melebihi bulan Agustus. Sakit dan letih, Raja menjadi mengigau, diyakinkan bahwa ia dikelilingi oleh para penghianat yang setia hanya pada putranya. Dibawah tekanan sakit dan demam, Raja menjadi marah. Sekarang infeksi lain pada rahangnya telah menyebabkan tumor atau abses di dalam mulutnya; pembengkakan itu menjadi begitu besar sehingga di minggu terakhir hidupnya, Charles tidak bisa menelan makanan atau air. Meskipun ia meminta Putra Mahkota untuk mengunjungi ranjang kematiannya, Louis menolaknya, sebaliknya menantikan ayahnya meninggal di Avesnes, Burgundia. Dengan demikian, di Mehun-sur-Yèvre, diawasi oleh putranya yang lebih muda, Charles, dan sadar akan penghianatan final putranya yang lebih tua, Raja mati kelaparan. Ia wafat pada tanggal 22 Juli 1461, dan dimakamkan di samping orangtuanya Saint-Denis, sesuai dengan permintaannya.

Warisan

250px-L_Adoration_des_Mages.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Charles VII digambarkan oleh Jean Fouquet sebagai satu dari tiga penyihir.

Meskipun warisan Charles VII jauh dibayangi oleh perbuatan dan akhirnya kesyahidan Jeanne d'Arc, ia sendiri juga bertanggung jawab untuk keberhasilan yang tidak pernah terjadi sebelumnya di dalam sejarah Kerajaan Prancis. Ketika ia wafat, Prancis mengendalikan wilayah-wilayah yang secara tradisional dipimpin oleh Inggris dan memiliki tentara yang mandiri pertama-tama, yang saat itu menghasilkan polisi yang kuat perusahaan-perusahaan kavaleri, terutama di dalam perang-perang abad ke-16. Ia juga mendirikan Universitas Poitiers pada tahun 1432, dan kebijakan-kebijakannya membawa sejumlah kemakmuran ekonomi kepada rakyatnya. Pemerintahannya sebagai seorang monarki pada saat itu ditandai oleh keraguan dan kelambanan, dan tahun-tahun terakhirnya ditanai dengan permusuhan antara dirinya sendiri dengan putranya yang lebih tua. Meskipun demikian, ia berjasa dengan meninggalkan kerajaannya dalam kondisi yang lebih baik daripada pada saat ia menemukannya.

Keturunan

Charles menikahi sepupu keduanya Marie dari Anjou pada tanggal 18 Desember 1422. Mereka keduanya adalah cucu buyut Raja John II dari Prancis dan istri pertamanya Bonne dari Bohemia melalui garis keturunan laki-laki. Mereka memiliki 14 orang anak:

Para gundiknya

Charles VII di dalam kesenian

Sumber

  • Hanawalt, Barbara, The Middle Ages: An Illustrated History
  • Taylor, Aline, Isabel of Burgundy

Lihat pula

Referensi dan catatan

  1. ↑ Wagner, John A., Encyclopedia of the Hundred Years War, (Greenwood Press:Westport, 2006), 89.
  2. ↑ Charles Cawley, Medieval Lands, France, Capetian Kings[halaman dibutuhkan]
  3. ↑ Wagner, 89.
  4. ↑ Wagner, 90.
  5. ↑ Brady, Thomas A., Handbook of European History 1400-1600, Vol.2, (E.J.Brill:Leiden, 1994), 373.
  6. ↑ http://fmg.ac/Projects/MedLands/CAPET.htm#_Toc154137017

Silsilah

Silsilah Charles VII dari Prancis
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
16. Philip VI dari Prancis
 
 
 
 
 
 
 
8. John II dari Prancis
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
17. Joan dari Burgundia
 
 
 
 
 
 
 
4. Charles V dari Prancis
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
18. John dari Luksemburg, Raja Bohemia
 
 
 
 
 
 
 
9. Bonne dari Luksemburg dan Bohemia
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
19. Elisabeth dari Bohemia
 
 
 
 
 
 
 
2. Charles VI dari Prancis
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
20. Louis I, Adipati Bourbon
 
 
 
 
 
 
 
10. Peter I, Adipati Bourbon
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
21. Mary dari Avesnes
 
 
 
 
 
 
 
5. Jeanne dari Bourbon
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
22. Charles dari Valois
 
 
 
 
 
 
 
11. Isabelle dari Valois
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
23. Mahaut dari Châtillon
 
 
 
 
 
 
 
1. Charles VII dari Prancis
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
24. Louis IV, Kaisar Romawi Suci
 
 
 
 
 
 
 
12. Stephen II, Adipati Bayern
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
25. Beatrix dari Silesia-Glogau
 
 
 
 
 
 
 
6. Stephen III, Adipati Bayern
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
26. Frederick III dari Sisilia
 
 
 
 
 
 
 
13. Elisabeth dari Sisilia
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
27. Eleanor dari Anjou
 
 
 
 
 
 
 
3. Isabella dari Bavaria-Ingolstadt
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
28. Stefano Visconti
 
 
 
 
 
 
 
14. Bernabò Visconti
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
29. Valentina Doria
 
 
 
 
 
 
 
7. Taddea Visconti
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
30. Mastino II della Scala
 
 
 
 
 
 
 
15. Beatrice Regina della Scala
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
31. Taddea da Carrara
 
 
 
 
 
 
Charles VII dari Prancis
Cabang kadet Wangsa Kapetia
Lahir: 22 Februari 1403 Meninggal: 22 Juli 1461
Gelar
Didahului oleh:
Charles VI
Raja Prancis
1422–1461
Sengketa dengan Henry VI dari Inggris
1422–1453
Diteruskan oleh:
Louis XI
Bernama Francia sejak 481 hingga 843, Francia Barat sejak 843 hingga 987, dan Prancis sejak 987
Bergelar Presiden Republik sejak 1871, kecuali sejak 1940 hingga 1944 (Kepala Negara) dan 1944 hingga 1947 (Kepala Pemerintahan Sementara)
Silsilah keluarga kerajaan (terperinci) | Silsilah keluarga kerajaan (sederhana) | Daftar Presiden Prancis
Meroving (486–751)
Wangsa Karoling
Kekaisaran Karoling (751–987)
Wangsa Kapetia (987–1328)
Wangsa Valois (1328–1589)
Wangsa Lancaster (1422–1453)
Wangsa Bourbon (1589–1792)
Republik Pertama (1792–1804)
Kekaisaran Pertama (1804–1815)
Restorasi Bourbon (1815–1830)
Monarki Juli (1830–1848)
Republik Kedua (1848–1852)
Kekaisaran Kedua (1852–1870)
Pemerintahan Pertahanan Nasional (1870–1871)
Republik Ketiga (1871–1940)
Prancis Vichy (1940–1944)
Pemerintahan Sementara (1944–1947)
Republik Keempat (1947–1958)
Republik Kelima (1958–sekarang)
Yang dicetak miring adalah penguasa yang diperdebatkan atau pemerintahan interim
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan