Rabu, 07 Oktober 2026
16:50 WIB
TERKINI
Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara
Asep Nata

Asep Nata

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Asep Nata" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Januari 2025)
Asep Nata
330px-Asep_Nata.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir24 Juni 1964 (umur 62)
AlmamaterUniversitas Sumatera Utara
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
PekerjaanEtnomusikolog

Asep Nata (lahir 24 Juni 1964) merupakan seorang etnomusikolog berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan pencipta dari Karinding Towél (KARTO) dan Pelok Song.

Riwayat Hidup

Pada tahun 2001 di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah di Solo menjadi titik awal baginya dalam menemukan formulasi instrumen Lamellaphone yang ia ciptakan: KARTO, yaitu ketika bermain genggong besi bersama I Wayan Sadra, tanpa disadari genggong yang ia mainkan mencedrai giginya. Maka muncul pemikiran untuk mencari alternatif instrumen yang relatif lebih aman, untuk gigi, terutama untuk mengantisipasi jika pemainnya merupakan anak-anak dan orang tua. Dari situ ia mencoba membuka kembali peristiwa-peristiwa yang tersimpan dalam ingatan, catatan-catatan lapangan, dan penelitian lapangan di banyak tempat seperti di Solo, Lombok, beberapa tempat di Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai dosen di perguruan tinggi di Bandung, Asep Nata mempelajari Genggong Sunda (Karinding). Kembali ia menemukan kenyataan bahwa Genggong tradisional ternyata sangat canggih dan rumit cara pembuatannya. Berbekal pengalamannya terutama di bidang ilmu akustik dan organologi, maka pada tahun 2005 ia menciptakan formula genggong baru berbahan bambu atau pelepah aren yang kemudian dinamainya Karinding Towél (KARTO). KARTO merupakan instrumen generik atau ekstrak dari genggong (jews harp) petik tradisional yang dibuat dari bahan bambu atau pelepah aren. Bentuknya lebih sederhana dan cara pembuatannya lebih mudah jika dibandingkan dengan Karinding Tradisional Sunda yang rumit. Penemuan Formula KARTO antara lain: dapat ditala sesuai dengan nada yang diinginkan sehingga, misalnya, satu set KARTO dapat disetel diatonis atau kromatis; KARTO yang menghasilkan bunyi pendek menjadi lebih inovatif karena tuntutan variasi dalam hasil bunyinya; KARTO lebih mudah dibuat siapa saja.[1]

Selain itu, ia juga kembali berinovasi dengan mengolah biji buah mangga menjadi instrumen musik tiup seperti suling. Kreasinya tersebut memanfaatkan limbah biji mangga yang kemudian dikeringkan dan dilubangi. Instrumen itu dinamakan Pelok Song. Pelok dalam bahasa Sunda artinya biji buah mangga. Ide pembuatannya berasal dari obrolan dengan mahasiswa, kemudian mulai dicoba pada November 2016. Kini ada sekitar 20 lebih Pelok Song yang berhasil dibuat.[2]

Referensi


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan