Selasa, 22 September 2026
22:58 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Betis

Betis

250px-Sb_calf.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambar betis manusia

Dalam anatomi manusia, betis adalah bagian belakang bawah dari tungkai. Dalam sistem otot, betis berhubungan dengan ruangan belakang tungkai.[1] Dalam ruangan belakang tersebut, dua otot terbesar yang dikenal sebagai otot betis, menempel pada tumit melalui tendon Achilles. Beberapa otot lainnya yang lebih kecil menempel pada lutut, pergelangan kaki, dan jari-jari kaki.

Sejarah

Dalam kajian sejarah antropologi, ketiadaan betis, dalam artian tungkai yang pendek tanpa otot betis yang menonjol, dipandang oleh beberapa penulis sebagai tanda inferioritas: kera lazim diketahui tidak memiliki betis, dan mereka hadir sebagai mamalia berderajat rendah.[2]

Anatomi dan patologi

250px-Gray440_color.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penampang melintang tungkai kiri bawah, melalui betis, menunjukkan 3 kompartemen: bagian depan di kiri-atas; samping di kiri-tengah; belakang-dalam di tengah; dan belakang-luar di kanan-bawah.

Di antara berbagai macam simtoma, penyakit yang menimbulkan bengkaknya betis adalah sindrom kompartemen[3][4] pada trombosis vena dalam,[5] pecahnya tendon Achilles, dan varises vena.

Kram tungkai yang bersifat idiopatik adalah hal yang lazim dan biasanya memengaruhi otot betis pada malam hari.[6] Sembap juga merupakan hal yang lazim dan sering kali bersifat idiopatik. Dalam sebuah penelitian kecil terhadap sekelompok buruh pabrik yang sehat, penggunaan kaus kaki membantu mengurangi risiko sembap dan nyeri yang bertalian dengan sembap.[7] Sebuah penelitian kecil menunjukkan bahwa penggunaan kaus kaki ketat selutut mampu menaikkan kinerja pelari.[8]

Ukuran lingkar betis telah digunakan untuk menaksir risiko kesehatan tertentu. Di Spanyol, sebuah penelitian yang melibatkan 22.000 orang yang berusia 65 tahun atau lebih berhasil menemukan bahwa "semakin ramping lingkar betis, semakin besarlah risiko kekurangan gizi".[9] Di Prancis, sebuah penelitian yang melibatkan 6.265 orang yang berusia 65 tahun atau lebih tua telah berhasil menemukan hubungan kebalikan antara lingkar betis dan ukuran lempeng pembuluh nadi di kepala.[10]

Pengubahan ukuran betis dan pengembaliannya kepada wujud semula adalah tersedia, yakni melibatkan beberapa perangkat prostesis dan teknik bedah.

Lihat pula

Pustaka

  • (Polandia) Anatomia i fizjologia człowieka, Aleksander Michajlik, Witold Ramotowski; wyd. V, Warszawa 2006; ISBN 83-200-3448-5

Referensi

  1. ParkeR, sYBIL, p (1984). McGraw-Hill Dictionary of Biology. McGraw-Hill Company.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. Maria Montessori (1913). Pedagogical anthropology. Frederic Taber Cooper. Frederick A. Stokes Company. hlm. 508. halaman 311
  3. Drey IA, Baruch H (Februari 2008). "Sindrom kompartemen akut pada betis setelah posisi dekubitus berkepanjangan". Orthopedics. 31 (2): 184. PMID 19292184.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. Hartgens F, Hoogeveen AR, Brink PR (Agustus 2008). "[Atlet dengan nyeri akibat latihan pada bagian tengah tungkai bawah]". Nederlands Tijdschrift Voor Geneeskunde (dalam bahasa Dutch; Flemish). 152 (33): 1839–43. PMID 18783163.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. David Simel, Drummond Rennie, Robert Hayward, Sheri A. Keitz (2008). Pemeriksaan klinis rasional: Diagnosis klinis berdasarkan bukti. McGraw-Hill Professional. hlm. 500. ISBN 0-07-159030-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) halaman 229
  6. Young G (2009). "Kram tungkai". Bukti Klinis. 2009. PMID 19445755.
  7. Blättler W, Kreis N, Lun B, Winiger J, Amsler F (2008). "Simtoma tungkai pada orang yang sehat dan perawatan terhadapnya dengan kaus kaki ketat". Phlebology / Venous Forum of the Royal Society of Medicine. 23 (5): 214–21. doi:10.1258/phleb.2008.008014. PMID 18806203.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  8. Kemmler W, von Stengel S, Köckritz C, Mayhew J, Wassermann A, Zapf J (Januari 2009). "Dampak kaus kaki ketat terhadap kinerja pelari". Journal of Strength and Conditioning Research / National Strength & Conditioning Association. 23 (1): 101–5. doi:10.1519/JSC.0b013e31818eaef3. PMID 19057400.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. Cuervo M, Ansorena D, García A, González Martínez MA, Astiasarán I, Martínez JA (2009). "[Pengukuran lingkar betis sebagai indikator risiko kekurangan gizi pada manusia lanjut usia]". Nutrición Hospitalaria : Organo Oficial De La Sociedad Española De Nutrición Parenteral Y Enteral (dalam bahasa Spanish; Castilian). 24 (1): 63–7. PMID 19266115.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  10. Debette S, Leone N, Courbon D, Gariépy J, Tzourio C, Dartigues JF, Ritchie K, Alpérovitch A, Ducimetière P, Amouyel P, Zureik M (November 2008). "Lingkar betis berbanding terbalik dengan ukuran lempeng pembuluh nadi di kepala". Stroke; a Journal of Cerebral Circulation. 39 (11): 2958–65. doi:10.1161/STROKEAHA.108.520106. PMID 18703804.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan