Minggu, 18 Oktober 2026
09:20 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Peluru

Peluru

Bagikan:
250px-Cartridge_cross_section.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Amunisi modern terdiri dari:
1. peluru, yang ditembakkan dengan kecepatan tinggi;
2. selongsong, yang menjadi wadah proyektil peluru dan mesiu;
3. Propelan, misalnya mesiu atau cordite;
4. Rim, bagian bawah dari selongsong;
5. primer, yang menyulut mesiu guna meledakkan/menembakkan proyektil peluru.
250px-7%2C62mm_G3_oder_MG3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peluru (A) dan selongsong peluru utuh (B) pada kaliber 7,62 × 51 mm NATO.

Proyektil peluru, mata peluru, atau anak peluru (peluru atau pelor dari bahasa Portugis: pelouro atau pellouro) adalah proyektil padat yang ditembakkan dari senjata api atau senapan angin, yang terbuat dari logam, umumnya dari timbal. Sebuah proyektil peluru merusak target dengan cara menembusnya dengan energi kinetik yang dihasilkan oleh kecepatannya yang sangat tinggi. Dalam konteks modern, sebuah proyektil peluru bersama dengan selongsong, bubuk mesiu, Rim, dan primer merupakan bagian dari amunisi. Cara kerja saat ditembakkan adalah dengan mendorong proyektil peluru dengan energi kinetik yang dihasilkan ledakan propelan, yang biasanya adalah bubuk mesiu. Bahan peledak ini dinyalakan oleh detonator kecil yang disebut primer.

Kekeliruan bahasa

Masyarakat awam umumnya menyebut rangkaian amunisi secara utuh sebagai "peluru", di mana proyektil peluru, selongsong peluru, propelan, dan primer termasuk di dalam sebuah "peluru". Hal ini sebenarnya salah, karena istilah "peluru" sebenarnya hanya mengacu pada bagian proyektil dari amunisi tersebut, atau "anak pelurunya", bukan keseluruhan dari amunisi tersebut. Istilah lainnya dari bidang senjata roket adalah hulu ledak.

Peluru non-mematikan

Amunisi di mana selongsong tidak berisi propelan atau tidak menggunakan proyektil peluru disebut peluru hampa atau peluru kosong. Saat primer terpukul oleh pin pemicu, hanya akan terdengar suara letusan tanpa adanya proyektil yang ditembakkan senapan.[1]

Terdapat pula jenis peluru yang terbuat dari bahan non-logam untuk mengurangi fungsi mematikannya, seperti peluru karet, peluru kayu, peluru lilin, peluru plastik, dan amunisi biji-bijian. Peluru tidak mematikan mulai digunakan secara luas oleh Pasukan Anti Huru-Hara di seluruh dunia setelah pemerintah Amerika menggunakannya untuk meredakan massa demonstran anti perang Vietnam pada tahun 1960-an.[2]

Galeri foto

  • Proyektil peluru Mauser kaliber 7.92 mm.
    Proyektil peluru Mauser kaliber 7.92 mm.
  • Proyektil peluru dan amunisinya dalam berbagai ukuran
    Proyektil peluru dan amunisinya dalam berbagai ukuran
  • Bentuk peluru sebelum & sesudah di tembakkan.
    Bentuk peluru sebelum & sesudah di tembakkan.
  • Foto gerak lambat peluru dalam laju tembakan
    Foto gerak lambat peluru dalam laju tembakan
  • Peluru senapan angin
  • Peluru senapan lontak

Referensi

Lihat pula

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Bullets.
Video
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan