Rabu, 23 September 2026
14:03 WIB
TERKINI
Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Kolom Sidang Mahkamah Konstitusi Uji Materi UU Kesehatan, Perlindungan Dokter Jadi Sorotan Politik Pendidikan Gibran di UTS Insearch Australia Dipermasalahkan dalam PHPU Regional Kembalinya Bechi ke Ponpes Picu Kekhawatiran, Bapas Diminta Awasi Ketat Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Kolom Sidang Mahkamah Konstitusi Uji Materi UU Kesehatan, Perlindungan Dokter Jadi Sorotan Politik Pendidikan Gibran di UTS Insearch Australia Dipermasalahkan dalam PHPU Regional Kembalinya Bechi ke Ponpes Picu Kekhawatiran, Bapas Diminta Awasi Ketat
Bambu ater

Bambu ater

sejenis bambu untuk perkakas dan alat musik

Bambu Ater
250px-Gigantoc_atter_150527-51549_magt.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bambu jåwå, Gigantochloa atter
dari Sumber Gangging, Sidomulyo, Sidorejo, Magetan
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monocots
Klad: Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Gigantochloa
Spesies:
G. atter
Nama binomial
Gigantochloa atter
Sinonim
  • Bambusa thouarsii var. atter Hassk.[4] (basionym)
  • Bambusa atter Kurz (nom.inval.)

Sumber: The Plant List[5]

Bambu ater[6] atau buluh jawa (Gigantochloa atter) merupakan jenis bambu yang tersebar luas di Indonesia dan Asia Tenggara. Bambu ini banyak dipakai sebagai bahan bangunan dan peralatan rumah tangga. Nama-nama lokalnya antara lain, awi ater, awi temen (Sd.); pring legi, pring jåwå, dĕling jawi (Jw.); perrèng kèles (Md.); au loto (Gal.); tabadiku tui (Ternate); buluh jawa (umumnya di Indonesia timur), dan buluh dabuk (di Palembang).[7][8][9] Dalam bahasa Inggris ia disebut giant atter atau sweet bamboo,[10] sementara dalam bahasa Tagalog dikenal sebagai kayali.[8]

Pengenalan

250px-Gigantoc_atter_150527-51559_magt.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pangkal rumpun buluh

Bambu yang merumpun, padat dan tegak. Rebungnya hijau hingga keunguan, tertutup oleh bulu-bulu miang berwarna hitam. Buluhnya lurus, mencapai tinggi 22(-25) m; garis tengahnya 5-10 cm dan ruas-ruasnya sepanjang 40–50 cm, tebal dinding buluh lk. 8 mm; hijau, hijau tua hingga hijau kebiruan, dengan lampang berupa cincin berwarna pucat pada buku-bukunya; buku-buku dekat tanah dengan sedikit akar udara. Percabangan muncul tinggi, lk. 2–3 m di atas tanah.[8][9]

Pelepah buluh mudah rontok, kecuali mungkin yang terbawah; menyegitiga sempit dengan ujung terpangkas, panjang lk. 21–36 cm, berbulu miang berwarna hitam pada sisi luarnya. Daun pelepah buluh bentuk lanset atau menyegitiga dengan pangkal menyempit, lk. 10 × 3 cm, terkeluk balik. Kuping pelepah membulat hingga membulat dengan ujung sedikit melengkung keluar, lebar 6–9 mm dan tinggi 3–7 mm, dengan bulu kejur 4–6 mm; ligula (lidah-lidah) menggerigi, tinggi 3–6 mm, lokos.[8][9]

Daun pada ranting bentuk lanset lonjong, 20-49 × 3–9 cm, lokos; kuping pelepah kecil, 2 × 1 mm, lokos; ligula rata, tinggi lk. 2–4 mm, lokos.[8]

Perbungaan berupa malai pada ranting yang berdaun, dengan kelompok-kelompok hingga 35 spikelet pada masing masing bukunya. Spikelet bentuk lanset bulat telur, 9-12 × 3–4 mm, berisi 4 floret yang sempurna dan satu floret ujung yang tak sempurna.[8]

Agihan dan ekologi

Bambu ater menyebar luas di wilayah Asia tropis: Indocina, kawasan Malesia dan Papuasia,[11] tetapi asal-usulnya tidak diketahui dengan pasti.[8] Bambu ini banyak ditanam orang di wilayah perdesaan Jawa, tetapi di luar Jawa kebanyakan tumbuh liar. Bambu ater dibudidayakan di Filipina (Davao) dan Brunei, dan mungkin pula di Sarawak.[8]

Bambu ini terutama hidup di wilayah tropis yang lembap, dari ketinggian muka laut hingga 1.400 m dpl. Ia terutama tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan di atas 2.500 mm pertahun, akan tetapi tak sebagaimana jenis-jenis Gigantochloa lainnya, bambu ater sanggup tumbuh di tempat-tempat yang lebih kering dengan curah hujan sekitar 1.000 mm pertahun. Bambu ater menyukai tanah latosol, tetapi dapat pula ditanam di atas tanah-tanah aluvial, berkapur, dan tanah lempung berpasir.[8]

Manfaat

Bambu ater terutama dimanfaatkan sebagai bahan bangunan: rangka rumah, dinding, pagar; dan juga untuk membuat perlengkapan rumah tangga seperti balai-balai, furnitur, serta alat-alat masak.[8] Bambu ini baik pula untuk membuat alat-alat musik tradisional seperti calung dan angklung.[9] Penggunaan lainnya adalah sebagai galah penjemur, tangkai sapu,[7] dan juga penopang tandan pisang.[8] Buluhnya juga dimanfaatkan sebagai bahan anyaman (untuk keranjang dll.), serta untuk membuat sumpit, tusuk sate, tusuk gigi, dan sebagainya.[8]

Rebungnya disukai sebagai sayuran, dan dikatakan bahwa rasanya tidak kalah dengan rebung bambu betung (Dendrocalamus asper).[7][8]

Kerabat dekat

Sebelumnya Gigantochloa atter tergabung ke dalam satu jenis besar G. verticillata Willd., bersama-sama dengan G. atroviolacea Widjaja (bambu hitam), G. pseudoarundinacea (Steudel) Widjaja (bambu gombong), dan G. robusta Kurz (bambu mayan). Kini masing-masing jenis itu dianggap sebagai spesies yang tersendiri.[8]

Referensi

  1. Kurz, S. 1864. "Korte schets der vegetatie van het eiland Bangka." Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch Indië Deel 27: 226. Batavia :Lange [1851-...]
  2. Colonel Munro. 1868. "A monograph of the Bambusaceae, including descriptions of all of the species." Transactions of the Linnean Society of London vol. 26: 125. London :[The Society], 1791-1875.
  3. Ohrnberger, D. 1999. The Bamboos of the World: Annotated Nomenclature and Literature of the Species and the Higher and Lower Taxa: 297-8 Amsterdam :Elsevier.
  4. Hasskarl, J.K. 1848. Plantae javanicae rariores, adjectis nonnullis exoticis, in Javae hortis cultis descriptae: 41. Berolini :Sumptibus A. Foerstner.
  5. The Plant List: Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz
  6. KBBI daring: bambu
  7. 1 2 3 Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I: 338-41. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda -1922- I: 281-4.)
  8. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Rifai, M.A. 1995. "Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz" Diarsipkan 2016-08-18 di Wayback Machine. in Soejatmi Dransfield & E.A. Widjaja (Eds). Plant Resources of South-East Asia No. 7 Bamboos: 100-2. Bogor:PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. [Internet] Record from Proseabase. Accessed 20-Apr-2016
  9. 1 2 3 4 Widjaja, E.A. 2001. Identikit jenis-jenis bambu di Jawa: 50-53. Gb. 17 dan L.f. 17. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.
  10. Guadua Bamboo: Gigantochloa atter Diarsipkan 2016-04-28 di Wayback Machine.
  11. GrassBase: Gigantochloa atter

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Gigantochloa atter.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan