Minggu, 27 September 2026
18:04 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Bahasa bunga

Bahasa bunga

250px-%27Language_of_Flowers%27_by_Alphonse_Mucha.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Litograf berwarna Langage des Fleurs (Bahasa Bunga) karya Alphonse Mucha (1900)

Floriografi (bahasa bunga) adalah bentuk komunikasi tersandi melalui penggunaan atau pengaturan bunga. Pemberian makna pada bunga telah dikenal selama ribuan tahun, dan berbagai bentuk floriografi telah dipraktikkan dalam kebudayaan tradisional di Eropa, Asia, serta Afrika.

Sejarah

Bagian ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Bahasa bunga" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
250px-Floral_poetry_and_the_language_of_flowers_%281877%29_%2814782868105%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi dari Floral Poetry and the Language of Flowers (1877)

Menurut Jayne Alcock, pengawas taman dan kebun di Walled Gardens of Cannington, kebangkitan minat masyarakat era Victoria terhadap bahasa bunga berakar dari tradisi Kekaisaran Utsmaniyah, khususnya di istana Konstantinopel,[1] yang kala itu diliputi oleh kegemaran besar terhadap bunga tulip pada paruh pertama abad ke-18. Jauh sebelumnya, pada abad ke-14, tradisi Turki bernama sélam telah memberi pengaruh terhadap konsep bahasa bunga. Sélam merupakan permainan saling memberi bunga dan benda kecil sebagai pesan simbolik, di mana makna pesan tersebut diungkapkan melalui sajak atau rima.[2]

Pada era Victoria, penggunaan bunga sebagai sarana komunikasi rahasia berkembang seiring meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap botani. Gelombang floriografi ini diperkenalkan ke Eropa oleh seorang wanita Inggris, Mary Wortley Montagu (1689–1762), yang membawa gagasan tersebut ke Inggris pada tahun 1717, dan oleh Aubry de La Mottraye (1674–1743), yang memperkenalkannya ke istana Swedia pada tahun 1727. Karya Joseph Hammer-Purgstall berjudul Dictionnaire du langage des fleurs (1809) tampaknya merupakan daftar pertama yang mengaitkan bunga dengan makna simbolis, sedangkan kamus floriografi pertama diterbitkan pada tahun 1819 melalui karya Louise Cortambert, yang menulis dengan nama pena Madame Charlotte de la Tour, berjudul Le langage des Fleurs.

Pada abad ke-19, ketertarikan terhadap floriografi meningkat, terutama pada era Victoria. Berbagai buku panduan mengenai bahasa bunga kemudian diterbitkan untuk membantu masyarakat memahami makna simbolis bunga. Salah satunya adalah Language of Flowers karya Kate Greenaway yang diterbitkan pada 1884.[3] Language of Flowers karya Greenaway disusun seperti kamus bergambar yang memuat ilustrasi bunga berwarna. Buku tersebut membantu pembaca memahami makna simbolis bunga dan menggunakannya untuk menyampaikan pesan, termasuk melalui kartu Valentine. Makna simbolis bunga tidak selalu seragam karena terdapat berbagai daftar dan panduan floriografi. Pada era Victoria, beberapa glosarium bunga beredar dan dapat memberikan makna yang berbeda terhadap bunga tertentu.[4]

Referensi

  1. ↑ "The Language of Flowers". Bridgwater College. 12 Februari 2016. Diakses tanggal 29 Maret 2016.
  2. ↑ "Decoding Love: The Language of Flowers". Tonya Mitchell (dalam bahasa Inggris). 18 Mei 2020. Diakses tanggal 6 Maret 2024.
  3. ↑ Rosin, Nancy (2026-02-13). ""A Rose by Any Other Name" Missives of love and the secret language of flowers". Diakses tanggal 2026-09-20.
  4. ↑ McNish, Kathleen Golden and Brett. "Before Memorial Day, Learn the Language of Flowers". www.smithsonianmag.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-09-19.
Ikon rintisan

Artikel bertopik umum ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Jika Anda melihat halaman yang menggunakan templat {{stub}} ini, mohon gantikan dengan templat rintisan yang lebih spesifik.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan