Minggu, 18 Oktober 2026
05:02 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Kupu-kupu gajah

Kupu-kupu gajah

Ngengat bertubuh besar berwarna kecokelatan

Bagikan:
Kupu-kupu Gajah
330px-Attac_atla_070416-3789_ltn.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kupu-kupu gajah, Attacus atlas
dari Situgede, Bogor
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
A. atlas
Nama binomial
Attacus atlas
250px-Attacus_atlas_distribution.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Agihan kupu-kupu gajah (merah)
Sinonim
  • Phalaena atlas Linnaeus, 1758[1]
Artikel takson sembarang

Kupu-kupu gajah (Attacus atlas) adalah sejenis ngengat bertubuh besar yang menyebar luas di wilayah tropika dan subtropika Asia Tenggara; umum ditemukan di Kepulauan Nusantara.[2] Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai Atlas moth.

Kupu-kupu gajah kerap dianggap sebagai ngengat yang terbesar di dunia,[3] khususnya terkait luas permukaan sayap-sayapnya, yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, hingga lebih dari 25 cm (10 in). Ngengat betina ukuran tubuhnya lebih besar dan lebih berat daripada yang jantan.

Attacus atlas merupakan jenis yang bersifat polifagus karena ulat jenis ini dapat memakan 90 genus tanaman dari 48 familia.[4] Sifat polifagus larva A.atlas[4] dikenal masyarakat sebagai hama karena memiliki nafsu makan yang rakus, sehingga dapat mengakibatkan defoliasi tanaman di beberapa tempat dan selama musim tertentu.

Nama

250px-Attacus_atlas_qtl1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ngengat gajah betina

Ngengat ini dinamai kupu-kupu gajah[5] kemungkinan karena ukuran tubuhnya yang besar, seperti halnya gajah. Dalam bahasa asing, disebut ngengat atlas karena dikaitkan dengan tokoh mitologi Atlas; tetapi juga karena pola-pola di sayapnya menyerupai peta (atlas). Jenis ini di Bali disebut kupu-kupu barong, dinamakan seperti itu karena ukurannya yang sangat besar dan coraknya yang menyerupai corak Barong.[6] Dalam bahasa orang Kanton di Hong Kong, namanya berarti "ngengat kepala ular", merujuk pada gambaran di ujung sayap depannya yang mirip kepala ular.[7]

Ulatnya yang bertubuh besar dikenal sebagai ulat keket (Btw.: uler kékét), atau ulat jedung.

250px-Japanese_Biological_Education_Society_in_1959.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Prangko bergambar ngengat gajah dari Jepang

Ukuran

Lepidoptera yang memiliki rentang sayap terlebar sejauh ini adalah Thysania agrippina. Salah satu spesimen kupu-kupu gajah yang terbesar dari Jawa, tercatat memiliki rentang sayap 262 mm, sementara rentang sayap Thysania diklaim sekitar 270–280 mm (11 in).[8]

Manfaat

Ulat keket Attacus atlas menghasilkan benang sutra, yang dijalinnya menjadi kokon untuk melindungi dirinya ketika menjadi kepompong. Sutra yang dihasilkannya, dikenal sebagai sutra liar atau sutra alam, dianggap memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sutra hasil peliharaan ulat Bombyx mori. Kain sutra liar ini lebih sejuk saat dipakai, tahan kusut, antialergi, lebih halus, dan memiliki variasi warna eksklusif.[9] Di India, sutra ulat keket dikenal sebagai fagara.[10]

Ulat keket atau ulat jedung ini juga dapat memakan berbagai jenis daun tumbuhan. Di antaranya, yang biasa dijadikan pakan adalah daun tanaman dadap, gempol, keben, poncosudo, sirsak, avokad, dan senggugu (Clerodendron).[11]

Daur hidup

Holometabolism
250px-Atlas_Moth_EGGS.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-Attacus_atlas_cat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-Attacus_atlas-botanical-garden-of-bern_10.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-EMEMRGING_MOTH.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-Attacus_atlas_London_Zoo_01118-2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Telur Ulat keket Kokon berisi kerpompong Ngengat keluar dari kokon Ngengat dewasa

Catatan kaki

  1. ↑ Linne, C. von. 1758. Systema Naturae. Regnum animale. Editio decima, 1: 495. Lipsiae :Sumptibus Guilielmi Engelmann.
  2. ↑ Holloway, J.D. 1987. The Moths of Borneo, part 3: Lasiocampidae, Eupteroptidae, Bombycidae, Brahmaeidae, Saturniidae, Sphingidae. Southdene Sdn. Bhd., Kuala Lumpur
  3. ↑ Watson, A. & P.E.S. Whalley. 1983. The Dictionary of Butterflies and Moths in colour. Peerage Books, London, England. ISBN 0-907408-62-1
  4. 1 2 Putri, Nofa Yulistiana; Wuliandari, Juli Rochmijati (2023-09-19). "Characteristics Of Attacus atlas Cocon Collected from Tree of Mahoghony (Swietenia mahagoni) in Kembaran District". Jurnal Biologi Tropis (dalam bahasa Inggris). 23 (4): 391–397. doi:10.29303/jbt.v23i4.5512. ISSN 2549-7863.
  5. ↑ KBBI: kupu-kupu
  6. ↑ I Made Prasetia Aryawan (15 November 2018), Kupu-Kupu Barong, Spesies Unik di Bali Butterfly Park yang Sukses Pikat Pengunjung, diakses tanggal 28 Maret 2019{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Yiu, V. 2006. Insecta Hongkongica. Hong Kong Discovery. Kowloon, Hong Kong. 655pp. ISBN 988-97173-9-5
  8. ↑ Hugo Kons, Jr. (1998-05-17). "Chapter 32 — Largest Lepidopteran Wing Span". Book of Insect Records. University of Florida. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-03-02. Diakses tanggal 2014-06-17.
  9. ↑ Fajar, Y. 2011. Karakteristik Filamen Sutera (Attacus atlas) pada Usia Kokon yang Berbeda. abstrak. Skripsi pada Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  10. ↑ Jolly, M.S., S.K. Sen, T.N. Sonwalkar & G.S. Prasad. 1979. Non-mulberry silks. Food & Agriculture Organisation. United Nations, Serv. Bull. 29. Rome. xvii + 178pp
  11. ↑ Indrawan, M. 2007. Karakter Sutera dari Ulat Jedung (Attacus atlas L.) yang Dipelihara pada Tanaman Pakan Senggugu (Clerodendron serratum Spreng). Biodiversitas 8(3): 215-217. (Juli 2007). ISSN: 1412-033X

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Attacus atlas.
Wikispecies logo
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Attacus atlas.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan