Jumat, 09 Oktober 2026
08:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Jambu tangkalak

Jambu tangkalak

Bagikan:
Jambu Tangkalak
250px-Belluc_axinan_Fr_071205-2187_stgd.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ranting jambu tangkalak yang berbuah,
Darmaga, Bogor, Jawa Barat
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Melastomataceae
Genus: Bellucia
Spesies:
B. axinanthera
Nama binomial
Bellucia axinanthera
Triana, 1871
Lua error in mw.lua at line 656: invalid value (nil) at index 1 in table for 'concat'.
Sinonim

Bellucia pentamera Naudin, 1850
Bellucia costaricensis Cogn., 1891

Jambu tangkalak adalah nama sejenis pohon buah anggota suku senggani (Melastomataceae). Di Jawa Barat, buah ini juga dikenal sebagai jamolok, harendong gede, harendong raja, atau secara umum dikenal sebagai harendong.

Dalam bahasa Spanyol dikenal sebagai guayabilla atau pera. Sementara nama ilmiahnya adalah Bellucia axinanthera dengan sinonim Bellucia pentamera.

Pemerian botanis

250px-Belluc_axinan_T_071204-2102_stgd.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pohon, tinggi 8 meter.
250px-Belluc_axinan_F_071204-2131_stgd.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bunga dan buah yang muda

Perdu tegak, 3-5(-8) m tingginya. Berbatang kurus tinggi, berbonggol-bonggol, gemang umumnya kurang dari 20 cm, kulit batang coklat keabu-abuan sampai kehitaman, beralur atau memecah dangkal. Bertajuk renggang dengan cabang dan ranting yang ramping dan melengkung, membentuk payung.

Daun tunggal terletak berhadapan, bertangkai panjang 2-7 cm. Lembaran daun besar-besar dan lebar, hingga 35 x 25 cm, dengan 5 tulang daun sejajar dan melengkung (curvinervis) khas Melastomataceae, 2 di antaranya intramarginal; pertulangan menonjol di sebelah bawah. Pangkal daun bentuk baji dan ujungnya meruncing, tepi daun bergerigi kecil, tampak jelas pada daun yang muda. Sisi atas gundul, hijau muda sampai agak tua, sisi bawah sedikit berbulu pada pertulangannya dan berwarna agak keputihan.

Karangan bunga bentuk payung menggarpu, berisi (1-)3-12 kuntum, muncul di batang (cauliflory), ranting tak berdaun, atau di ketiak.[2] Bunga berbilangan 5-7, harum. Tabung kelopak serupa lonceng serupa periuk berukuran lk. 14 x 20 mm, taju kelopak bentuk segitiga, 6 x 7 mm, hijau muda berbintil dan berbintik halus. Daun mahkota putih, bertaju membengkok dan berparuh kecil, 20 x 13 mm, pada akhirnya coklat kemerah-jambuan. Benang sari 2x jumlah daun mahkota, bertangkai 8-10 mm, dengan kepala sari yang besar dan membengkok serupa sabit, panjang lk. 9 mm, kuning, tegak berbaris rapat-rapat membentuk lingkaran. Tangkai putik sekitar 22 mm, dengan kepala putih yang beralur-alur radial, tinggi 2 mm dan diameter 4 mm, muncul sedikit di atas barisan kepala sari.

Buah buni berbentuk bulat seperti periuk bermahkotakan taju kelopak yang berdaging, tinggi 2-3,5 cm dan diameter 2,5-4 cm, berwarna kuning gading. Daging buah keputihan dan banyak mengandung sari buah, kurang beraroma, manis asam dengan rasa mirip jambu biji, mudah menjadi kecoklatan karena teroksidasi, berbiji banyak dan kecil-kecil.

Asal usul, penyebaran dan kegunaan

250px-Belluc_axinan_T_071205-2180_stgd.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tajuk jamolok

Jambu tangkalak diperkirakan didatangkan dari Costa Rica dengan maksud untuk dimanfaatkan buahnya. Pohon ini lekas tumbuh, dan pada usia setahun telah dapat berbuah asalkan memperoleh sinar matahari secara cukup.[3] Cocok dengan iklim di Indonesia, tumbuhan ini lantas menyebar dan meluas ke mana-mana. Mungkin pula pernah ditanam di beberapa tempat sebagai tanaman penutup tanah, untuk mencegah erosi. Pada tempat-tempat yang sesuai, jambu tangkalak segera meliar menjadi gulma yang mendominasi lapisan bawah hutan sekunder. Gulma ini banyak didapati misalnya di Bogor, Sukabumi, Sumsel, Jambi dan Kalbar.

Buahnya disukai hewan-hewan pemakan buah (frugivora) seperti musang, bajing, monyet dan pelbagai jenis burung. Sekaligus hewan-hewan ini bertindak sebagai pemencar bijinya.

Di Bogor, daun jambu tangkalak yang lebar-lebar dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan tatkala kenduri; sementara kayunya digunakan sebagai kayu api.

Referensi

  1. ↑ IUCN Detail 146790294
  2. ↑ Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2. Hal. 415.
  3. ↑ Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 1537.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Bellucia axinanthera.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan