Senin, 21 September 2026
15:28 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Arja

Arja

Arja
250px-Cultural_of_Bali.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertunjukan Arja pada 2020
JenisOpera
Seni pendahuluTeater Bali
Budaya awalIndonesia

Arja adalah semacam opera khas Bali,[1][2] merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Pertunjukan ini menggabungkan unsur seni, musik, sastra, dan teater dalam satu kesatuan etnis yang penuh akna budaya. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat. Nama Arja diduga berasal dari kata Reja (bahasa Sanskerta) yang berarti keindahan.[3][4] Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut "Gaguntangan" yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari.[5][6]

Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820-an, pada masa pemerintahan Raja Klungkung, I Dewa Agung Sakti. Menjelang berakhirnya abad 20 lahirlah Arja Muani, di mana semua pemainnya pria, sebagian memerankan wanita.[4] Kepopuleran teater Arja didorong oleh daya tarik keterlibatan para remaja putri, remaja putra, serta orang dewasa sebagai pelakunya. Di berbagai desa, kelompok Arja setempat berfungsi sebagai wadah hiburan bagi para pemuda dan pemudi di lingkungan tersebut.[1]

Fase

Perkembangan seni pertunjukan Arja dapat dipahami melalui tiga fase penting. Fase pertama ditandai dengan kemunculan Arja Doyong, yaitu bentuk awal Arja yang dimainkan oleh satu orang tanpa iringan gamelan. Fase berikutnya adalah Arja Gaguntangan, yang sudah menggunakan iringan gamelan gaguntangan serta melibatkan lebih dari satu pelaku. Tahap terakhir adalah Arja Gede, yakni bentuk Arja yang berkembang paling kompleks, dibawakan oleh sekitar 10 hingga 15 pelaku, dengan struktur pertunjukan yang telah tersusun baku sebagaimana dikenal hingga saat ini.[3]

Lakon

Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat),[7] kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.[8]

Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing - masing terdiri dari Punta dan Kartala. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif.[3][9]

Referensi

  1. 1 2 Shadily, Hassan; Sitompul, Binsar; Burhan, Firdaus; Suharto, Suharto; Sumaryo, Sumaryo; Sudharsono, Sudharsono; Suwondo, Bambang; Yunus, Ahmad (1979-01-01). Ensiklopedi musik indonesia seri a-e. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 25–27.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. "Babad Bali - Arja". www.babadbali.com. Diakses tanggal 2026-02-04.
  3. 1 2 3 S, Tri Nanang B. (2022-02-10). Sejarah Seni Teater Indonesia. Cv Media Edukasi Creative. hlm. 51–52. ISBN 978-623-5620-28-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. 1 2 Kusnanto (2020-10-22). Sendratari Indonesia. Alprin. hlm. 20–21. ISBN 978-623-263-256-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Refisrul, Sobuwati, Dwi., Galba, Sindu., Suarman, Suarman., & Evawarni, Evawarni. (1996). Wujud, arti dan fungsi puncak-puncak kebudayaan lama dan asli bagi masyarakat pendukungnya: Sumbangan kebudayaan daerah Riau terhadap kebudayaan nasional. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  6. Karisma, Luh Putu Elik Sri; Susianti, Ni Putu Evi; Cahyani, Ni Putu Nilam; Rani, Ni Komang; Oktariani, Ni Putu Gekariska; Suratni, Ni Wayan; Gayatri, Ni Putu Ratna Dewi (2024-10-09). "IDENTIFIKASI PERTUNJUKAN ARJA KERAMAS LAKON DUKUH SILADRI". PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni. 4 (2): 147–159. doi:10.59997/pensi.v4i2.4523. ISSN 2808-7798.
  7. Koes. Arja dan perkembangan seni pertunjukan tradisional. Berkala Arkeologi, Vol. 33, No. 1, Mei 2013. Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,
  8. Prasetya, S. H. B., & Dana, I. W. (Ed.). (2014). Panji dalam berbagai tradisi Nusantara: Prosiding Seminar Tokoh Panji Indonesia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  9. Dibia, I. Wayan (1999). Selayang pandang seni pertunjukan Bali. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. hlm. 43. ISBN 978-979-95773-3-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan