Minggu, 04 Oktober 2026
02:41 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Bahaya Kuning

Bagikan:

Bahaya Kuning (juga Teror Kuning, Ancaman Kuning, dan Momok Kuning) adalah sebuah kiasan warna rasis yang menggambarkan suku bangsa Asia Timur dan Asia Tenggara[a] sebagai bahaya terhadap dunia Barat.[1]

Konsep Bahaya Kuning berasal dari "pencitraan inti kera, manusia rendahan, primitif, anak-anak, orang gila dan hal yang menghimpun kekuatan khusus",[2] yang berkembang pada abad ke-19 sebagai ekspansi imperialis Barat yang menganggap orang-orang Asia Timur sebagai Bahaya Kuning.[3][4] Pada akhir abad ke-19, sosiolog Rusia Jacques Novicow mencetuskan istilah tersebut dalam esai "Le Péril Jaune" ("Bahaya Kuning", 1897), yang dipakai oleh Kaiser Wilhelm II (memerintah 1888–1918) untuk mendorong kekaisaran-kekaisaran Eropa untuk menginvasi, menaklukan dan menjajah Tiongkok.[5] Pada akhirnya, dengan memakai ideologi Bahaya Kuning, Kaiser menggambarkan kemenangan Jepang dan Asia melawan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang (1904–1905) sebagai sebuah ancaman rasial untuk orang-orang Eropa Barat kulit putih, dan juga menganggap Tiongkok dan Jepang sebagai sebuah aliansi untuk menaklukan, merrendahkan, dan memperbudak dunia Barat.

Sinologis Wing-Fai Leung menjelaskan cikal bakal istilah dan ideologi rasialis tersebut: "Istilah bahaya kuning (terkadang teror kuning atau momok kuning) ... memadukan kekhawatiran Barat terhadap seks, kekhawatiran rasis terhadap suku bangsa asing lainnya, dan kepercayaan Spenglerian bahwa Barat akan menjadi kalah jumlah dan diperbudak oleh Timur."[6] Akademisi Gina Marchetti mengidentifikasikan bahwa kekhawatiran psiko-budaya Asia Timur "berakar pada abad pertengahan terhadap kekhawatiran Jenghis Khan dan invasi-invasi Eropa oleh Mongol [1236–1291], Bahaya Kuning memadukan teror rasisme terhadap budaya asing, kekhawatiran seksual, dan kepercayaan bahwa Barat akan kalah kuat dan menurun, oleh unsur tak terelakkan, gelap, okultis dari Timur";[7]: 2  sehingga, untuk melawan militerisme kekaisaran Jepang, Barat memperluas ideologi Bahaya Kuning untuk meliputi bangsa Jepang. Selain itu, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, para penulis mengembangkan topos sastra Bahaya kuning menjadi motif rasialis narasi terkodifikasi, khususnya dalam cerita dan novel konflik etnis dalam genre-genre sastra invasi, fiksi petualangan, dan fiksi ilmiah.[8][9]

Catatan

  1. ↑ Odijie, Michael (2018). "The Fear of 'Yellow Peril' and the Emergence of European Federalist Movement". The International History Review. 40 (2): 359. doi:10.1080/07075332.2017.1329751. S2CID 158011865.
  2. ↑ Dower, John W. (1986). War Without Mercy: Race and Power in the Pacific War (dalam bahasa Inggris). New York: Pantheon. hlm. 3–13. ISBN 978-0394751726.
  3. ↑ Yang, Tim (19 Februari 2004). "The Malleable Yet Undying Nature of the Yellow Peril". Dartmouth College. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Januari 2015. Diakses tanggal 18 Desember 2014.
  4. ↑ Dower, John. "Patterns of a Race War" pp. 283–287, in Yellow Peril! An Archive of Anti-Asian Fear, John Kuo Wei Tchen & Dylan Yeats, Eds. London: Verso, 2014 pp. 285–286.
  5. ↑ John Röhl. The Kaiser and His Court: Wilhelm II and the Government of Germany, Cambridge University Press, 1994. p. 203.
  6. ↑ Leung, Wing Fai (16 Agustus 2014). "Perceptions of the East – Yellow Peril: An Archive of Anti-Asian Fear". The Irish Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2014. Diakses tanggal 4 Januari 2015.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Marchetti, Gina (1994). Romance and the "Yellow Peril": Race, Sex, and Discursive Strategies in Hollywood Fiction. University of California Press. ISBN 978-0520914629.
  8. ↑ Iannuzzi, Giulia (2017). The Cruel Imagination: Oriental Tortures from a Future Past in Albert Robida's Illustrations for La Guerre infernale (1908). Edizioni Università di Trieste. ISBN 978-8883038426. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2019. Diakses tanggal 2019-04-06.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ A Handbook to Literature, 4th ed. (1980), C. Hugh Holman, Ed., pp. 444–445, 278–279.

Publikasi

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Yellow Peril.
  1. ↑ Juga dikenal sebagai Timur Jauh.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan