Jumat, 16 Oktober 2026
00:50 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Beludak Fea

Beludak Fea

Bagikan:
Azemiopinae
250px-Azemiops_feae.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Subfilum:
Kelas:
Ordo:
Subordo:
Famili:
Subfamili:
Azemiopinae

Liem, Marx & Rabb, 1971
Genus:
Azemiops

Boulenger, 1888
Spesies
Artikel takson sembarang

Beludak Fea (Anak suku Azemiopinae) adalah beludak primitif yang endemik di dataran Tiongkok Tenggara. Anak suku ini terdiri dari satu genus yakni Azemiops dan dua spesies yakni A. feae dan A. kharini.[2] Sejauh ini masih terdiri dari 2 jenis, belum ada jenis baru ataupun anak jenis yang diketahui.[3][4] Nama umum ular ini dalam bahasa inggris adalah Fea's viper atau Fea's adder.[4]

Deskripsi

Ular yang tidak terlalu besar, panjangnya mencapai 1 meter. Tidak seperti beludak pada umumnya, yang berbadan gemuk dan kepala ditutupi sisik kecil yang tidak beraturan (asimetris), ular ini justru berbadan ramping dan kepala ditutupi sisik-sisik besar dan mengkilap seperti sisik kepala ular kolubrid atau elapid. Taring ular ini panjang seperti taring beludak pada umumnya tetapi tidak dilapisi daging yang tidak tebal, sangat mirip seperti yang dimiliki oleh aspis plastisin (Atractaspis sp.) yang terdapat di Afrika.[4]

Sisik dorsal berjumlah 17 baris di bagian tengah. Sisi ventral 180 dan subklaudal 40. Sisik internasal bersinggungan dengan prefrontal. Sisik frontal dan supraokular besar dan agak panjang, juga sisik pariental. Sisik wajah (loreal) berbentuk segilima beraturan. Terdapat 3 sisik preokular dan 2 sisik postokular, serta 7 sisik labial.[5] Warna tubuh ungu kelabu cerah dengan belang-belang berwarna oranye cerah. Belang oranye lebih sempit dari belang ungu. Kepala berwarna oranye.[4]

Habitat dan kebiasaan

Biasanya hidup di dataran rendah dan dataran tinggi. Namun ada juga ular tangguh yang hidup di pegunungan hingga ketinggian 1000 meter dengan suhu 20-25 °C. Mereka bisa ditemukan di berbagai wilayah ekologi, mulai hutan hingga sekitar pemukiman.[4] Aktif pada malam hari. Ular ini akan segera pergi atau mencari tempat bersembunyi jika merasa terganggu. Jika terpojok, ular ini akan memipihkan badannya, dan terkadang menggoyangkan ekornya, lalu menyerang. Terkadang ular ini menggunakan gigitan hampa alias tidak menyuntikkan bisa sama sekali jika menyerang pengganggunya. Mangsa ular ini adalah mamalia kecil.[4]

Penyebaran

Tersebar di dataran Vietnam utara, Tiongkok tenggara, Tiongkok selatan (Fujian, Guangxi, Jiangxi, Guizhou, Sichuan, Yunnan, Zhejiang), Myanmar utara, dan Tibet tenggara. Lokasi sampel yang dideskripsikan adalah "Kachien Hills", Myanmar.

Referensi

  1. ↑ Lau, M. & Rao, D.-q. (2012). "Azemiops feae". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.2. International Union for Conservation of Nature. Diakses tanggal 3 Juni 2013. {{cite web}}: |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosongs: |last-author-amp= and |authors=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Species New to Science: [Herpetology • 2013] Azemiops kharini | White-head Burmese Viper • On the Taxonomy and the Distribution of Snakes of the Genus Azemiops Boulenger, ...
  3. ↑ "Azemiops feae". Integrated Taxonomic Information System. Diakses tanggal 23 Agustus 2006.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 4 5 6 Mallow D, Ludwig D, Nilson G. 2003. True Vipers: Natural History and Toxinology of Old World Vipers. Krieger Publishing Company. 359 pp. ISBN 0-89464-877-2.
  5. ↑ Boulenger, GA. 1896. pp. 470-471.

Sumber bacaan lain

  • Boulenger GA. 1888. An account of the reptilia obtained in Burma, north of Tenasserium, by M[onsieur]. L. Fea, of the Genoa Civic Museum. Annali del Museo Civico di Storia Naturale di Genova (2) 6: 593-604 [602].
  • Boulenger GA. 1893-1896. Catalogue of the Snakes in the British Museum (Natural History)., Vol. I. (1893), Containing the families Typhlopidæ, Glauconiidæ, Boidæ, Ilysiidæ, Uropeltidæ, Xenopeltidæ, and Colubridæ Aglyphæ, part. xiii, 448 pp., 28 pls.; Vol. III. (1896), Containing the Colubridæ (Opisthoglyphæ and Proteroglyphæ), Amblycephalidæ, and Viperidæ. xiv, 727 pp., 25 pls. Trustees of the British Museum. London.
  • Liem KF, Marx H, Rabb GB. 1971. The viperid snake Azemiops: Its comparative cephalic anatomy and phylogenic position in relation to Viperinae and Crotalinae. Fieldiana: Zoology. Chicago. 59: 67-126.
  • Kardong KV. 1986. Observations on live Azemiops feae, Fea’s viper. Herpetological Review 17 (4): 81-82.
  • Mara WP. 1993. Venomous Snakes of the World. TFH Publications. 275 pp. ISBN 0-86622-522-6.
  • Marx H, Olechowski TS. 1970. Fea's viper and the common gray shrew: a distribution note on predator and prey. Journal of Mammology 51: 205.
  • Mebs D, Kuch U, Meier J. 1994. Studies on venom and venom apparatus of Feae's viper, Azemiops feae. Toxicon 32 (10): 1275-8.
  • Orlov N. 1997. Viperid snakes (Viperidae Bonaparte, 1840) of Tam-Dao mountain range. Russian Journal of Herpetology 4 (1): 67-74.
  • Zhao R, Er-Mi TH, Zhao G. 1981. Notes on Fea's viper from China. Acta Herpetologica Sinica 5 (11): 66-71.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan